Jumat, 22 Januari 21

Pimpinan Jaringan Pelecehan Seks Online Terbesar Dihukum 40 Tahun

Pimpinan Jaringan Pelecehan Seks Online Terbesar Dihukum 40 Tahun
* Cho Ju-bin dihukum 40 tahun penjara. (Foto: RTR/BBC)

Pengadilan Korea Selatan menjatuhi hukuman 40 tahun penjara terhadap Cho ju-bin, pimpinan jaringan pelecehan seks online terbesar di negara tersebut.

Cho ju-bin dinyatakan bersalah mengelola kamar obrolan atau chatroom berbayar—tempat ia memeras puluhan perempuan muda untuk membuat video seks, tak jarang menampilkan pemerkosaan dan kekerasan.

Ia kemudian menjual video-video itu secara daring melalui Telegram, sebuah layanan perpesanan terenkripsi.

Sedikitnya 10.000 orang menggunakan chatroom yang dia kelola. Beberapa di antara mereka membayar hingga US$1.200 (Rp17 juta) untuk mendapat akses.

Dari sisi korban, sebanyak 74 orang—termasuk 16 perempuan di bawah umur—dieksploitasi oleh Cho.

“Tertuduh mendistribusikan konten pelecehan seks secara luas yang dia ciptakan dengan memikat dan mengancam banyak korban,” sebut Pengadilan Distrik Seoul Pusat pada Kamis (26/11), menurut kantor berita Yonhap.

Pengadilan itu menyebut Cho bersalah melanggar undang-undang perlindungan anak dan mengelola jaringan kejahatan yang memproduksi dan menjual video berisi pelecehan guna mencetak keuntungan.

Jaringan kejahatan yang didirikan sarjana berusia 25 tahun itu menjual video-video dengan cara memeras para korbannya melalui chatroom rahasia pada aplikasi Telegram.

Pada Maret lalu, sebuah komisi kepolisian menempuh langkah yang jarang dilakukan, yaitu mempublikasikan nama Cho setelah lima juta orang menandatangani petisi guna menuntut identitasnya diungkap.

Para pegiat perlindungan perempuan menyoroti kasus ini secara saksama, kata wartawan BBC di Seoul, Laura Bicker. Pasalnya, pengadilan di Korsel kerap dituding bertindak terlalu ringan terhadap pelaku kejahatan seks di dunia maya.

Lebih dari 80.000 surat petisi diantarkan ke pengadilan guna mendorong para hakim menghukum komplotan Cho. Salah satu surat dari korban menyebut Cho sebagai iblis.

Hukuman 40 tahun terhadap Cho yang diumumkan pada Kamis (26/11) sejatinya lebih ringan ketimbang tuntutan dari para jaksa, yaitu hukuman penjara seumur hidup.

Lima terpidana lain dijatuhi hukuman penjara dengan kurun berbeda-beda, antara tujuh hingga 15 tahun.

Bagaimana modus kejahatan Cho?
Cho dan orang-orang sepertinya memikat korban dengan tawaran pekerjaan yang menguntungkan sebagai model atau teman kencan di media sosial.

Setiap gadis yang menjawab diarahkan ke akun Telegram, tempat pelaku berusaha membuat mereka memberikan informasi pribadi – nama, nomor telepon dan alamat, dan informasi apa pun yang dapat digunakan untuk memeras korban.

Mereka juga meminta gambar-gambar porno yang menurut mereka diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan. Ini nantinya akan digunakan untuk memeras gadis-gadis untuk membuat film dan membagikan video, biasanya menampilkan tindakan seksual yang ekstrem dan melukai diri sendiri.

Cho secara gamblang menyebut perempuan-perempuan itu ‘budak’ dan kadang-kadang membuat para korban menyebut diri mereka sebagai ‘budak dokter’.

‘Ruang Dokter’ yang dibuat Cho di Telegram, menurut polisi Korea, menagih pengguna hingga US$1.245 (Rp17,4 juta) sebagai biaya langganan. Menurut media Korea, delapan “Nth Room” lainnya ada sebelum chatroom Cho dibuat. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.