Rabu, 11 Desember 19

Polisi Tak Boleh Tangkap Penghina Istri Raja Malaysia Permaisuri Raja Malaysia Larang Polisi Tangkap Pengeritik di Medsos

<span class=Polisi Tak Boleh Tangkap Penghina Istri Raja Malaysia Permaisuri Raja Malaysia Larang Polisi Tangkap Pengeritik di Medsos">
* Raja Permaisuri Agong bersama suaminya, Sultan keenam Pahang, Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Syah Ibni Sultan Ahmad Syah Al-Musta'in Billah. (BBC)

Permaisuri Raja Malaysia melarang polisi menangkap pengeritiknya di media sosial (twitter) di negara demokrasi.

Permaisuri Malaysia kembali ke Twitter untuk menyatakan kekecewaan kepada polisi karena menangkap orang-orang diduga menghina dirinya di medsos.

Sang Raja Permaisuri Agong mengatakan ia dan raja tidak pernah meminta polisi untuk bertindak, dan ia sangat kesal mendengar kabar tersebut.

Hal itu diungkapkan sang permaisuri setelah polisi menangkap seorang aktivis di kota Klang pada Jumat lalu karena dituduh mengirimkan postingan yang menghina.

Raja Permaisuri Agong diduga pertama kali menghapus akunnya pada hari Rabu.

Langkah tersebut membuat ribuan warga Malaysia mendesaknya untuk mempertimbangkan kembali dan terus mengunggah kabar terbaru.

Raja Permaisuri Agong – nama lengkap Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah Sultan Iskandar – adalah istri kepala negara Malaysia saat ini.

Malaysia memiliki sistem monarki konstitusional yang tidak biasa, di mana jabatan puncaknya dirotasi antara sembilan keturunan penguasa setiap lima tahun.

 

Dalam serangkaian twit yang sekarang telah dihapus, Raja Agong Permaisuri mengatakan ia awalnya meninggalkan Twitter karena alasan pribadi.

“Saya benar-benar kesal karena polisi telah menahan orang-orang itu. Selama bertahun-tahun, saya dan suami tidak pernah membuat laporan polisi tentang komentar-komentar buruk tentang kami,” tulisnya, menurut surat kabar Straits Times.

“Ini negara bebas,” tambahnya.

Ia mengaktifkan kembali akun Twitternya setelah mendengar tentang penangkapan itu karena merasa “marah dan kesal”.

“Saya sendiri mengatakan kepada Pihak Istana untuk berkata kepada polisi agar tidak mengambil tindakan apa pun. Saya ulangi lagi, saya tidak menonaktifkan akun saya karena mereka,” katanya.

“Suami saya dan saya tidak pernah membuat laporan polisi, dan saya tidak pernah sedih (ketika saya membaca komentar tentang saya); sebaliknya, saya tertawa karena Allah tahu siapa saya!” ia menambahkan.

 

Pada Jumat malam, Khalid Ismath, anggota partai Parti Socialis Malaysia (PSM), ditangkap karena diduga telah mengunggah pesan-pesan yang menghina permaisuri.

Ia dijerat dengan undang-undang penghasutan 1948 – yang sudah lama dikritik oleh oposisi politik dan kelompok hak asasi – kemudian terpaksa bermalam di kantor polisi sebelum dibebaskan dengan jaminan pada hari Sabtu.

Kalangan pengacara dan kelompok pegiat hak asasi mengkritik penangkapan Ismath. Sevan Doraisamy, kepala kelompok HAM setempat Suaram, mengatakan langkah tersebut “tidak lebih merupakan intimidasi” oleh polisi.

Wakil ketua PSM S. Arutchelvan mengatakan kepada Straits Times bahwa penangkapan tersebut tidak perlu dan mengatakan Ismath membantah telah menghina permaisuri. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.