Kamis, 28 Januari 21

Presiden Trump Dimakzulkan untuk Kedua Kali

Presiden Trump Dimakzulkan untuk Kedua Kali
* Presiden Trump yang dimakzulkan dua kali. (Foto: Getty Images)

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) memakzulkan Presiden Donald Trump atas “hasutan pemberontakan” dalam kerusuhan di Gedung Capitol pekan lalu.

Sepuluh anggota Partai Republik memihak Demokrat untuk memakzulkan presiden dengan jumlah hitungan suara 232-197.

Trump adalah presiden pertama dalam sejarah AS yang dimakzulkan sebanyak dua kali, atau dituduh melakukan kejahatan oleh Kongres.

Trump, yang merupakan anggota Partai Republik, kini akan menghadapi persidangan di Senat, di mana jika terbukti ia bisa menghadapi larangan menjabat lagi.

Tetapi dia tidak harus mundur dari Gedung Putih sebelum masa jabatannya berakhir dalam satu minggu karena Senat saat ini sedang reses.

Trump akan meninggalkan jabatannya pada 20 Januari, setelah kalah dalam pemilihan November lalu dari kandidat Partai Demokrat Joe Biden.

DPR, yang kini dikendalikan Demokrat, melaksanakan pemungutan suara pada hari Rabu (13/01) menyusul perdebatan sengit yang berlangsung selama beberapa jam. Pasukan Garda Nasional bersenjata berjaga-jaga di dalam dan di luar Capitol.

Biro Investigasi Federal, FBI, telah memperingatkan kemungkinan adanya unjuk rasa bersenjata yang direncanakan di Washington DC dan semua 50 ibu kota negara bagian AS menjelang pelantikan Biden pekan depan.

Dalam sebuah video yang dirilis setelah pemungutan suara di Kongres, Trump meminta para pendukungnya untuk tetap damai tetapi dia tidak merujuk pada fakta bahwa ia telah dimakzulkan. “Kekerasan dan vandalisme tidak memiliki tempat di negara kita… Tidak ada pendukung sejati saya yang akan mendukung kekerasan politik,” katanya, dengan nada yang tampak berupaya untuk menjaga perdamaian.

Apa tuduhan yang dihadapi Trump?
Tuduhan pemakzulan bersifat politis, bukan pidana. Presiden dituduh oleh Kongres menghasut penyerbuan Capitol dengan pidatonya pada 6 Januari di Washington.

Trump mendesak para pendukungnya untuk membuat suara mereka didengar “secara damai dan patriotik” , tetapi juga untuk “berjuang sekuat tenaga” melawan pemilihan telah dicuri-klaim yang tidak tepat.

Menyusul pernyataan Trump, para pendukungnya menyerbu Capitol, memaksa anggota parlemen untuk menangguhkan pengesahan hasil pemilu. Bangunan itu diisolasi dan lima orang tewas.

Pasal pemakzulan menyatakan bahwa Trump “berulang kali mengeluarkan pernyataan tidak benar yang menegaskan bahwa terjadi penipuan dalam hasil pemilihan presiden dan hasilnya tidak boleh diterima”.

Dalam pasal pemakzulan itu disebut Trump kemudian mengulangi klaim ini dan “dengan sengaja membuat pernyataan kepada orang banyak yang mendorong dan diperkirakan mengakibatkan tindakan-tindakan tidak sesuai hukum di Capitol”, yang berujung pada kekerasan dan hilangnya nyawa.

“Presiden Trump sangat membahayakan keamanan Amerika Serikat dan lembaga-lembaga pemerintahannya, mengancam integritas sistem demokrasi, mengganggu transisi kekuasaan secara damai, dan membahayakan cabang pemerintahan yang setara.”

Pekan lalu, 139 anggota Partai Republik menolak menerima hasil pemilu 2020 dan kekalahan Trump. (Red)

Sumber: BBC New

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.