Rabu, 17 Agustus 22

Posisi Kursi Dirut PLN Harus Direvolusi Mental

Posisi Kursi Dirut PLN Harus Direvolusi Mental
* Ilustrasi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). (Foto: joss.co.id)

Jakarta, Obsessionnews.com – Posisi Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sampai saat ini masi kosong, artinya posisi tersebut belum ada yang menempati, yang ada hanya Plt Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani.

Namun untuk menempati posisi Dirut PLN yang ideal, seseorang harus memiliki kriteria yang pas dalam memerani posisi tersebut. Misalnya, dia cerdas dan professional. Tak hanya itu, dia juga harus memiliki kemampuan teknis di bidang perlistrikan.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menjelaskan, syarat umum secara general untuk menjadi seorang Dirut PLN tentu dilihat dari kebijakan publik yang paling utama, yakni orang yang mempunyai karakter, amanah, integritas, dan professional. Artinya menguasai betul bidangnya dan mempunyai integritas dan professional.

Menurutnya, kalau mekanisme itu dilakukan dengan formulasi tepat, artinya dari awal melakukan rekuitmen, pengembangan SDM dan sebagainya, juga mempersiapkan talen-talen dalam posisi strategis di PLN, itu pasti tidak akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan pimpinan PLN.

“Saya yakin di PLN juga ada pengembangan SDM seperti itu,” ujar Enny kepada obsessionnews.com, Kamis (8/8/2019).

Namun yang menjadi persoalan, lanjut dia, selama ini semua tidak bisa menutup mata bahwa ada intervensi secara politik dalam penetapan posisi-posisi strategis di dalam BUMN di Indonesia, tidak hanya di PLN saja.

“Itu yang harus di revolusi mental,” tegas perempuan kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 27 Juli 1971 itu.

Karena BUMN itu bukan perpanjangan tangan pemerintah, sehingga kewenangan pemerintah dalam pengelolahan BUMN itu harus berdasarkan standar baku. Kalau BUMN ini sudah punya aturan main, sudah ada pola-pola pengembangan dalam kasus pemilihan dirut, ini sudah punya jalur pengembangan SDM dan sudah punya formula, atau aturan main, jangan terlalu di interfensi oleh kepentingan-kepentingan politik.

“Ini yang bikin rusak,” ungkap perempuan berdarah Jawa Tengah ini.

Ketika disinggung Interfensinya seperti apa, Enny tak membeberkan secara detail. “Interfensinya tiba-tiba siapa yang menjadi Dirut PLN itu ditetapkan oleh Kementerian BUMN, secara tiba-tiba. Ini tidak hanya di PLN,” katanya.

Semestinya yang ideal semua korporasi punya semacam pengembangan talenta dan juga punya formula. Kalau di perusahaan-perusahaan swasta itu biasanya merangkak dari bawah, dari staf dulu, terus naik ke jenjang berikutnya sampai ke jenjang yang paling tinggi.

“Nanti yang berada di pusat kewenangan yang menjadi leader. Jadi harus ada formula yang baku,” pungkas Enny.

Seperti diketehui, Sofyan Basir dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan dirinya sebagai tersangka kasus dugaan suap pembangunan Pembangkit Lstrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1 di Provinsi Riau.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kemudian mengangkat Sripeni Inten Cahyani sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PLN, sekaligus merangkap sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1. Keputusan ini berlaku sejak 2 Agustus 2019.

Belum lama menjabat Plt Dirut PLN Sripeni menjadi sorotan publik terkait padamnya listrik di Jawa pada Minggu (4/8). Sripeni dinilai tidak pas menduduki posisi Plt Diut PLN, sementara kursi Dirut PLN masih kosong. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.