Minggu, 26 Juni 22

Pilpres Mestinya Menyenangkan, Jadi Menegangkan

Pilpres Mestinya Menyenangkan, Jadi Menegangkan

Jakarta  –  Demokrasi yang tercermin dari Pemilihan Umum seharusnya menjadikan setiap anggota masyarakat merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Sebab sejatinya, hakekat Pemilu adalah pesta demokrasi lima tahunan yang bertujuan membuat rakyat berada dalam kompetisi yang menyenangkan, bukan drama yang menegangkan.

Tapi ironisnya, pelaksanaan Pilpres 2014 terjebak dalam situasi yang menegangkan dan membuat rakyat bingung setelah hasil Quick Count beberapa lembaga survey menghasilkan perbedaan yang saling bertentangan. Kondisi ini tentu tak layak dibiarkan, karena akan menjadi hama dalam demokrasi Indonesia yang sedang subur berkembang,

“Pemilu khususnya ajang pemilihan presiden adalah cermin partisipasi politik rakyat Indonesia yang seharusnya berjalan menyenangkan. Maka, tak sepantasnya  para capres dan timsesnya (yang umumnya kalangan intelektual) merusaknya dengan saling klaim kemenangan, “ jelas Ketua Presidium Nasional Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Herdi Jayakusumah kepada Obsessionnews, Kamis (10/7/2014)

Herdi mendesak para capres dan cawapres menghentikan budaya kekanak-kanakan dengan mengumumkan deklarasi kemenangannya sejak dini. Padahal deklarasi kemenangan itu hanya pendidikan politik yang sangat buruk karena hanya mengandalkan hasil hitung cepat lembaga survey yang saling bertentangan dalam mengumumkan hasilnya.

“Jangan bodohi rakyat dengan menghasilkan presiden quick count, rakyat butuh presiden yang benar-benar nyata sesuai hasil hitung resmi KPU. KAMMI minta kedua pasangan berhenti bermanuver tak cerdas karena berpotensi membuat rakyat bingung dan merusak stabilitas sosial-politik nasional, “ tegasnya.

Ia pun megajak kepada mahasiswa danmasyarakat Indonesia tetap tenang menyikapi perbedaan hasil hitung cepat yang tak dapat dijadikan patokan resmi dalam mengesahkan  Presiden Indonesia  serta berperan aktif dalam menjaga kondusifitas situasi nasional

“Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia harus tenang dan jangan terbodohi “provokasi murahan” yang dipamerkan kedua pasangan. Biarkan KPU melaksanakan tugasnya sampai selesai. Tolak presiden Quick Count!” serunya.

Perlu Gerakan Aman Tenteram
Situasi dan kondisi pasca Quick Count PilPres 2014 yang menunjukkan bahwa 8 surveyor berbeda hasilnya dengan 4 surveyor lain,  dikuatirkan berbagai pihak, meningkatkan perbedaan penyikapan agresifitas oleh kedua kelompok pendukung CaPres CaWaPres menyongsong Real Count KPU 22 Juli 2014 yang akan datang.

“Langkah antisipasi bijak berupa himbauan menahan diri bahkan upaya Audit oleh Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia sejatinya belumlah mencukupi, diperlukan juga upaya nyata lain seperti Gerakan Indonesia Aman Tenteram (GIAT) dimotori oleh pemerintah diikuti oleh relawan2 kedua pasangan kontestan PilPres 2014,” kata Jurubicara PARRINDO (Parlemen Rakyat Indonesia) Dr Ir Pandji R Hadinoto MH, Jumat (11/7).

Kesemuanya itu, jelas dia, ditujukan kepada Pilihan Ke-3 yaitu Persatuan Indonesia dapat tetap terjaga baik pasca penyelenggaraan pesta demokrasi yang telah terbukti berlangsung bebas, rahasia, langsung dan aman damai pada PilPres 9 Juli 2014 tersebut. “Hal ini strategik sebagai upaya tingkatkan ketahanan nasional antisipasi sinyalemen Indonesia Disintegrasi 2015,” tutur Ketua Dewan Pakar PKPI.  (Pur)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.