Kamis, 27 Januari 22

Presidential Threshold 20 Persen Lemahkan Sistim Presidensil

Presidential Threshold 20 Persen Lemahkan Sistim Presidensil

Jakarta, Obsessionnews.com – UU Pemilu yang baru yang disahkan DPR hingga kini masih menuai kontroversi. Dalam diskusi yang diselenggarakan LBH Keadilan, Minggu (30/7/2017), Pengamat Tata Negara Andy Wiyanto mengatakan Presidential Threshold atau ambang batas pencalonan Presiden 20 persen dalam UU Pemilu tidak akan memperkuat sisitem pemerintahan presidensil. Padahal dalam sistem presidensil, presiden tidak terikat oleh parlemen.

“Presidential Threshold 20 persen dalam UU Pemilu justeru akan memperlemah sistem presidensil. Dengan presentase 20 persen, mengharuskan partai-partai berkoalisi untuk dapat mengusung calon presiden. Dengan banyaknya partai yang bergabung dalam mengusung presiden, maka presiden terpilih mau tidak mau harus tunduk pada partai yang mengusung,” ungkapnya.

Dengan demikian, lanjutnya, presiden akan tersandra oleh parlemen yang didalamnya merupakan partai-partai yang mengusung presiden.

Ketua Pengurus LBH Keadilan Abdul Hamim Jauzie dalam kesempatan yang sama mengatakan, kita harus mendorong agar partai, kelompok yang concern terhadap Pemilu mengajukan uji materil UU tersebut ke Mahkamah Konstitusi.

Ia menegaskan, Pemohon yang mengajukan pengujian ke MK seyogyanya tidak hanya menguji ketentuan 20 persen presidential threshold dalam UU Pemilu tetapi juga memohonkan tafsir (constitutional question) atas Pasal 6A Ayat 2 UUD tentang “pasangan Capres dan Wapres diusulkan oleh Parpol atau gabungan Parpol peserta Pemilu sebelum pelaksanaan Pemilu”.

“MK diharapkan menafsirkan apakah Parpol peserta Pemilu 2014 atau 2019 yang dapat mengusung Capres dan Cawapres dalam Pemilu 2019. Uji materi harus segera diajukan dan MK harus segera mengadili mengingat tahapan Pemilu 2019 yang sudah mulai berjalan,” tuturnya. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.