Senin, 20 September 21

Ponpes Darunnajah Wakafkan Tanah-Bangunan Rp1,6 Triliun

Ponpes Darunnajah Wakafkan Tanah-Bangunan Rp1,6 Triliun

Jakarta, Obsessionnews – Pondok Pesantren (Ponpes) Darunnajah telah mewakafkan tanah seluas 602 hektar senilai Rp1,6 triliun untuk pendidikan. ‎Ini menjadi peristiwa sejarah di mana warisan keluarga diwakafkan untuk kepentingan umat Islam.

“Kami mengharapkan rido Allah SWT dari Wakaf ini, kini Pondok Pesantren Darunnajah adalah milik umat Islam, ini juga amanat dari Alm. KH. Abdul Manaf Mukhayyar sebagai wakif dan pendiri pondok pesantren Darunnajah,” ungkap KH Saifuddin Arief SH MH, Ketua Yayasan Darunnajah di Pesantren Darunnajah, Ulujami Raya, Jl. Pesanggrahan 86, Jakarta, Jumat (27/11/2015).

Menurut KH. Saifuddin Arief, wakaf ini menjadi bagian terpenting kepeloporan Darunnajah dalam berpartisipasi aktif mensejahterahkan umat Islam dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini sesuai dengan tema syukuran 54 tahun Darunnajah “Dari Santri Untuk Bangsa”. Harapannya masyarakat memahami pentingnya wakaf dan operasionalisasi wakaf produktif.

“Alhamdulillah ini sudah dirapatkan, dan menjadi keputusan bersama, semua ikhlas dan bahagia dengan keputusan ini,”  lanjut KH Saifuddin Arief.

Acara pendantanganan Piagam Wakaf ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 28 November 2015, di Kampus Pondok Pesantren Darunnajah, Jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan 86, Jakarta. Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin dijadwalkan hadir dalam acara bersejarah ini. “Insya Allah Pak Lukman Hakim Saifuddin hadir, sejauh ini beliau konfirm bisa, semoga tidak ada halangan,” ujarnya.

Pendiri dan juga Pimpinan Ponpes Darunnajah KH Mahrus Amin menyampaikan bahwa Pesantren telah ada sebelum Indonesia berdiri, semangatnya ketika itu adalah memberi untuk Indonesia, bukan meminta. “Nah, bagi Pesantren yang berdiri setelah Indonesia merdeka, semangat ini tidak boleh hilang. Pesantren harus terus bekerja dan berfikir apa yang bisa diberikan untuk kemajuan Indonesia,” jelasnya.

gerbang pondok pesantren darunnajah
gerbang pondok pesantren darunnajah

 

KH Mahrus juga mengungkapkan, tahun 2015, aset tanah wakaf Darunnajah mencapai 677,5 hektar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Riau, Kalimantan, Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Lampung, Bengkulu,  dan lain-lain. Selain tanah, Darunnajah memiliki berbagai macam aset wakaf seperti lembaga pendidikan, bangunan, perkebunan, pertanian, dan lain sebagainya. Aset wakaf tersebut memerlukan manajemen pengelolaan yang baik agar menjadi produktif.

“Konsep pengelolaan wakaf Pesantren Darunnajah mengacu pada tujuan hukum Islam (maqashid al-Syari’ah) yaitu mewujudkan kemaslahatan dan menghindarkan madharat. Wakaf bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan bantuan kemanusiaan yang dilembagakan agar dapat memberikan manfaat yang optimal dan berkelanjutan. Wakaf dapat berupa benda tidak bergerak, benda bergerak, uang dan jasa,”paparnya.

Sebagai pondok pesantren yang mandiri, Darunnajah kata KH. Mahrus,  juga memiliki Unit-unit usaha ekonomi Yayasan Darunnajah yang dijalankan dengan prinsip swakelola, yang berarti bahwa semua usaha berasal dari dana yayasan Darunnajah. Hasil dari pengelolaan unit-unit usaha ekonomi tersebut digunakan untuk mengembangkan pesantren.

“Hasil usaha ini tidak dibagi-bagi kepada pengurus dan pengelola Yayasan Darunnajah, sehingga mereka tetap bersikap ‘iffah yaitu menjaga diri untuk tidak mengambil hak-hak dari Pondok, atau kalau terpaksa menerima sekadar ghurfatan biyadihi atau hanya seceduk tangan saja,” tuturnya.

KH Saifuddin Arief menambahkan, Darunnajah juga memiliki lembaga pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi. “Yang membuat Darunnajah bisa berkembang adalah ruh keihklasan, kerja keras para Kyai dan guru serta doa dari segenap masyarakat Indonesia,” imbuhnya.

Diketahui, kini Pesantren-pesantren Darunnajah  sudah menyebar tidak hanya di Ulujami, Jakarta Selatan (Darunnajah Pusat). Ada juga di Cipining Bogor (Darunnajah 2), Serang Banten (Darunnajah 3 Al-mansur), Padarincang Serang (Darunnajah 4 Tsurayya), Cikeusik (Annahl Darunnajah 5), Mukomuko Bengkulu (Annakhil Darunnajah 6), Nunukan Kalimantan timur  (Jaziratunnajah Darunnajah 7), Cidokom Parung Bogor (Annur Darunnajah 8), Pamulang Tangerang Selatan (Al Hasanah-Darunnajah 9), Pesanggrahan Jakarta Selatan (Daud Ali – Darunnajah 10), Seluma Bengkulu (Al Barokah- Darunnajah 11), Dumai Riau (Al-Barokah, Darunnajah 12), Cidokom Parung (Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Rabi’ul Qulub Darunnajah 13), Pabuaran, Serang-Banten (Nurul Ilmi, Darunnajah 14), Teluk Sagara Bengkulu (Pesantren Tahfidz Quran Muhammad Amin-Darunnajah 15), Lampung (Darunnnajah 16), dan di Serang (Darunnajah 17).

Ponpes Darunnajah ini didirikan oleh Alm. KH. Abdul Manaf Mukhayyar, Alm, Letkol (Purn) Drs. H. Kamaruzzaman dan KH. Mahrus Amin. KH. Abdul Manaf Mukhayyar selain ulama, juga merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia, dia turut memanggul senjata di sekitar Rawabelong, Kebayoran Lama dan Palmerah. Majalah Pesan tahun1989 menjelaskan Abdul Manaf dan ayahnya juga membuka dapur umum untuk para pejuang di masa revolusi fisik. (Albar)

Post source : pondok pesantren darunnajah

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.