Jumat, 29 Mei 20

Presiden Trump pun Ajak Berdoa dan Buka Tempat Ibadah

Presiden Trump pun Ajak Berdoa dan Buka Tempat Ibadah
* Moeslim Arbi

Oleh: Moeslim Arbi, Pengamat politik

Berdoa dan membuka rumah-rumah ibadah dianjurkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ini adalah langkah yang tepat di saat manusia tidak berdaya hadapi cobaan yang maha dahsyat. Tidak ada upaya dan kekuatan selain memohon dan berharap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Pencipta dan Pemilik Alam Semesta.

Amerika Serikat dikenal sebagai Negara sekuler, tapi di saat menghadapi ancaman pandemi Corona, dan banyak warganya yang jatuh korban, Presidennya tidak saja mengandalkan ikhtiar manusia semata, dengan mengandalkan sains dan teknologi. Trump anjurkan banyak berdoa.

Akan halnya di sejumlah Negeri yang mayoritas penduduknya muslim, malah tidak terdengar seruan untuk perbanyak doa, malah masjid-masjid di perintahkan untuk ditutup. Sholat jumat di tiadakan, sholat sunnah tarawih juga demikian. Bahkan sholat Idul Fitripun sedapat mungkin di lakukan di rumah masing-masing.

Ini suatu keanehan luar biasa. Seolah dengan menghindari masjid-masjid dan tempat-tempat ibadah itu manusia akan segera terbebas dari ancaman pandemi virus.

Disaat seperti ini. Bukan manusia lebih mendekatkan diri kepada Tuhan baik sendiri maupun bersama sama, malah rumah-rumah ibadah pun di jauihi.

Baitullah di Makkah Al Mukarramah dan Masjid Nabawi pun demikian, oleh Pemerintah Saudi diperintahkan untuk dikosongkan. Bukankah kedua tempat suci itu sangat mustajab untuk berdoa; memohon kepada Tuhan Pemilik Alam Semesta untuk mengakhiri derita; yang mengancam umat manusia di berbagai negara didunia ini.

Seruan untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan dari pemimpin Negara-negara mayoritas beragama. Apakah mereka sudah merasa sangat yakin, tidak perlu bantuan Tuhan lagi? Dan mampu atasi sendiri malapeta pandemi ini?

Malah, terdengar seruan agar kembali kepada Tuhan dengan doa-doa itu datang dari Presiden Trump? Apakah Aqidah, keyakinan dan ketauhidan dari pemimpin kaum muslim dipelbagai negara di dunia itu sudah hilang? Apakah Tuhan sudah tidak dianggap lagi?

Sampai detik ini penulis belum dengar ada seruan dari para pemimpin negeri muslim, termasuk di Indonesia, untuk banyak dekatkan diri dan memohon pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini berbanding terbalik negara seperti Amerika. Subhanallah,

Malam ini adalah awal Syawal, semestinya seruan takbir menggema di seluruh pelosok nusantara, dan itu seharusnya di suarakan oleh pemimpin pusat maupun daerah. Tetapi malah terlihat saling membantah.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parwangsa, anjurkan sholat ied di masjid-masjid, tapi disesalkan oleh Wapres KH Ma’ruf Amin yang seorang Ulama.

Janganlah disaat hadapi cobaan yang maha berat ini pemimpim muslim seperti orang-orang kafir yang lupa dan melupakan Tuhan, malah pemimpin yang non muslim sangat tekun ajak manusia untuk berdoa dan dekat Tuhan, memohon doa, kekuataan dan keselamatan.

Di saat hadapi cobaan, terlihat siapa yang beriman dan siapa yang tidak.

Secara pribadi, dan sebagai anak bangsa; apresiasi seruan Presiden Trump untuk perbanyak doa. Dan seyogyanya semua pemimpin bangsa-bangsa muslim tampil untuk menggemakkan takbir, tahlil san tahmid pada malam ini. Apakah ini yang di sebut dengan new normal?

Wallahu’alam.

Mojokerto, 1 Syawwal 1441 H/ 24 Mei 2020

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.