Kamis, 16 Juli 20

Prof Syamsuddin Haris: Orba Paling Bengis dalam Sejarah RI

Prof Syamsuddin Haris: Orba Paling Bengis dalam Sejarah RI
* Penguasa Orde Baru (Orba) Soeharto.

Jakarta, Obsessionnews.com – Rezim Orde Baru (Orba) atau yang juga disebut rezim militer yang berkuasa selama 32 tahun tumbang pada 21 Mei 1998. Runtuhnya rezim Orba yang identik dengan Golkar tersebut ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto akibat desakan gerakan reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa.

Tak ada yang menyangka Soeharto yang berkuasa sejak tahun 1966 itu terpental dari kursi kekuasaannya pada 21 Mei 1998. Unjuk rasa gencar  dilancarkan mahasiswa pasca terpilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden dalam Sidang Umum MPR Maret 1998. Dalam aksinya tersebut para mahasiswa mengusung tema lakukan reformasi di bidang politik, hukum, dan ekonomi. Mereka menuntut Soeharto dan kroninya mundur dan diadili karena diduga terlibat korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Gelombang demo besar-besaran dilakukan mahasiswa dan berbagai elemen  masyarakat untuk menggulingkan Soeharto setelah tewasnya beberapa mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta, yang ditembak oleh aparat keamanan pada 12 Mei 1998.

Setelah Soeharto resmi menyatakan mundur, otomatis Wakil Presiden BJ Habibie naik kelas menjadi Presiden. Sementara itu gelombang aksi mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat semakin marak dan menuntut Soeharto diadili terkait dugaan KKN yang tegas dinyatakan dalam Ketetapan (Tap) MPR Nomor  XI Tahun 1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.  Pasal 4 Tap MPR XI Tahun 1998 berbunyi:  Upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglemerat termasuk mantan Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak-hak azasi manusia.

Namun pemerintahan BJ Habibie, yang dilanjutkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Megawati Soekarnoputri dan SBY tak pernah mengadili Soeharto. Jenderal Besar ini menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit di Jakarta, 27 Januari 2008, dalam usia 87 tahun. Soeharto dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo, Jawa Tengah, 28 Januari 1998.

Untuk mengenang jasa Soeharto, anak-anak Soeharto menggelar 51 Tahun Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang dibungkus dalam acara Zikir dan Shalawat untuk Negeri di Masjid At-Tin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (11/3/2017).

Anak Soeharto, Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto dalam acara itu mengatakan, Supersemar merupakan salah satu tonggak dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Di titik ini Soeharto memulai darma baktinya untuk membangun Indonesia. Bahkan, menurut Titiek, di bawah pemerintahan Soeharto, Indonesia siap tinggal landas.

”Sayangnya, krisis ekonomi pada 1997 dan 1998 membuat kita crash. Crash di ujung landasan,” ujar Titiek.

Tidak hanya itu, Titiek pun menilai reformasi yang telah berjalan semenjak runtuhnya Orba  malah tidak membawa Indonesia menjadi lebih baik.

”Reformasi yang telah berjalan saat ini tidak membuat negeri ini menjadi lebih baik. Kesenjangan si miskin dan si kaya malah bertambah lebar,” kata Titiek.

Peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Syamsuddin Haris.

Bukan hanya anak-anak Soeharto yang memuja Soeharto dan Orba, tapi juga para pendukung Soeharto. Hal ini mendapat kritikan dari peneliti senior pada Pusat Penelitian Politik (P2P) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Syamsuddin Haris. Menurutnya, Orba merupakan orde paling bengis dalam sejarah Republik Indonesia.

Hari gini masih jualan Soeharto & Orba? Hanya orang2 sakit, picik, munafik & pengecut yg muliakan orde paling bengis dlm sejarah RI tsb,” kicau Syamsuddin di akun Twitternya, @sy_haris, Minggu (12/3/2017). (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.