Rabu, 12 Desember 18

Ini Perbedaan Sistem Pemilu Indonesia dengan Amerika

Ini Perbedaan Sistem Pemilu Indonesia dengan Amerika
* Ilustrasi Pemilu di Indonesia dan Amerika. (foto: brilio.net)

Jakarta, Obsessionnews.comPemilihan umum (Pemilu) adalah proses memilih orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan.

Pemilu dilaksanakan di Indonesia pertama kali adalah pada 1955 yang memiliki payung hukum yang cukup kuat, yaitu Undang undang no.27 tahun 1953 yang menyatakan bahwa pemilu dilakukan harus secara langsung, umum , bebas dan rahasia.

Sistem pemilu di Indonesia adalah sebuah cara untuk menerapkan dan memberi kebebasan seluas luasnya pada setiap warga negara agar memakai hak pilihnya untuk memilih wakil rakyat yang dinginkan sesuai dengan jenis-jenis pemilu di Indonesia.

Pelaksanaan Pemilu di Indonesia bisa dibilang tidak kalah canggih dengan negara pionir demokrasi terbesar di dunia, Amerika Serikat. Walaupun sama-sama mengusung sistem pemerintahan republik, dan azas negara yang berlandaskan demokrasi nyatanya konsep pemilu di Amerika dan Indonesia sangatlah berbeda.

Secara garis besar, perbedaan antara pemilu Amerika dengan Indonesia adalah  kalau pemilu di Indonesia diadakan setiap 5 tahun sekali untuk memilih presiden. Sedangkan pemilu di Amerika diadakan setiap 2 tahun sekali, sementara pemilihan presiden diadakan setiap 2 pemilu.

Walaupun diselenggarakan setiap 2 tahun sekali, tetapi hanya setiap 2 tahun pemilu itu digunakan untuk pemilihan anggota DPR dan beberapa dari anggota senator dan 4 tahun sekali jabatan Presiden AS diperebutkan, dan pemilu yang inilah yang umumnya menarik perhatian dunia, contohnya Pemilu AS 2000 dan Pemilu AS 2004.

Pemilu di Indonesia diikuti oleh banyak partai dengan kekuatan yang relatif seimbang. Sedangkan Pemilu di Amerika hanya diikuti oleh 2 partai, Republik dan Demokrat. Walaupun Amerika terbuka untuk adanya partai lain, dan diikuti partai lainnya, namun dominasi Republik dan Demokrat terlalu besar sehingga partai lainnya tidak memiliki pengaruh sama sekali.

Di Indonesia, partai yang kalah dapat berkoalisi dengan partai yang menang, sehingga batas antara “pemenang pemilu” dengan “oposisi yang kalah pemilu” tidak begitu jelas. Kalau di Amerika, partai yang kalah otomatis menjadi partai oposisi.

Di Indonesia, untuk calon presiden (Capres) ditentukan oleh ketua umum bersama dengan internal partai dan rapat koalisi. Namun di Amerika, Capres ditentukan melalui konsensi partai yang diikuti oleh kader partai.

Menurut hukum konstitusi Amerika Serikat, syarat Capres minimal berumur 35 tahun, tinggal di Amerika Serikat setidaknya selama 14 tahun, berpasangan dengan wakil presiden dari negara bagian yang berbeda dengan presiden, seorang warga negara Amerika yang lahir di Amerika Serikat, artinya menutup kesempatan bagi siapapun yang tidak lahir di Amerika Serikat.

Walaupun dikatakan pemilihan umum di Amerika adalah negara yang paling menjunjung demokrasi, namun pemilu di Amerika tidaklah menghitung bulat hasil “mayoritas-minoritas”.

Di Indonesia, pasangan Capres-Cawapres dengan perolehan suara terbanyak akan langsung dinobatkan sebagai pemenang pemilu. Sedangkan di Amerika, tidak langsung menang karena masih ada tahap electoral college.

Dalam bahasa yang lebih simple lagi, jika hasil suara pemilih A 400 juta suara, sementara B hanya 200 juta suara, belum tentu A menang menjadi presiden. Ini semua karena adanya Electoral College. Electoral college adalah sistem perhitungan jumlah suara yang didasari nilai keterwakilan sebuah negara bagian. Setiap negara bagian memiliki nilai keterwakilan yang berbeda-beda. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.