Jumat, 7 Agustus 20

Polda Metro Jaya Berantas Mafia Tanah di Cakung

Polda Metro Jaya Berantas Mafia Tanah di Cakung
* Penipu modus jual-beli tanah, Mardani (berbaju orance). (Foto: Istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.comPenyidik Jatanras Polda Metro Jaya membekuk Penipu modus jual-beli tanah, yakni Mardani. Mardani diduga menilap uang sebesar 64 juta milik seorang pengusaha.

Kasus bermula saat seorang pengusaha, yakni Maman tengah mencari lahan kosong untuk dibeli. Setelah melakukan survei ditemukanlah lahan kosong seluas 6 hektar di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Setelah melakukan berkali-kali kunjungan ke lokasi, banyak informasi dari warga sekitar bahwa pemilik lahan tersebut adalah Mardani.

“Itu hasil survei lapangan, orang-orang sekitar saya tanyain, termasuk orang yang garap tanah itu,” ujar Maman atau calon pembeli di Jakarta, Rabu (18/3/2020).

Setelah mendapatkan nomor Mardani maka langsung dilakukan lobi-lobi perihal niatnya hendak membeli tanah tersebut. “Enggak sembarangan kita, namanya tanah di Jakarta kan nominalnya enggak bisa dibilang kecil, jadi kita juga hati-hati,” ujarnya.

Dalam lobi-lobi tersebut, Mardani meminta untuk diberikan duit sebesar Rp 100 juta dengan tipu muslihatnya. Mardani yang diketahui merupakan bagian dari PT Salve Veritate, PT Sigma Dharma Utama, dan Tabaluyan dari penuturan dia kepada Penyidik itu meminta duit Rp 100 juta hanya untuk melihat surat-surat sebelum transaksi jual beli.

Calon pembeli pun menyanggupi permintaan Mardani. “Kita iyain, tapi dengan cara pembayaran bertahap. Kenapa? Biar kita bisa terus lobi-lobi dengan dia, jaga waktu untuk bisa terus kumpul informasi karena status tanahnya kan belum jelas. Jadi tidak kita bayarkan secara penuh,” terang calon pembeli ini.

Pembayaran yang sudah diterima Mardani total sebesar Rp 64 juta yang sebagian dikirimkan ke rekening atas nama Noufal hadyanto yang notabene adalah anak kandung dari Mardani. Jadi masing-masing transaksi sebesar Rp25 juta, Rp20 juta, dan Rp10 juta berupa tunai sewaktu pertemuan dengan Mardani di Aeon Mall, dan lokasi tanah.

“Sisanya itu saya pecah ke jumlah yang lebih kecil, satu juta-satu juta agar tetap bisa kontak dengan dia sampai informasi tentang tanah itu benar-benar jelas,” ungkapnya.

Sampai suatu ketika si pengusaha atau calon pembeli bertanya kepada Mardani mengenai status kepemilikan tanah, Mardani enggan menjelaskan. Mardani menilai tidak adanya keseriusan membeli tanah lantaran lambat dalam membayar duit Rp100 juta.

“Dia bilang, ngirimnya (duit) sedikit-sedikit, enggak serius ini mah,” ujarnya.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.