Senin, 28 September 20

Pria Sekuler Jepang Jadi Mualaf, Menangis Lihat Kabah

Pria Sekuler Jepang Jadi Mualaf, Menangis Lihat Kabah
* Kaiji Kadir Wada bersama istrinya Yusanne Pitaloka. (BBC)

Umrah para mualaf sebelum pandemi Covid-19: ‘Siapa yang bisa membayangkan pria sekuler seperti saya bisa berdiri di depan rumah Allah’

Mualaf dari Inggris dan Jepang yang sempat melakukan umrah untuk pertama kalinya mengatakan merasa sedih di tengah ketidakpastian haji tahun ini namun merasa “sangat bersyukur” dapat beribadah sebelum pandemi menyebar.

Pemerintah Indonesia sendiri memutuskan Selasa (2/6/2020), untuk tidak memberangkatkan jemaah haji tahun ini, untuk melindungi calon jemaah haji dan petugas dari paparan Covid-19, meski belum ada keputusan resmi terkait ibadah haji tahun ini dari pemerintah Arab Saudi.

Hanan Sandercock dan suaminya John Smith serta Kaiji Wada dan istrinya Yussane Pitaloka termasuk di antara sekitar 100 rombongan mualaf dari seluruh dunia yang melakukan ibadah umrah akhir Desember lalu.

Arab Saudi menutup perbatasan pada awal Maret lalu untuk mencegah penyebaran Covid-19, termasuk menghentikan ibadah umrah.

“Kami sudah sangat bersyukur menjadi bagian dari kelompok ini, namun ketika ditutup, kami tambah bersyukur karena dengan lancar beribadah pada bulan Desember dan kembali dengan selamat pada bulan Januari. Alhamdulilah,” kata Hanan yang tinggal di Cardiff, Wales.

“Sebagian dari kami sakit dan saat itu kami curiga apakah mereka terinfeksi Covid, tapi ternyata bukan,” tambah perempuan yang masuk Islam 25 tahun lalu ini.

Hanan Sandercock dan suaminya John Smith saat umrah pada Desember 2019. (BBC)

Sementara Kaiji – yang menambahkan nama Kadir setelah masuk Islam pada 2017 lalu – mengatakan keputusan Saudi itu membuatnya “sedih karena banyak orang yang tidak bisa beribadah. Tapi itu sudah jalan yang paling baik yang diambil pemerintah Saudi. Namun kita juga bersyukur sekali masih bisa umrah dengan aman.”

“Saya hampir menangis saat melihat Ka’bah untuk pertama kalinya. Ini karena momen saat saya bisa merasakan kebesaran dan hidayah Allah SWT,” katanya BBC News Indonesia.

Kaiji Wada bersama peserta umrah dari negara-negara lain. (BBC)

“Beberapa tahun sebelumnya, saya hanyalah pria Jepang biasa yang sekuler. Dan kehidupan saya waktu itu sangat jauh dari ajaran Islam. Siapa yang bisa membayangkan orang seperti saya berdiri di depan rumah Allah SWT? Tak ada yang bisa mengaturnya kecuali Allah. Satu hal yang tak akan saya lupakan,” tambahnya.

Satu hal lagi yang menurutnya paling dia ingat adalah saat melantunkan Talbiyah (bacaan yang dibaca setelah berniat umrah atau haji) dalam perjalanan ke Masjidil Haram di Makkah dari Madinah.

“Emosi saya begitu tinggi dan hampir menangis karena perasaan yang bercampur antara khawatir, senang dan perasaan penuh harapan,” cerita Kaiji tentang pengalaman dua minggu menjelang akhir tahun lalu.

Hanan mengatakan hal serupa. “Sulit saya jelaskan namun tak ada bandingannya.”

Keluarga Hanan saat Idulfitri tahun lalu, bersama orang tua (tengah dan kiri). (BBC)

Ia juga menyebut momen mendengar azan Subuh ketika di Madinah, pengalaman yang ia sebut “begitu indah dan membuat hati penuh ketenangan.”

“Pengalaman luar biasa yang tak akan pernah saya alami lagi, khususnya bersama para mualaf lain di seluruh dunia,” tambah Hanan.

Sabri Shiref, dari European Muslim Forum, badan amal yang menyelenggarakan umrah untuk mualaf dari seluruh dunia sejak 2015, mengatakan tujuan mereka adalah memberikan pengalaman ibadah di Makkah dan Madinah.

“Kami membuka pendaftaran dan juga menerima rekomendasi namun kami melakukan seleksi. Intinya yang kami ajak, mereka yang berpandangan moderat,” kata Sabri.

Hanan dan John di Badan Amal Muslim Wales. (BBC)

Tetap menikmati hidup walau lagi sedih
Kaiji – yang menikah dengan perempuan Indonesia Yusanne – mengatakan ia mulai mempelajari tentang Islam ketika ikut dalam program pertukaran di Brunei.

“Waktu ketemu orang Islam lain, mereka hidupnya bisa bahagia tanpa minum alkohol. Meski sedih tetap bisa menikmati. Beda sama orang Jepang yang kalau sudah stres bisa bunuh diri. Waktu bertemu mereka, saya bisa merasakan kedamaian dan lebih bisa mengontrol diri,” cerita Kaiji saat mulai mempelajari Islam.

Saat ini ia bekerja sebagai pengajar sekolah Jepang di Bandung dan berencana akan kembali ke Tokyo pada bulan Juli mendatang.

Kaiji setelah syahadat di masjid di Tokyo pada 2017. (BBC)

Sementara Hanan mengatakan keputusannya 25 tahun lalu, karena apa yang dia sebut mengisi kekosongan hidup.

“Tidak ada momen khusus yang membuat saya pindah agama. Semua bermula karena ketidakpuasan dan perasaan hampa dan kosong karena tak ada keyakinan (agama) apa pun sampai kemudian saya tertarik untuk bertemu rekan-rekan Muslim untuk bertanya tentang Islam,” kata Hanan yang saat ini bekerja di satu sekolah dasar di Cardiff.

“Saat itu umur saya 27 tahun, saya lebih banyak pergi sendiri. Orang tua saya saat itu bingung karena mereka tinggal di daerah mayoritas kulit putih (di Cornwall, Inggris selatan) dan hanya sedikit Muslim. Mereka baik dan tertarik (mengetahui lebih lanjut), walaupun ayah saya tak suka saya pakai jilbab. Ibu saya percaya pada Tuhan, jadi dia bisa melihat banyak persamaan,” kata ibu beranak empat ini.

Hanan – yang dulu bernama Donna – melanjutkan perguruan tinggi di Cardiff pada 1990-an dan bertemu dengan sejumlah teman-teman Muslim.

Kaiji Kadir Wada bersama istrinya Yusanne Pitaloka. (BBC)

Meski tak ada momen khusus yang memicunya pindah agama, Hanan menyebut satu peristiwa saat ia berjalan bersama temannya ke Palestina.

“Ketika saya mengunjungi daerah Palestina yang diduduki pada 1990-an, saya dan teman saya tersesat di wadi, dan saat itu tengah hari, panas dan sepi. Kami tak punya telepon genggam dan hampir kehabisan air. Saya khawatir kami akan meninggal di sana. Saat itu tak ada yang bisa ditelepon dan saya buat ‘perjanjian’ dengan Tuhan dan saya katakan kalau kami selamat dari sini, saya akan menjadi Muslim,” tutur Hanan.

“Di dalam hati saya, saya sudah sadar Islam adalah agama yang tepat untuk saya, namun saya belum mengungkapkannya,” katanya.

Sekembalinya ke Wales, ia membaca berbagai hal tentang Islam dan bertanya ke orang-orang yang ia kenal sebelum mengucapkan syahadat, di depan almarhum Imam Sheikh Said, yang ibunya juga orang Wales yang mualaf.

Ia mengatakan “langsung merasa lega” karena mendapatkan “semua jawaban yang ia cari”.

Kegiatan di Badan Amal Muslim Wales. (BBC)

Hanan mengatakan kondisi masyarakat di Inggris berbeda pada tahun 1990-an. “Tak banyak saat itu orang yang jadi mualaf karena tak banyak berita negatif di media. Namun setelah serangan 11 September (pada 2001 di New York), saya takut untuk pergi keluar sendiri dengan anak-anak. Dan saya tidak lagi pakai abaya dan menggunakan baju biasa. Alhamdulilah saya tidak mengalami ejekan dan saya masih pakai jilbab.”

Dalam 25 tahun terakhir ini, Hanan mengatakan ia mengalami banyak perubahan, namun menekankan ia ingin menunjukkan identitas sendiri.

Ia menyebut contoh pada mereka yang pindah agama setelah menikah dengan komunitas tertentu dan berpakaian mengikuti kebiasaan komunitas itu.

“Saya ingin menunjukkan identitas saya sebagai Muslim Inggris, tanpa perlu menghilangkan apa yang saya miliki sebelumnya,” kata Hanan menutup ceritanya. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.