Jumat, 24 Mei 19

Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., Mencetak Intelektual Muda di Bumi Banua

Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., Mencetak Intelektual Muda di Bumi Banua
* Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc.

Naskah: Giattri F.P. Foto: Sutanto

 

Dipercaya menjadi Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) selama dua periode, Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. mampu menjalankan amanahnya dengan baik, ia berhasil memoles ULM menjadi universitas terkemuka dan berdaya saing. Bahkan, pada 19 Maret lalu, perguruan tinggi di Kalimantan Selatan tersebut mendapat akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Sutarto menuturkan, apa yang diraih universitas yang dinakhodainya tersebut tidak semudah membalik telapak tangan, dibutuhkan perjuangan yang tak sebentar. “Ini dimulai sejak rektor ULM dijabat Prof. Muhammad Rasmadi (periode 2005-2010). Waktu itu, ULM belum terakreditasi. Pada 2009, untuk pertama kali, kami mengajukan akreditasi institusi. Dalam kondisi serba terbatas. Jumlah doktor dan profesor tidak lebih dari seratus orang. Penelitian dan publikasi minim. Tata kelola masih sederhana alias tidak didukung oleh sistem informasi berbasis IT,” ungkap pria murah senyum tersebut.

Belum lagi, sambung Sutarto, sarana dan prasarana terbatas, khususnya laboratorium. Lalu, atmosfer akademik yang kering kerontang. “Hasilnya, ULM hanya mendapatkan akreditasi C,” papar kelahiran Banjarmasin, 31 Maret 1966 itu. Capaian itu mengagetkan banyak pihak. Pasalnya, selama ini orang selalu menyebut ULM sebagai perguruan tinggi tertua dan dihormati di kawasan Kalimantan. Namun, mengapa hanya memperoleh akreditasi C. “Ini seperti melegitimasi anggapan orang selama ini bahwa benar Unlam (red. sebutan sebelum ULM) adalah universitas lambat maju. Padahal, kalau kita mau jujur, capaian akreditasi C itu merupakan prestasi tersendiri karena saat itu dari ribuan perguruan tinggi di Indonesia, hanya beberapa saja yang telah terakreditasi. Namun, masyarakat sudah kadung menganggap dapat akreditasi C adalah sebuah aib,” ujar Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) masa Bakti tahun 2018 tersebut.

Lima tahun berselang. Pada periode Rektor Prof. Muhammad Ruslan (2010-2014), ULM bertekad memperbaiki diri. Perjuangan kampus di bumi Banua itu berbuah manis, pada 2014, sebelum berakhirnya jabatan Ruslan, ULM meraih akreditasi B dengan skor 318. “Pada saat saya mencalonkan diri sebagai Rektor ULM periode 2014-2018, saya bertekad untuk menaikkan akreditas ULM dari B menjadi A. Target saya paling lambat pada 2019, ULM sudah sampai level itu,” ujarnya dengan penuh semangat.

 

Baca halaman berikutnya

Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.