Sabtu, 18 September 21

Presidium 212 dan MRI Himpun Kekuatan Islam dan Nasionalis

Presidium 212 dan MRI Himpun Kekuatan Islam dan Nasionalis
* Presidium Alumni 212.

Jakarta. Obsessionnews.com – Presidium Musyawarah Rakyat Indonesia (MRI) dan Presidium 212 menggelar acara silaturahmi dan berbuka puasa, Kamis (1/6/2017), di Rumah Kedaulatan Rakyat, Jakarta Selatan. Ketua Presidium MRI, Yudi Syamhudi Suyuti menegaskan, konsolidasi ini melanjutkan pertemuan 14 Mei 2017 di Ciseeng, Bogor antara GNPF MUI, Presidium Alumni 212 dan Presidium MRI, guna membangun kekuatan aliansi Islam, Nasionalis dan Kerakyatan Indonesia.

Menurutnya, Presidium MRI dibentuk setelah tokoh senior Dr Sri Bintang Pamungkas ditahan rezim Jokowi atas tuduhan Makar. “Tujuan dibentuknya adalah agar perjuangan di luar tetap terus berjalan, lalu kemudian dipilihlah saya (Yudi Syamhudi- red) sebagai Ketua Presidium, Mona Panggabean sebagai Sekjen. Sedangkan Dr Sri Bintang Pamungkas sebagai Tokoh Senior MRI,” tandas Yudi.

Hasil kesepakatan yang terjadi 1 Juni 2017 ini, jelasnya, disepakati untuk dibentuk sekretariat perjuangan bersama. Sekretariat Perjuangan Bersama ini dipelopori oleh Presidium MRI, Presidium Alumni 212, GNPF MUI, namun membuka sebesar-sebesarnya untuk menghimpun seluruh elemen dan kekuatan rakyat. Kekuatan rakyat lintas agama, lintas profesi dan seluruh gerakan perjuangan yang sejalan dan sepaham untuk berjuang mengembalikan kedaulatan di tangan rakyat.

Sekjen Presidium Alumni 212, Ustadz Asri Harahap menambahkan, dengan adanya sekretariat perjuangan bersama ini, kita sudah berjuang untuk Indonesia, dimana Islam ada di dalamnya. Karena itu, Sekjen Presidium Alumni 212 meminta Presidium MRI memimpin sekretariat perjuangan bersama dengan didampingi para ulama dan tokoh-tokoh nasional.

Pada kesempatan itu, Tokoh Senior Presidium MRI, Dr Sri Bintang Pamungkas menyatakan, menuju Sidang Istimewa harus dilakukan secara konstitusional, dan tidak akan menggunakan cara-cara non konstitusional, yang justru membuat Indonesia dihukum dunia internasional.

“Tujuan yang kita capai adalah mendorong Sidang Istimewa melalui Konstitusi dan Hukum yang berlaku saat ini. Dan pintu masuk untuk Sidang Istimewa ini adalah laporan Presidium MRI dan Presidium 212 ke Komnas HAM tentang Reklamasi adalah Makar dan Kriminalisasi Ulama dan Aktivis Pembela Keadilan,” sambung Yudi.

Ia pun memaparkan, agenda Sidang Istimewa yang akan dicapai adalah; Kembali ke UUD 45 asli, cabut mandat Jokowi dan Bentuk Pemerintahan Transisi. “Dasar untuk menggelar sidang istimewa kita menunggu hasil rekomendasi HAM. Setelah itu baru kita bawa ke DPR, MK dan meminta MPR untuk menggelar Sidang Istimewa,” tutur Ketua Presidium MRI. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.