Rabu, 8 Desember 21

Profesor Inggris Jatuh Cinta pada Wayang di Harvard

Profesor Inggris Jatuh Cinta pada Wayang di Harvard
* Matthew Cohen mempelajari wayang lebih lanjut di Wonogiri. (bbc.co.uk)

London – Seorang profesor seni pertunjukan di London yang mahir dalam mendalang jatuh cinta pertama kali pada wayang di Harvard, Amerika Serikat.

Profesor Matthew Cohen, pengajar seni pertunjukan di Universitas Royal Holloway, London, dikenal sebagai dalang wayang kulit dan akftif melakukan pertunjukan di berbagai kota di dunia.

Dosen yang biasa disapa dengan Matthew ini mengatakan, “Pertama kali jatuh cinta kepada Indonesia saat menjalani studi S1 di Harvard University.”

Sejumlah komentar terkait dosen asal Amerika ini di segmen #KabarDariInggris, Facebook BBC Indonesia termasuk Myfazar Sunshine yang menulis, “Orang luar lebih mencintai budaya indonesia, nah orang indonesia lebih mencintai orang luar. Serasa anak tertukar.”

Sementara Luh Eka menanggapi, “Betul, di Bali juga banyak org bule yang pinter nari Bali dan belajar main gong, tapi banyak muda mudi sekarag gak mau belajar nari.”

Saat mulai tertarik dengan wayang, dosen Mathew di Harvard yang berasal dari China, Rulan Pian, mengenalkannya pada gamelan.

Mathew mengatakan saat teman-teman di kampusnya lebih tertarik belajar bahasa Mandarin dan Jepang, ia justru belajar bahasa Indonesia.

Pernah dilempar batu

Ia pertama kali ke Indonesia tahun 1988 dan belajar wayang di Wonogiri dengan Oemar Topo, seorang dalang yang pernah mengajar di Amerika Serikat.

Matthew mengatakan ia pernah dilempari batu saat belajar wayang di daerah. (bbc.co.uk)
Matthew mengatakan ia pernah dilempari batu saat belajar wayang di daerah. (bbc.co.uk)

“Dia sangat kompeten dalam mengajar wayang untuk orang asing,” kata Matthew yang belajar wayang secara mendalam di Institut Seni Indonesia Surakarta.

“Saya mengagumi kemampuan wayang dalam memindahkan cerita menjadi realita,” tambahnya.

Saat kembali ke Jawa pada 1991, ia sudah mahir berbahasa Jawa namun mengatakan masih mengalami kesulitan.

“Setiap daerah di Jawa memiliki dialeknya masing-masing,” ujar pria penggemar sayur asem itu mengacu pada kesulitannya.

Pada awal tahun 1990-an, ia mengatakan pernah dilempar batu saat belajar wayang di daerah namun tidak menyurutkan niatnya untuk terus menekuni wayang.

“Kini sudah berbeda, Indonesia sudah semakin sejahtera dan orang-orangnya semakin berpendidikan,” tambahnya

Matthew juga telah membuat tulisan tentang penelitian wayang di Indonesia dan juga tengah menggarap buku seni pertunjukan wayang di Asia Tenggara. (BBC Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.