Kamis, 21 Oktober 21

PKI Mau Bubarkan HMI

PKI Mau Bubarkan HMI

Oleh: Zeng Wei Jian,  Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

 

Senin malam (25/9), saya ketemu Nugroho Prasetyo (Partai Rakyat) di Hotel Borobudur. Ngobrol santai soal Rusia, Tiongkok, USA, Amerika Latin, Sukarno-Hatta, Hugo Chavez, Evita Peron dan Manifesto 88. Sesudah itu, saya meluncur ke Pasar Ikan.

Di Kampung Aquarium, ada David Akmal, Ketua HMI Cabang Jakarta Raya. Akmal punya relasi khusus dengan Kampung Aquarium yang digusur Ahok. Di situ, Akmal dilantik pada hari Minggu, tanggal 4 Juni 2017 lalu.

Saat gerakan mahasiswa mandul, ini titik terendah kualitas mahasiswa sepanjang sejarah Indonesia, dan ketika mahasiswa lebih suka dugem, ngaco di facebook, ada HMI Cabang Jakarta dan David Akmal turun ke tengah-tengah masyarakat korban kebringasan penguasa. Aktifis sekarang lebih suka onani di grup-grup WA. Aktifis salon. Publik sudah ngga tahu lagi beda antara aktifis dan pengangguran yang hobi nulis status di Wall FB.

Bahkan lingkaran aktifis model Hatta Taliwang, Syahganda Nainggolan dan Taufikurrahman Ruki menyelipkan pengangguran yang klaim diri sebagai selebritas sosmed karena punya 3 juta follower maya di tengah-tengah diskusi mereka. Nggak heran mutu gerakan politik dan sosial Indonesia jatuh ke titik nadir.

Cerita politik Indonesia, ngga bisa dilepaskan dari Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). Kader-kadernya berserakan di semua parpol, ormas, departemen, kementerian dan sebagainya. Misalnya Akbar Tanjung, Anies Baswedan, Nursyahbani Kartjasungkana, Anas Urbaningrum, Ahmad Dolly Kurnia dan banyak lagi.

HMI masuk radar target dibubarkan PKI. Selain Masyumi, Murba, dan ABRI. Dinilai sebagai elemen kontra-revolusioner.

Pada tanggal 28 September 1965, di pidato Pembukaan Kongres Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Ketua PKI DN. Aidit mengatakan:

“Kalau CGMI tak bisa membubarkan HMI lebih baik kalian memakai kain seperti perempuan!”

Teriakan Aidit disambut gemuruh teriakan anggota dan kader CGMI. “Bubarkan HMI, Bubarkan HMI” seru mereka dengan tangan terkepal.

Sebelumnya, nyaris setiap hari CGMI (Underbouw PKI) melancarkan demonstrasi di depan Istana Merdeka. Mereka menuntut agar Pemerintah Sukarno membubarkan HMI. Bagi mereka, HMI adalah antek neokolim.

Pemerintah Sukarno tercatat membubarkan Partai Masyumi (KepPres No. 200 tahun 1960), Partai Sosialis Indonesia (KepPres No. 201 tahun 1960), Murba, dan tidak mengakui partai-partai kecil seperti Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Rakyat Nasional, Partai Rakyat Indonesia (PRI), dan Partai Rakyat Nasional (PRN). Partai-partai itu ditolak pengakuannya dengan Keputusan Presiden Nomor 129 tahun 1961.

Saya harap HMI dan David Akmal bisa terus menjadi garda terdepan menjaga negara, bangsa dan Pancasila. Kita tidak bisa berharap banyak kepada orang-orang kiri macam Aidit yang pernah bilang, “kalau rakyat Indonesia sudah bersatu dan sosialisme sudah terwujud, maka Pancasila tak dibutuhkan lagi”.

THE END

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.