Rabu, 25 Mei 22

Pimpinan ISIS Ternyata Seorang Kolonel Israel

Pimpinan ISIS Ternyata Seorang Kolonel Israel

“Keamanan dan pasukan populer telah ditahan seorang kolonel Israel,” kata seorang komandan pasukan mobilisasi rakyat Irak, Kamis.

“Petugas Zionis berada di peringkat kolonel dan telah berpartisipasi dalam operasi teroris kelompok Takfiri ISIL ini,” tambahnya.

Mencatat bahwa ia ditangkap bersama dengan sejumlah ISIL teroris, kata komandan, “Nama kolonel Israel adalah Yusi Oulen Shahak dan peringkat kolonel di Golani Brigade tentara rezim Zionis dengan keamanan dan militer kode Re34356578765az231434.”

Dia mengatakan bahwa badan terkait kini menginterogasi kolonel Israel untuk memahami alasan di balik pertempuran nya bersama pasukan ISIL dan kehadiran petugas Zionis lainnya antara teroris ISIL.

Pasukan keamanan Irak mengatakan kolonel ditangkap telah membuat pengakuan mengejutkan.

Beberapa militan ISIL ditangkap di satu tahun terakhir sudah mengaku bahwa agen-agen Israel dari Mossad dan spionase dan intelijen tubuh Israel lainnya hadir dalam gelombang pertama serangan ISIL di Irak dan penangkapan Mosul di musim panas 2014, tapi tidak ada agen Israel Peringkat telah ditangkap.

pakar politik dan militer mengatakan kepada FNA bahwa penangkapan kolonel Israel akan meninggalkan dampak serius pada strategi perang Irak, termasuk kemitraan dengan sekutu Israel.

Dalam perkembangan yang relevan pada bulan Juli, pasukan relawan Irak mengumumkan bahwa mereka telah menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak yang memata-matai pasukan keamanan negara Arab di kota Fallujah, Western Irak.

Pasukan populer Irak melaporkan bahwa mereka telah menjatuhkan sebuah pesawat pengintai bermusuhan selama Southeastern Fallujah di Provinsi Anbar.

Mereka mengatakan bahwa puing-puing pesawat tak berawak mata-mata ISIL ini dilakukan ‘Israel Buatan’ label.

Ini bukan drone buatan Israel pertama jatuh di Irak.

Pada bulan Agustus sebuah Hermes drone Israel ditembak jatuh di sekitar Bagdad.

Sumber asli dari artikel ini adalah Fars News Agency
Copyright © Fars News Agency, Fars News Agency 2015

ISIS Organisasi Buatan Amerika
Mantan menteri luar negeri dan ibu negara AS Hillary Clinton secara terang-terangan mengakui bahwa Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) merupakan gerakan buatan AS guna memecah belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak.

Pengakuan tersebut termuat dalam buku terbaru HIllary Clinton “Hard Choice ” dan menjadi pemberitaan luas media-media massa internasional akhir-akhir ini. Mantan Menlu di kabinet pertama Presiden Barack Obama itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara barat sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah belah Timur Tengah (Timteng).

Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013. “Kami telah mengunjungi 112 negara sedunia. Lalu kami bersama-sama rekan- rekan bersepakat mengakui sebuah Negara Islam (Islamic State/IS) saat pengumuman tersebut,” tulis Hillary.

Dalam buku tersebut juga diuraikan bahwa “negara Islam” itu awalnya akan didirikan di Sinai, Mesir, sesuai revolusi yang bergolak di beberapa negara di Timur Tengah. Namun rencana itu berantakan setelah militer Mesir melakukan kudeta, Juli 2013. “Kami memasuki Irak, Libya dan Suriah, dan semua berjalan sangat baik. Namun tiba-tiba meletus revolusi 30 Juni – 7 Agustus di Mesir.

Hal itu membuat segala rencana berubah dalam tempo 72 jam,” ungkap istri mantan presiden AS, Bill Clinton, itu. Hillary menambahkan, pihak barat sempat berpikir untuk menggunakan kekuatan demi mewujudkan “negara Islam” di Sinai. Namun Mesir memiliki kekuatan militer yang tergolong kuat.

Selain itu, warga Mesir cenderung untuk mendukung militer mereka. “Jadi, jika kami gunakan kekuatan melawan Mesir, kami akan rugi. Tapi jika kami tinggalka, kami pun rugi,” tulis Hillary. Jadi, masihkah percaya dengan dengan propaganda ISIS?

Mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat Edward Snowden menyatakan jika Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan organisasi bentukan dari kerjasama intelijen dari tiga negara. Dikutip dari Global Research, sebuah organisasi riset media independen di Kanada, Snowden mengungkapkan jika satuan intelijen dari Inggris, AS dan Mossad Israel bekerjasama untuk menciptakan sebuah negara khalifah baru yang disebut dengan ISIS.

Snowden mengungkapkan, badan intelijen dari tiga negara tersebut membentuk sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstremis di seluruh dunia. Mereka menyebut strategi tersebut dengan nama ‘sarang lebah’. Dokumen NSA yang dirilis Snowden menunjukkan bagaimana strategi sarang lebah tersebut dibuat untuk melindungi kepentingan zionis dengan menciptakan slogan Islam.

Berdasarkan dokumen tersebut, satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan Yahudi adalah menciptakan musuh di perbatasan. Strategi tersebut dibuat untuk menempatkan semua ekstremis di dalam satu tempat yang sama sehingga mudah dijadikan target.

Tak hanya itu, adanya ISIS akan memperpanjang ketidakstabilan di timur tengah, khususnya di negara-negara Arab. Sebuah analisis mencengangkan tentang ISIS dikeluarkan oleh mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat Edward Snowden. Menurut Snowden, ISIS adalah organisasi bentukan dari kerjasama intelijen dari tiga negara.

Seperti yang dikutip dari Global Research, sebuah organisasi riset media independen di Kanada, Snowden mengungkapkan bahwa ISIS adalah hasil dari kerja sama satuan intelijen dari Inggris, AS dan Mossad Israel. Dalam analisis itu, Snowden mengungkapkan bahwa badan intelejen tersebut membantuk sebuah organisasi teroris untuk mengumpulkan semua ekstremis di dunia di satu titik.

Strategi yang diberi nama ‘sarang lebah’ ini dibuat untuk memancing orang-orang yang radikal agar bergabung dan berada di suatu tempat. Hal ini dipandang sebagai satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan Yahudi adalah menciptakan musuh di perbatasan.

Dengan berkumpulnya para ekstremis di satu tempat yang sama maka akan mudah dijadikan target serangan. ISIS juga akan menjadi sebuah intrumen untuk menjaga ketidakstabilan di timur tengah, khususnya di negara-negara Arab. Itu artinya Inggris, AS, dan Israel dapat terus bermain untuk mengendalikan situasi politik yang ada di Timur Tengah.

Lebih lanjut lagi, Snowden bahkan berani membuat pernyataan bahwa pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi pernah mendapatkan pelatihan militer setahun penuh dari Mossad, Israel. Selain itu, Al Baghdadi juga mendapatkan kursus teologi dan retorika dari lembaga intelijen zionis itu.

Apakah analisis yang dikeluarkan Snowden benar? Waktulah yang akan menjawabnya. Yang pasti, masyarakat Indonesia diminta waspada untuk tidak mudah terpancing dengan isu-isu sensitif soal ISIS tersebut.

Berdasarkan dokumen tersebut, pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi pun mendapatkan pelatihan militer setahun penuh dari Mossad, Israel. Al Baghdadi juga mendapatkan kursus teologi dan retorika dari lembaga intelijen zionis itu. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.