Minggu, 26 Juni 22

Polisi Desak Otopsi, Keluarga Allya Merasa Tertekan

Polisi Desak Otopsi, Keluarga Allya Merasa Tertekan

Alfian Helmy, ayah korban malpraktik di klinik Chiropractic First cabang Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta Selatan, kini merasa tertekan. Pasalnya, pihak kepolisian Polda Metro Jaya mendesak keluarga korban agar dilakukan otopsi terhadap jenasah almarhumah Allya Siska Nadya. Padahal, menurut dokter ahli, otopsi hanya akan sia-sia mengingat jasad Allya sudah dikubur selama lima bulan.

Kepada obsessionnews, Jumat (8/1) Alfian juga mencoba meluruskan pernyataan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti, yang dikutip media massa nasional pada Rabu, 6 Januari 2016. Menurut Krishna, ada persoalan yang menghambat proses penanganan kasus Allya. Salah satunya berasal dari pihak keluarga, yang tidak menyetujui tindakan otopsi terhadap jenazah Siska.

Alfian menegaskan, pihak keluarga sebelumnya tak pernah menyatakan menolak otopsi. Ketika Allya sudah dinyatakan meninggal pada 6 Agustus 2015 di RS Pondok Indah (RSPI), tak ada seorang pun dari pihak rumah sakit yang menyarankan pihak keluarga agar dilakukan otopsi. “Sebagai orang awam, kami tidak paham, apalagi saat itu kami sangat berduka,” ungkapnya.

Alfian meneruskan, seandainya waktu itu ada yg menghampiri kami untuk menyarankan otpsi demi mencari tahu penyebab kematian Allya, pasti kami setuju. “Akhirnya jenasah kami bawa pulang untuk kemudian dimakamkan,” tambahnya.

Ia lantas menuturkan, enam hari setelah meninggalnya Allya, tepatnya 11 Agustus 2015, orang tua dan kakak Allya menemui seorang dokter ahli bedah ortopodi di RSPI, Dr.dr.Luthfi Gatam, Sp.OT. Kebetulan, dokter ini pernah menangani Allya sekitar bulan Juli 2015. “Waktu kami sampaikan bahwa Allya sudah meninggal, dokter Luthfi terkejut. Sebab menurut dokter Luthfi, Allya kondisi Allya sebetulnya baik-baik saja, meskipun ada keluhan sakit di leher,” tuturnya.

Dokter Luthfi lantas menyarankan Alfian untuk menempuh proses hukum. Alasannya, ilmu chiropractic memang belum jelas, meskipun kliniknya sudah menjamur di mana-mana. Dokter Luthfi juga menyarankan ALfian untuk berkonsultasi dengan Professor Willa, seorang ahli kriminal kesehatan. “Kami pun mulai mengumpulkan data-data dan kami melapor ke polisi pada 12 Agustus 2015.”

Pada la[oran pertama, status kasusnya masih proses penyelidikan. Baru 15 hari kemudian, penyelidikan naik menjadi proses penyidikan. Alfian mengungkapkan, tak ada permintaan otopsi dari pihak kepolisian selama proses itu. Justru sebaliknya, dalam proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) polisi, seorang penyidik justru menyarankan agar tidak perlu dilakukan otopsi.

“Sebagai orang muslim, tentu tidak bagus membongkar kubur. Lebih baik kita cari dalil-dalil lain agar tidak sampai dilakukan otopsi,” kata Alfian menirukan ucapan penyidik.

Atas desakan polisi untuk dilakukan otopsi itulah, Alfian dan pihak pengacaranya, hari ini menulis surat ke kepolisian yang pada intinya menyatakan keberatan jika otopsi harus dilakukan. Dalam surat itu, disebutkan bahwa pihak keluarga pada awalnya tidak keberatan jika dilakukan otopsi.

Tapi jika otopsi dilakukan setelah berselang lima bulan, maka keluarga berkeberatan. Alasannya, Alfian mengutip pernyataan ahli ortopedi dr. Luthfi Gatam, yang menyebutkan bahwa otopsi atas dugaan kematian akibat pecahnya pembuluh darah (diagnosis dokter di RSPI) hanya bisa dilakukan antara 2-3 minggu setelah jenasah dimakamkan.

“Menurut dr. Luthfi, otopsi saat ini tidak akan ada gunanya lagi, karena jaringan di tubuh jenasah sudah tak ada, hanya tinggal tulang belulang,” ungkap Alfian, yang kini mengaku deg-degan dengan adanya tekanan untuk otopsi.

Tempat Siska dimakamkan.
Tempat Siska dimakamkan.

Kasus dugaan malpraktik Allya Siska Nadia ini pertama kali diberitakan oleh situs berita Obsessionnews.com, pada Senin, 4 Januari 2015, baru kemudian diberitakan oleh berbagai kalangan media massa.

Tim Obsessionnews

Baca juga:

Allya Siska, Gadis Cantik Wafat Setelah Terapi
Bayar Pengobatan 17 Juta, Siska Malah Meninggal
Salah Terapi di Chiropractic, Nyawa Adikku Melayang 6 Jam
Siska dan Dunia Sosmed
Kasus Malpraktik Siska, IDI Belum Dipanggil Polda
Anggota DPR ini Nyaris Jadi Korban Tewas Mirip Siska
Kasus Siska, DPR Sarankan Pihak Korban Gugat Dinas Pariwisata
Ternyata, Siska Tidak Pernah Mau Merepotkan Orangtua
Meninggalnya Siska Mengagetkan Teman-temannya
Kasus Siska, Kejanggalan Klinik First Chiropractic Terbongkar
Belajar dari Kasus Siska, Hati-hati Memilih Tempat Berobat!
Izin Klinik Kesehatan Masih Amburadul, Nyawa Siska Melayang
‘Pembunuh’ Siska Diduga Kabur, Polisi Sudah Proses Hukum
Terapis ‘Pembunuh’ Siska Tersangkut Kasus Malpraktik di AS
Akhirnya, Ketahuan Klinik Siska Meninggal Tak Punya Izin
Metode Chiropractic Ternyata Sudah Makan Korban Sejak Lama
Ternyata, Chiropractic Sekelas Pijat Tradisional

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.