Minggu, 24 Oktober 21

Polri Masih Selidiki Penemuan Ribuan Sapi di Tanggerang

Polri Masih Selidiki Penemuan Ribuan Sapi di Tanggerang

Jakarta, Obsessionnews – Polri berhasil membongkar fakta, dengan adanya ribuan sapi siap potong yang sengaja dibiarkan. Fakta tersebut didapat dari penggeledahan perusahaan penggemukan sapi (feedloter) pada Rabu (12/8) kemarin.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Victor E Simanjuntak mengatakan, berdasarkan temuan penyidik di tempat penggeledahan pertama, yaitu feedloter PT Brahman Perkasa Sentosa (PT.BPS) di Jalan Kampung Kelor Nomor 33, Sepatan, Tangerang ada 500 sapi. Kemudian di tempat kedua PT. Tanjung Unggul Mandiri (PT.TUM), Jalan Tanjung Burung, Desa Kandang Genteng Nomor 33, Teluk Naga, Tangerang terdapat sekitar 4.000 sapi siap potong.

“Itu tidak dipotong dengan alasan tidak laku atau tidak ada pembelinya, ini kita lagi selidiki. Kami menduga ada yang niat menahan sapi-sapi itu,” ujar Victor di Bareskrim, Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2015).

Namun, atas penggeledahan itu penyidik belum menetapkan tersangka. Mereka baru memeriksa para saksi dan pemilik perusahaan tersebut mengenai berapa jumlah sapi yang tiba, berapa yang sudah dikeluarkan, dan kenapa tidak dipotong.

“Nah ini akan dikroscheck ke Kementan berapa jumlah alokasinya, kroscheck ke Kemendag berapa yang disetujui? lalu ke bea cukai berapa realisasi dari impornya, baru itu,” katanya.

Victor menjelaskan, berdasarkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) seharusnya stok sapi itu cukup hingga Desember mendatang. “Kita cek di dua tepat itu lalu kita hitung-hitung ternyata perhitungan KPPU betul. Tapi ditahan sama dia (feedloter),” ungkapnya.

Sementara itu, saat ini harga daging sapi di pasar Sumatra hingga Jawa Timur dilaporkan mencapai Rp120-Rp130 ribu per kg, naik rata-rata 30% sejak sebelum lebaran.

Pemerintah dan Polri menduga lonjakan harga terjadi karena para feedloter menahan pasokan sapi sebagai reaksi atas keputusan pemerintah membatasi impor sapi bakalan kuartal III/2015, yaitu hanya 50.000 ekor.

Salah satu alasan pemerintah menekan kuota impor sapi bakalan kuartal III yaitu sikap importir yang selama ini dinilai tidak kooperatif dalam menjaga laju harga di pasar dengan menahan stok. (Purnomo)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.