Kamis, 30 Juni 22

Profesionalitas Guru Belum Sesuai Harapan

Profesionalitas Guru Belum Sesuai Harapan
* upacara bendera memperingati Hari Guru Nasional (HGN) 2016 dan HUT ke-71 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Jakarta, Obsessionnews.com – Guru berperan besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Ketika masa penjajahan dahulu, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa. Tak lupa menanamkan semangat nasionalisme kepada peserta didik dan masyarakat.

Artinya, guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Peletak dasar, yang mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa.

Sebagai penghormatan terhadap para guru, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional (HGN) bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam keterangan tertulis kepada Obsessionnews, Jumat (25/11/2016) memaparkan, telah melakukan berbagai apresiasi terhadap dedikasi guru.

“Perkenankan saya atas nama pribadi dan pemerintah, menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, komitmen, dan segala ikhtiar yang telah dilakukan oleh para guru, pamong dan tenaga kependidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Mendikbud Muhadjir Effendy saat upacara bendera memperingati HGN 2016 dan HUT ke-71 PGRI, di halaman kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Jumat (25/11/2016).

Selamat memperingati Hari Guru Nasional tahun 2016 dan HUT ke-71 PGRI, bertemakan “Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya”. Muhadjir mengajak kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan Indonesia untuk bangga terhadap profesinya tersebut.

Sejak ditetapkannya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2015, tentang Guru dan Dosen, maka secara resmi guru dinyatakan sebagai pekerja profesional. “Harus diakui bahwa hingga kini profesionalisme guru di Indonesia masih belum memenuhi harapan,” kata Muhadjir.

Masih diperlukan upaya-upaya yang lebih keras agar pekerjaan guru sebagai pekerjaan yang profesional di masa yang akan datang, dan pemerintah akan terus mengupayakan banyak hal agar para guru semakin profesional. Namun, upaya itu akan sia-sia belaka tanpa keinginan keras dari pihak guru itu sendiri.

Meningkatkan kesejahteraan guru, kata Mendikbud, pemerintah telah bertekad memberikan tunjangan profesi dan tunjangan khusus bagi guru yang sudah bersertifikat pendidik.

Muhadjir berharap dapat memberikan dampak nyata bagi perbaikan kompetensi dan kinerja guru, dibuktikan dengan peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.

”Ke depan juga perlu segera dirumuskan kebijakan, agar sebagian tunjangan profesi guru bisa diinvestasikan bagi peningkatan kinerja guru melalui program pelatihan dan usaha guru belajar mandiri,” pesan Mendikbud.

Peningkatan menegaskan profesionalisme guru menjadi salah satu dari lima agenda utama pembangunan pendidikan nasional.

Demikian itu penetapan beberapa kebijakan strategis untuk membentuk guru yang profesional, sejahtera, bermartabat, dan terlindungi sedang dan akan terus dilakukan oleh pemerintah di semua tingkatan.

Sabtu (26/11/2016) di Sentul International Convention Center (SICC), Sentul, Jawa Barat, Direktorat Jenderal GTK mengadakan acara Simposium Guru Nasional yang akan diikuti sekitar 2000 orang guru dari seluruh Indonesia.

Acara tersebut akan menjadi wahana untuk menuangkan ide, gagasan, dan mencari pemecahan isu atau permasalahan strategis tentang pendidikan.

Tentunya melibatkan pakar dari perguruan tinggi, praktisi pendidikan, pemerhati pendidikan, LSM pendidikan, organisasi guru, serta GTK berprestasi tingkat nasional.

Yang membahas 10 topik, yakni Penguatan Pendidikan Karakter di Satuan Pendidikan, Optimalisasi Pendidikan Inklusi, Revitalisasi SMK dalam Menghadapi Daya Saing Ketenagakerjaan, Membangun Budaya Literasi di Satuan Pendidikan, dan Profesionalisme GTK melalui GTK Pembelajar.

Selain itu juga membahas tentang perlindungan GTK, membangun sekolah yang aman dan nyaman untuk warga sekolah, peningkatan mutu dan akses pendidikan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), teknologi informasi dan komunikasi sebagai media dan sumber belajar, dan penilaian kinerja GTK.

Acara puncak acara nanti, Minggu, akan akan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia, dan 11.000 orang GTK. (Popi Rahim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.