Senin, 4 Juli 22

Breaking News
  • No items

PM Sri Lanka Akui Ekonomi Negaranya Ambruk Total Akibat Utang Besar

PM Sri Lanka Akui Ekonomi Negaranya Ambruk Total Akibat Utang Besar
* PM Sri Lanka Ranil Wickremesinghe. (VOA)

Perdana Menteti (PM) Sri Lanka Ranil Wickremesinghe mengaku, ekonomi Sri Lanka yang dibebani utang besar telah ambruk total setelah terjadi kekurangan pangan, bahan bakar, dan listrik selama berbulan-bulan.

Demikian pemberitahuan Perdana Menterinya kepada anggota parlemen pada Rabu, dalam komentar yang menggarisbawahi situasi genting negara itu sementara Sri Lanka berusaha minta bantuan dari kreditor internasional.

PM Ranil Wickremesinghe mengatakan kepada Parlemen bahwa negara Asia Selatan itu “sedang menghadapi situasi jauh lebih serius ketimbang kekurangan BBM, gas, listrik, dan pangan. Ekonomi kita sudah ambruk total.”

Sementara krisis Sri Lanka dianggap yang terburuk sejauh ini, penegasan Wickremesinghe bahwa ekonominya ambruk total tidak mengutip perkembangan baru secara spesifik.

Tampaknya pernyataan ini dimaksudkan untuk menekankan kepada para pengecamnya dan anggota oposisi parlemen bahwa dia mewarisi sebuah tugas yang sulit yang tidak bisa diperbaiki segera, sementara ekonomi jatuh akibat utang besar, hilangnya pendapatan dari sektor pariwisata, dan dampak lainnya akibat pandemi, dan juga harga komoditas yang meningkat.

Bantuan pangan yang dikirimkan oleh pemerintah India tiba di Kolombo, di tengah krisis ekonomi terbutuk di Sri Lanka.

Para anggota parlemen dari kedua partai oposisi utama kini memboikot parlemen minggu ini untuk memprotes Wickremesinghe yang menjadi PM hanya sebulan lalu, dan juga menjabat sebagai menteri keuangan, karena tidak berhasil memenuhi janjinya untuk memulihkan ekonomi.

Wickremesinghe mengatakan, Sri Lanka kini tidak mampu membeli bahan bakar impor, akibat utang besar yang ditanggung oleh perusahaan minyak negara itu.

Wickremesinghe mulai menjabat menyusul protes berhari-hari disertai kekerasan sehubungan dengan krisis ekonomi negara itu yang memaksa pendahulunya mengundurkan diri. Dalam komentarnya pada Rabu dia menuduh pemerintahan sebelumnya gagal untuk bertindak ketika cadangan valuta asing Sri Lanka menyusut.

Krisis valuta asing ini telah menyusutkan impor, menyebabkan kekurangan parah pangan, BBM, dan listrik serta kebutuhan penting lainnya seperti obat-obatan. Penduduk Sri Lanka terpaksa harus antre panjang untuk memperoleh kebutuhan pokok mereka. (VOAIndonesia/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.