Jumat, 2 Oktober 20

Presiden Trump Terancam Dipecat?

Presiden Trump Terancam Dipecat?

Berbagai media Amerika Serikat (AS) mengkonfirmasikan potensi besar pencopotan/impeachment atau pengunduran diri Presiden Donald Trump menyusul terkuaknya dimensi baru hubungannya dengan Rusia.

Sperti dilansir ParsToday, Rabu (16/1/2019), laman The Hill menulis, mengingat penyidikan FBI mulai diekspos media, isu pengunduran diri atau pelengseran Donald Trump beserta wakilnya Mike Pence semakin kuat.

Koran New York Times baru-bari ini dilaporannya menyebutkan, FBI memulai penyidikan terkait potensi kerja sama Trump dengan Rusia pasca pencopotan James Comey, direktur FBI di tahun 2017.

Menurut The Hill, penyidikan FBI membantu pembenaran statemen Christopher Steele, mantan direktur MI6 Inggris yang mengatakan Rusia paling tidak membantu Trump selama lima tahun dan mendukungnya.

Laman ini mengungkapkan, presiden yang bekerja sama dengan kekuatan asing yang bermusuhan, sedikitnya harus dinyatakan bersalah karena melakukan konspirasi anti AS dan bahkah kejahatan. Dan ini menjadi alasan khusus untuk melengserkan Trump menurut konstitusi Amerika.

Dinamika AS di akhir tahun 2018 diwarnai berbagai peristiwa penting di antaranya kunjungan mendadak Presiden AS ke Irak, reaksi senator AS terhadap keputusan Trump menarik pasukan negaranya dari Suriah, kebohongan Trump yang menjadi perhatian di AS sendiri, dan komandan AS akui pasukannya kalah di Afghanistan.

Presiden AS Kunjungi Irak
Presiden AS, Donald Trump melakukan lawatan mendadak ke pangkalan militer AS, Ayn Al Asad di provinsi Al Anbar, wilayah barat Irak hari Rabu (26/12). Kunjungan Trump tersebut bertentangan dengan kode etik internasional. Terulangnya sepak terjang yang bertentangan dengan aturan internasional menjadi hal biasa bagi Trump.

Para pejabat tinggi Irak menegaskan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negaranya, dan kunjungan Trump ke Al Anbar melanggar prinsip tersebut.

Statemen Trump dalam pidatonya yang disampaikan di pangkalan militer Ayn Al-Asad menunjukkan dualisme kebijakan presiden AS di Suriah dan Irak. Pasalnya, Trump secara terbuka baru-baru ini mengumumkan penarikan pasukan AS dari Suriah, tapi kebijakan yang sama tidak dilakukan di Irak.

Tampaknya, ada kata kunci lain yang bisa memperjelas kebijakan zig-zag Trump ini. Di hadapan tentara AS di Al-Anbar, Trump mengatakan, “Keluarnya pasukan AS dari Suriah tidak berarti Washington akan mengakhiri intervensinya di negara ini,”. Secara lebih tegas, Trump menjelaskan, “Jika ingin melancarkan operasi di Suriah, mungkin akan dilakukan melalui Irak sebagai pangkalannya,”.

Penyataan Trump beberapa hari lalu mengenai penarikan pasukan AS dari Suriah menunjukkan permainan baru yang sedang dirancang oleh Gedung Putih yang mulai terlihat dengan kehadiran diam-diam Trump di pangkalan militer Ayn Al Asad, Irak. Washington sedang menyembunyikan agenda terselubungnya dari zig-zag Trump ini, tapi yang jelas kepentingan AS masih akan terus dipelihara di kawasan Timur Tengah dengan mengendalikan perang dan konflik.

Senator Amerika Serikat menyebut pengerahan pasukan negara itu ke Suriah tidak ada hasilnya dan menuturkan, tanpa Iran, Rusia dan pemerintahan Bashar Assad, krisis Suriah tidak mungkin diselesaikan.

Gagal Singkirkan Assad
Senator Amerika dari Partai Republik, yang juga anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Senat, Rand Paul, Ahad (23/12/2018) dalam wawancara dengan TV CBS News mereaksi keputusan Presiden Donald Trump menarik pasukan Amerika dari Suriah dan Afghanistan.

Ia mengatakan, jika tidak berunding dengan Iran, Rusia dan pemerintah Bashar Assad, kita tidak akan bisa menemukan solusi karena kita tidak bisa katakan Bashar Assad, si pemenang perang itu harus pergi.

Menurut Rand Paul, krisis Suriah dan Afghanistan tidak punya solusi militer. Senator Amerika itu mengakui bahwa Washington sudah lelah dengan pengerahan pasukan dan kehadiran militer di Asia Barat.

Bernie Sanders: Trump Pembohong dan Penipu
Bernie Sanders, senator dari negara bagian Vermont hari Jumat (28/12) menyebut Presiden AS, Donald Trump sebagai pembohong dan penipu, arogan dan suka menggertak.

Menurut Sanders, rakyat AS telah lelah terhadap presiden pembohong, penipu, arogan dan suka menggertak. Ia menjelaskan, rakyat Amerika menghendaki sosok presiden yang menyatukan mereka, bukannya membuat masyarakat Amerika bercerai berai.

Ia menekankan rakyat Amerika menghendaki kebijakan yang menguntungkan semua orang, bukannya kebijakan yang hanya membela orang-orang kaya.

Senator dari negara bagian Vermont ini hari Rabu mengkritik maraknya praktik diskriminasi dan melebarnya kesenjangan antara orang kaya dan miskin di negara ini.

Trump 7000 Kali Berbohong
Koran The Washington Post melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam 700 hari pemerintahannya telah melakukan lebih dari 7000 kebohongan dan klaim.

Surat kabar itu mengutip data “Pusat Informasi Pemantauan Kinerja” atau database pemeriksa fakta (Fact Checker’s database) dan menyebutkan, Trump hingga tanggal 20 Desember 2018, yaitu di 700 hari pemerintahannya, telah melakukan 7.546 klaim atau pernyataan bohong dan meragukan.

Menurut The Washington Post, jumlah kebohongan dan pernyatan menyesatkan Trump itu terus meningkat secara aneh, di mana dia di delapan awal pemerintahannya, dia telah melakukan 1.137 kebohongan atau klaim menyesatkan. Ini berarti rata-rata lima hari perhari.

Jumlah tersebut pada bulan Oktober, yaitu menjelang pemilu sela bertambah menjadi 1.205 kasus. Artinya, ada 39 kasus kebohongan atau klaim menyesatkan setiap harinya.

Sejumlah data juga menyebutkan bahwa dalam satu pidato Trump saja, ada 45 kebohongan atau klaim dan pernyataan yang meragukan.

Trump Menyandera Pemerintah
Dick Durbin, Senator Amerika Serikat dari kubu Demokrat mengatakan, Presiden Donald Trump dengan sikap keras kepalanya terkait isu pembangunan tembok di perbatasan telah menyandera pemerintah federal.

Dick Durbin di akun twitternya menulis, sikap Trump atas permintaan zalimnya sebesar 5 miliar dolar dirilis ketika pembangunan tembok perbatasan sebenarnya tidak berguna dan juga tidak efektif.

“Meski demikian tidak terlihat prospek dari akhir shutdown pemerintahan Donald Trump,” ungkap Durbin.

Menyusul kekalahan Trump membujuk Senat AS untuk menjamin anggaran pembangunan tembok di perbatasan Mexico, sebagian pemerintah Federal diliburkan sejak Sabtu lalu.

Media Amerika melaporkan, penutupan pemerintah Federal sedikitnya akan berlanjut hingga dimulainya kembali aktivitas Kongres setelah liburan tahun baru. Ini merupakan kali ketiga penutupan pemerintah di era Presiden Donald Trump.

Pasukan AS Kalah di Afghanistan
Komandan pasukan AS dan NATO untuk misi Afghanistan, Austin S. Miller mengakui kekalahan pasukan AS di Afghanistan.

Miller dalam wawancara dengan CNN hari Rabu (26/12) mengatakan kecil kemungkinan pasukan AS menang dalam perang di Afghanistan. “Perang dan konflik di negara ini akan terus berlanjut,” ujar komandan militer AS ini.

Sebelumnya, koran AS, Wall Street Journal mengutip statemen pejabat tinggi kementerian pertahanan AS, hari Jumat mengatakan, berdasarkan instruksi Presiden AS, Donald Trump sekitar 7.000 tentara AS akan ditarik dari Afghanistan.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata AS, Joseph Dunford membantah berita penarikan pasukan AS dari Afghanistan tersebut.

Mayoritas rakyat dan pejabat Afghanistan menilai kehadiran pasukan AS di negaranya sejak 2001 hingga kini dengan dalih menumpas terorisme, tidak membuahkan hasil apapun, kecuali pembunuhan warga sipil dan kehancuran infrastruktur negara kawasan selatan Asia ini. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.