Kamis, 8 Desember 22

Politik, Mengapa Harus Nyinyir?

Politik, Mengapa Harus Nyinyir?
* ilustrasi - politik. (VictoryNews)

Saya tidak perlu mengemukakan definisi dari para ahli karena tulisan ini bukan skripsi.

Saya coba angkat dari fakta bahwa POLITIK adalah setiap usaha atau kegiatan yang bertujuan memenangkan KEKUASAAN (hususnya) dalam pemerintahan.

Oleh karena itu, kosa kata POLITIK bersifat FITRAH seperti kosa kata lainnya. Jika kemudian ada yang memvonis bahwa politik itu kotor, maka yang KOTOR bukanlah kata politik dengan definisi di atas. Boleh jadi, vonis KOTOR itu berlaku kepada para pelaku politiknya baik perseorangan sebagai politisi ataupun kepada lembaga politiknya seperti partai di Indonesia. Salah alamat kalau memvonis KOTOR kepada politik. Dan ini sebagai pembodohan kepada Ummat Islam sebagaimana dilakukan oleh para penjajah dahulu.

Dari kefitrahan kata politik dengan definisi di atas, saya tegas mengatakan bahwa perjuangan ROSULULLOH SAW selama hidup mengemban risalahnya adalah perjuangan politik (dalam bahasa hari ini) yang berujung kemenangan menjadi “penguasa” di Madinah, meluas ke Mekah dst.

Perjuangan politik adalah perjuangan beresiko tinggi sebagaimana dialami oleh Rosululloh SAW sebelum futuh Mekkah dan atau oleh bangsa “terjajah” manapun dalam mencapai kekuasaan. Beruntung bahwa perjuangan politik Ummat Islam Indonesia HARI INI adalah perjuangan “ghoeri dzis syaukah” (tanpa senjata), CUKUP hanya dengan mengumpulkan SUARA TERBANYAK di negara dengan masyarakat muslim sebagai mayoritas.

Keberhasilan politik adalah PINTU GERBANG paling efektif, cepat dan produktif dalam berda’wah risalah “anda mau jadi menteri, angkat saya jadi presidennya”

13 tahun perjuangan Rosululloh SAW di Mekkah (sejak risalah), HASILnya tidak cukup menggembirakan atau sangat minimal. Tetapi perjuangan beliau 10 tahun saja di Madinah, HASILnya LUAR BIASA, Islam menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Pertanyaan kritisnya, apa yang BEDA antara perjuangan Rosululloh SAW di Mekah (13 tahun) dengan hasil minimal dengan di Madinah (10 tahun) dengan hasil maksimal. Tidak ada jawaban lain yang membedakan kecuali KEKUASAAN. Di Mekah beliau rakyat biasa atau sebut saja “tokoh informal”. Di Madinah beliau adalah “PENGUASA”.

Masihkah anda nyinyir dan tidak peduli terhadap politik?

(Ahmad Djuanda, Alumni 212)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.