Sabtu, 22 September 18

Tafdil Husni: Mengutamakan Pengembangan Atmosfir Akademik yang Lebih Baik

Tafdil Husni: Mengutamakan Pengembangan Atmosfir Akademik yang Lebih Baik
* Universitas Andalas (UNAND) Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A. (foto: Edwin B)

Jakarta, Obsessionnews.com – Selama kepemimpinan Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A., Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat, mampu mempertahankan eksistensinya sebagai kampus kluster satu. Penilaian yang prestise dalam pemeringkatan perguruan tinggi. Ia pun terus menggenjot agar Unand semakin berdaya saing, berkelas internasional, dan representatif.

Adalah suatu kebanggaan bagi perguruan tinggi jika masuk dalam klaster satu, karena dengan penilaian itu mengindikasikan reputasi terbaik bagi perguruan tinggi itu sendiri. Karena klaster tersebut dibuat untuk memetakan perguran tinggi di Indonesia berdasarkan 4 komponen utama, yakni Kualitas SDM, Kualitas Kelembagaan, Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan, serta Kualitas Penelitian dan Publikasi Ilmiah. Itulah kenapa Tafdil merasa berbahagia dan bangga ketika Unand tetap bertahan di klaster satu.

“Tahun 2015, Unand masuk Klaster kedua. Alhamdulillah, dua tahun terakhir Unand masuk ke dalam kelompok pertama Perguruan Tinggi di Indonesia dan kami satu-satunya di Sumatera serta salah dua di luar Pulau Jawa,” ungkap Pria kelahiran Padang, Sumbar, 20 November 1962 itu kepada Men’s Obsession di ruang kerjanya.

Menurut Tafdil, di samping memerhatikan fasilitas, ia mengaku lebih mengutamakan pengembangan atmosfir akademik yang lebih baik. “Karena induk dan roh universitas itu adalah di sisi akademiknya. Unand akan fokus pada peningkatan SDM seperti dosen S3 dan guru besar, serta peningkatan akreditasi program studi nilai A . Saat ini strata S1 yang mendapat akreditasi A sudah mencapai 50%,” ujarnya menambahkan.

Tafdil juga mendorong peningkatan akreditasi internasional, Saat ini baru Magister Managemen yang terakreditasi internasional. Sementara yang masih dalam proses akreditasi dari Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) ada 5 prodi di teknik dan 5 prodi lagi melalui ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA).

Fokus lain yang dilakukan Tafdil adalah pada peningkatan prestasi mahasiswa serta publikasi dosen di jurnal ilmiah. Pada tahun 2017, sebanyak 1.318 artikel Unand yang sudah terindex Scopus dan jumlahnya cenderung mengalami peningkatan.

“Dalam menerbitkan jurnal ilmiah, kita menempati peringkat ke-8 berdasarkan indikator penelitian dari seluruh universitas di Indonesia,” ujar Tafdil yang juga gemar hiking ini.

Hasil penelitian Unand memiliki potensi besar untuk dikomersialisasikan. Ini terbukti ketika Unand menggelar forum bisnis di kantor Sekretariat Wakil Presiden RI bersama pelaku industri. Banyak para pelaku usaha yang tertarik dengan produk-produk hasil penelitian yang sudah HAKI dan marketable. “Alhamdulillah, ada follow up dari industri sawit. Sebelumnya, PT Kimia Farma sudah memakai hasil penelitian kami sebagai bahan baku,” ungkap Tafdil dengan bangga.

Banyak karya yang telah dilahirkan oleh dosen dan mahasiswa pada berbagai bidang fokus mulai dari pangan, kesehatan dan obat, transportasi, energi, bahan baku, teknologi informasi dan komunikasi, material maju dan pertahanan keamaan. Di antaranya Jagung Hibrida Silang Tunggal, Pupuk Bio-organik Andalas, Pelet Sapi, Gambir Tea, Bareh Rendang (Rendang Beras) Rendah Kalori, Andalas Bakery Roti Berbasis Gandum Lokal, Formula Liposom (Fraksi Etil Secang sebagai ‘antikanker’), Palang Pintu Otomatis untuk Perlintasan Kereta Api, dan Mesin Sortasi Gabah dan Beras (mesin cerdas untuk menggolongkan kualitas gabah dan beras). Berbagai upaya yang dilakukan Tafdil menjadi pendorong agar civitas akademika berperan dalam meningkatkan daya saing bangsa melalui pertumbuhan usaha rintisan (startup industry) yang berpeluang di pasar regional, nasional maupun global sebagai bentuk hilirisasi dan komersialisasi penelitian.

“Kalau kita lihat, indikator suatu perguruan tinggi dikatakan berhasil, itu dari lulusannya. Berapa lama ketika dia lulus, lalu mendapatkan pekerjaan dan berapa banyak lulusan tersebut yang menciptakan lapangan pekerjaan. Kami berharap, setelah tamat, lulusan Unand bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Jadi, kita bangun soft skill-nya. Alhamdulillah, sekarang ini ada sekitar 60–70% mahasiswa Unand yang termotivasi menjadi entrepreneur,” ujarnya.

Tafdil juga menambahkan bahwa yang tak kalah penting adalah besarnya peranan yang diberikan dari para alumni kepada almamaternya sehingga Perguruan Tinggi tersebut bisa semakin besar. “Karena itu kami selalu merangkul Ikatan Keluarga Alumni Universitas Andalas Padang (IKA Unand),” katanya.

Banyak orang hebat, di antaranya Menteri Dalam Negeri (2009-2014) Gamawan Fauzi, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Kabinet Kerja (20162019) Asman Abnur, Jaksa Agung Republik Indonesia (2010-2014) Basrief Arief, serta Mantan Dekan FH Unand, Hakim Agung, Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Pembinaan Takdir Rahmadi.

Ia juga terus menggairahkan peranan Unand dalam membangun masyarakat ‘nagari’. Kampus yang jumlah mahasiswanya lebih dari dua puluh sembilan ribu tersebut telah melakukan pemetaan potensi daerah di Provinsi Sumatera Barat melalui kinerja Pusat Pengembangan Nagari atau desa adat, yakni dengan menempatkan akademisi yang berkompeten atau diistilahkan Staf Ahli Nagari (SAN) yang bertugas melakukan identifikasi segala persoalan dalam satu nagari kemudian membuat perencanaan dan pemetaan potensi yang bisa digali.

Saat ini, dari 1.000 lebih dosen yang ada di Unand dengan kualifikasi doktor dan profesor, sebagian besar mereka telah menjadi SAN di nagari yang berbeda. Sukses Unand tersebut tentunya tak lepas dari kepemimpinan yang diterapkan Tafdil.

“Kepemimpinan kami adalah kolektif kolegial. Saya mengajak semua pimpinan di bawah saya dan seluruh civitas akademika untuk bersama-sama membangun Unand,” ujar pengagum Presiden I RI Sukarno, M. Hatta, dan Tan Malaka ini.

Menutup pembicaraan, ayah beranak tiga itu mengungkapkan filosofi hidupnya yang menghantarkannya sukses seperti saat ini. “Ada filosofi di Minang ‘kancang indak mandahului, tajam indak malukoi, pintar indak manggurui’ (cepat tidak mendahului, tajam tidak melukai, pintar tidak mengurui). Jadi di manapun kita berada, jangan sombong karena apa yang kita miliki, semuanya adalah milik Allah SWT,” pungkasnya. (Giattri F.P)

 

Artikel ini dalam versi cetak telah dimuat di Majalah Men’s Obsession edisi Mei 2018

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.