Rabu, 25 November 20

Full Day School Berlanjut Pro Kontra

Full Day School Berlanjut Pro Kontra
* Full Day School (Foto: Kompasiana.com)

Jakarta, Obsessionnews.com – Sejak dicetuskan program Full Day School oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, menjadi polemik di masyarakat dan pemerintahan.

Kebijakan program full day school ini dicanangkan bukan tanpa sebab yang jelas, karena menurut Muhadjir, program ini untuk penguatan karakter para siswa. Dan dengan sistem ini, perlahan anak didik akan terbangun karakternya serta tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja.

Meski demikian, kebijakan full day school itu ternyata mendapat penolakan, seperti aksi damai yang dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia (AMPPI) soal penolakan kebijakan lima hari sekolah, Senin (14/8), di Lumajang, Jawa Timur, yang dikejutkan oleh sebuah video viral para anak-anak yang meneriakkan ‘bunuh menteri’.

 

Selain itu penolakan juga datang dari Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) yaitu Said Aqil Siroj. Dia menilai kebijakan tersebut berangkat dari kekhawatiran berlebihan pada siswa.

Padahal menurutnya, tidak semua orang tua siswa adalah pekerja kantoran yang tinggal di kota. ada juga yang bekerja di sektor informal seperti petani, pedagang dan nelayan. Maka dari itu orang tua masih bisa mengawasi saat anak pulang.

“Tidak semua orang tua peserta didik bekerja sehari penuh, utamanya mereka yang di pelosok, bekerja sebagai petani dan nelayan yang separuh waktunya bisa dipakai bersama-sama dengan anak-anak mereka,” kilah Said di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017).

Namun ternyata, program full day school yang dicanangkan Mendikbud ini justeru sudah diterapkan sebelumnya, salah satunya yaitu di SMA Abdul Wahid Hasyim (AWH) Jombang,

Sekolah di bawah naungan Yayasan Hasyim Asyari Pesantren Tebuireng ini, telah menerapkan program tersebut sudah sejak tahun 2008. Waktu belajar yang diterapkan sekolah ini hampir 9 jam selama 6 hari dalam seminggu.

Menurut Kepala SMA AWH Hari Winarto, sejak tahun 2008, para siswa belajar mulai pukul 06.45 Wib sampai 15.30 Wib. Sekolah ini menampung 759 siswa yang terbagi dalam 24 kelas. Sekitar 95% siswa di sekolah ini berasal dari luar Kabupaten Jombang yang mondok di Pesantren Tebuireng dan sejumlah pesantren di sekitarnya.

“Dalam Seminggu anak-anak masuk sekolah enam hari, liburnya hanya hari Jumat,” ungkap Hari Winarto di kantornya, Rabu (16/8).

Mungkin tidak mudah untuk siswa mengikuti program full day school karena rasa lelah dan jenuh akan menghampiri para siswa. Namun,
Meila Dewi Setyorini (15), siswa kelas MIA 3 SMA AWH malah mengaku senang meski hampir 9 jam waktunya dihabiskan di sekolah.

“Materi pelajaran yang kami dapatkan lebih tinggi dibandingkan sekolah biasa, kekeluargaan dengan sesama teman lebih menyatu karena lebih banyak berkumpul di sekolah,” aku Meila

Sementara itu. Menurut Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah kebijakan full day school yang dicetuskan Mendikbud sejatinya bermaksud baik, tujuannya adalah membantu membangun karakter anak bangsa Indonesia yang lebih baik.

“Idenya itu adalah mengintegrasikan sekolah itu supaya interaksi murid dan guru itu lebih baik. Tapi di saat yang sama, Sabut-Minggu itu diliburkan supaya interaksi dengan keluarga dan orang tua juga baik. Jadi idenya baik,” tutur Fahri, Kamis (17/8).

Selain itu, Fahri tak setuju jika dikatakan bahwa full day school bisa mematikan madrasah diniyah. Sebab menurut dia, madrasah diniyah dan sekolah formal bisa saling melengkapi dengan adanya kebijakan FDS.

Pendidikan formal bisa diajarkan kepada siswa pada siang hari, sedangkan pelajaran madrasah Diniyah pada sore hari.

“Ya udah gabung aja. Artinya dua-duanya tetap bisa ada. Nggak harus dihentikan karena nggak ada paksaan juga,” tandasnya.

Sebagai informasi pada 9 Agustus 2016, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy melontarkan gagasan Full Day School. Ide itu langsung mendapatkan banyak penolakan mulai dari DPR, KPAI, psikolog, pengamat pendidikan, hingga petisi online.

Saat diterapkan nanti, Full Day School akan membuat siswa pulang sekolah sore hari yaitu jam 17.00. Tapi seluruh siswa akan serentak diliburkan pada hari Sabtu dan Minggu.

Upaya tersebut diwacanakan untuk meningkatkan pendidikan karakter. Basisnya ialah kejujuran, toleransi, disiplin, hingga rasa cinta Tanah Air. (Iqbal)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.