Selasa, 14 Juli 20

PPP Djan Faridz Naikkan Nilai Tawar, Apa Laku?

PPP Djan Faridz Naikkan Nilai Tawar, Apa Laku?

PPP Djan Faridz Naikan Nilai Tawar, Apa Laku?

Mantan Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP H Suryadharma Ali (SDA) mengatakan baru-baru ini bahwa PPP yang dipimpin Ketum Djan Faridz tetap berada di Koalisi Merah Putih (KMP). Sementara itu di tempat terpisah, menanggapi pernyataan SDA pengamat politik Gugun Haryanto menganggap bahwa pernyataan tersebut sebagai untuk meningkatkan nilai tawar. Kepada siapa? Tentu kepada KMP, katanya. Benarkah?

Antara harapan dan kenyataan atau fakta memang terkadang kerap  berbeda,  misalnya, mungkin saja yang diasumsikan Gugun benar. Namun faktanya, tentu masih perlu kita lihat dan buktikan. Kita ambil contoh tentang sikap SDA yang sepertinya begitu percaya diri. Tetapi apakah sikapnya itu sepadan dengan faktanya?

Bila kita lihat kenyataan bahwa anggota dewan yang di Senayan sebagian besar bergabung ke kubu Romahurmuzij (Romi), dan hanya beberapa gelintir saja yang ikut kubu SDA atau Djan Faridz, tentunya nilai tawar mereka jadi tidak cukup menggembirakan.

Terlebih bila kita mau nengok kebelakang, PPP mereka yang bergabung dengan KMP ternyata juga tidak mendapat jatah  kursi pimpinan DPR maupun MPR. Sehingga kita patut pertanyakan nilai tawar mana yang bisa kita jual?

Dan saat ini terus terang, diikuti PPP atau tidak, KMP sudah mulai condong dukung Perppu Pilkada. Sehingga banyak pengamat menduga bahwa Perppu Pilkada akan disahkan secara aklamasi.

Bahkan tidak hanya itu, keberadaan KMP pun belum tentu langgeng, mengingat dalil politik yang cukup terkenal dan diketahui banyak orang, bahwa di dalam dunia politik tidak ada persekutuan yang abadi, yang ada hanyalah pertemanan sesaat karena kepentingan dan tujuan yang sama.

Dan KMP muncul atau dibutuhkan sesungguhnya hanya saat Pemilihan Presiden (Pilpres) saja. Itu pun karena terikat peraturan perundangan yang ada bahwa hanya partai politik atau gabungan partai poliik yang memenuhi syarat yang bisa mengajukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Sekarang, setelah Pilpres berlalu, pertanyaannya adalah apakah masih perlu dan efektifkah kita membicarakan soal koalisi dan berkoalisi? Untuk apa? Sebab kita semua pasti tahu, bahwa untuk meraih suara di Pemilu 2019, semua partai adalah pesaing kita. Tidak peduli apakah mereka yang tergabung di Koalisi Indonesia Hebat (KIH) atau pun KMP.

Dan semua partai pasti ingin meraih suara sebanyak-banyaknya, pasti ingin jadi pemenang. Pertanyaannya adalah apakah setelah mereka menang kemungkinan kemenangannya diberikan kepada pihak lain? Jawabnya mudah. Hanya orang bodoh yang mau membuang makanan yang sudah ada di dekat mulutnya. Partai yang menang Pemilu pastilah ingin mengajukan calonnya sendiri.

Hanya mereka saja yang merasa kalah sebelum bertanding, yang berjanji mau mencalonkan orang lain. Dan prang yang semacam ini rasanya janggal ada di dunia politik kita yang penuh tikungan dan telikungan.Dan juga hanya kita yang mau dikadalin yang percaya dengan janji politik.

Kembali kepada PPP Djan Faridz yang diasumsikan sedang  menaikan nilai tawar mungkin saja asumsi itu  benar. Hanya persoalan dan pertanyaannya laku atau tidak? Kalau bicara laku dan tidak kita harus melihat PPP secara utuh, dan sekarang ini ada dua kubu, selain Djan Faridz ada Romi.

Dibanding kubu Djan Faridz, punya Romi tentu lebih menarik untuk ditawar. Pertanyaanya sekarang adalah jika ada dua boneka mau dijual atau ditawarkan kepada Anda, kira-kira boneka mana yang mesti dibeli? Jawabannya kita tunggu. (Arief Turatno, wartawan senior)

 

Related posts