Minggu, 17 Oktober 21

Polana B Pramesti: Tangguh Mengatasi Tantangan

Polana B Pramesti: Tangguh Mengatasi Tantangan
* Technical Director PT Angkasa Pura I, Polana Banguningsih Pramesti.

Jakarta, Obsessionnews.com – Dunia perhubungan dan kebandarudaraan bukan hal baru bagi Polana B Pramesti. Alumnus Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini telah menggeluti bidang tersebut sejak tahun 1987.

Mengawali karier di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, dari menjabat sebagai Kepala Seksi Mutu Konstruksi Sipil, hingga Kepala Sub Direktorat Prasarana Bandara Kementerian Perhubungan, Polana terus menantang diri di bidang tersebut.

Kini, kecintaan pada dunia teknik membawa Polana Banguningsih Pramesti berperan penting dalam pembangunan bandarabandara di Indonesia. Perempuan berprestasi yang menjabat sebagai Direktur Teknik Angkasa Pura I (AP I) ini berhasil menjadikan bandara-bandara yang dibangunnya sebagai bandara terbaik tingkat dunia.

Fokusnya dalam bekerja selama ini berpusat pada pemenuhan sarana dan prasarana perhubungan yang sesuai dengan permintaan lalu lintas sebagai mandatory issue untuk pelayanan transportasi baik darat, laut, maupun udara.

“Banyak sekali yang sudah saya lakukan untuk aspek ini, di antaranya sejak berperan sebagai regulator di kementrian perhubungan yakni membangun bandara baru di Padang, Surabaya, Ambon, Manado, Palembang, Gorontalo, Labuhan Bajo, dan lainnya. Sedangkan saat ditugaskan di AP I, sudah selesai membangun tiga bandara besar (Bali, Balikpapan, dan Surabaya Terminal 2) maupun meningkatkan kapasitas alat produksi utama. Antara lain overlay 11 bandara, penambahan apron dan taxiway, penataan dan perluasan terminal dan lainnya,” paparnya.

Saat ini ada 10 proyek besar dan sedang yang sudah dilaksanakan maupun akan segera dilaksanakan, yaitu pembangunan bandara Jogja Baru di Kulon Progo, Banjarmasin, Semarang, Makasar, Surabaya, Solo, Bali, Lombok, Menado, Kupang dan Ambon.

Strategi mengelola bandara yang dikelola AP I, antara lain pemenuhan standar keselamatan, keamanan dan pelayanan dan pemenuhan kapasitas bandara sesuai permintaan lalu lintas penerbangan dan bahkan mengantisipasi permintaan sampai 10 tahun ke depan. Dari 13 bandar udara yang dikelola PT. Angkasa Pura I, hanya bandara Balikpapan yang kapasitasnya masih cukup. Oleh karena itulah saat ini ada 12 agenda pengembangan bandara yang diprogramkan, baik skala besar, sedang maupun kecil.

Dalam rangka memenuhi transportasi nasional yang sesuai harapan masyarakat dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia, baik operator, teknisi maupun regulatornya. Sebagai salah satu pengambil kebijakan di bidang bandara, Polana telah mendorong pelatihan dan capacity building untuk meningkatan kompetensi SDM di bidang transportasi.

Level of services dan peningkatan Customer Satisfaction Index adalah fokus utama kami dan sudah terbukti dengan pencapaian baik di tingkat internasional maupun lokal,” jelasnya.

Ajang The Airport Service Quality (ASQ) Awards 2016 yang diumumkan awal tahun ini menyatakan tiga bandara yang dikelola AP I masuk peringkat 10 besar dunia. Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan menduduki peringkat pertama, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali di peringkat 3, dan Bandara Juanda Surabaya memperoleh peringkat 10. Meskipun memiliki karier dan prestasi membanggakan, Polana tak menampik adanya tantangan yang dihadapi terutama terkait keraguan banyak orang tentang kemampuan dirinya.

Sebagai perempuan yang bekerja di bidang yang mayoritas dilakukan oleh laki-laki, dia mengaku banyak menerima kritikan, keraguan, dan respon negatif terhadap gagasan, usulan, maupun tindakannya.

“Saya harus tetap yakin dan percaya diri bahwa walaupun perempuan memiliki keterbatasan tetapi kami juga memiliki kelebihan. Dengan bekal sebagai seorang ibu dan kakak, alhamdulillah kendala teratasi. Kami tetap menjaga silaturahmi dengan staf maupun rekan di mana pun saya ditugaskan,” tutur ibu tiga anak dan nenek tiga cucu ini.

Menurutnya, dalam menghadapi tantangan tersebut dibutuhkan komunikasi, peningkatan human relationship, sikap menghargai pendapat dan apa yang dilaksanakan orang lain. Dia juga berprinsip selalu bekerja out of the box, serta terus menerus memotivasi rekan kerja, mitra, maupun anak-anaknya untuk selalu kreatif dan adaptif terhadap perubahan yang sangat cepat. (Angie Diyya, Foto: Fikar Azmy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.