Jumat, 24 Mei 19

Pilpres Menuju Fase Denial

Pilpres Menuju Fase Denial
* Syarif Hasan Salampessy, SH. (Foto: dok pribadi)

Oleh: Syarif Hasan Salampessy, SH, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia

 

Kubu capres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggelar simposium nasional dengan mengajak seluruh tim pemenangan dan relawan. Prabowo menyatakan secara terang-terangan di dalam ruangan pernuh sesak itu, bahwa dirinya tidak akan menerima hasil rekapitulasi pemilu 2019. Padahal KPU sendiri belum mengumumkan hasil rekapitulasi tersebut.

Alasan Prabowo menolak hasil Pemilu versi KPU karena menuding telah terjadi kecurangan. Prabowo pernah menyinggung sejumlah hal yang menurut ia dan timnya adalah kecurangan. Dari mulai 6,7 juta pemilih di setidaknya 73 ribu TPS yang tak mendapatkan undangan untuk memilih, penyimpangan DPT, kesulitan kubunya mendapatkan izin kampanye, mobilisasi instrumen Negara termasuk ASN untuk mendukung paslon 01, serta memperalat BUMN untuk membiayai kampanye. Terbaru Prabowo mengkritik Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU yang kerap didapatkan temuan salah data sehingga tak sinkron.

Berdasarkan hasil penghitungan sementara hingga, Selasa 14 Mei 2019 pukul 23.00 WIB, dari total suara masuk 82,18 persen, pasangan capres 01 Jokowi-Ma’ruf masih unggul jauh dari Prabowo-Sandi dengan selisih 56,24 persen : 43,76 persen. Dengan melihat hasil sementara tersebut, Prabowo sudah putus asah. Ia berpikir realistis sudah tidak mungkin menyalip keunggulan Jokowi.

Data situng KPU. (Foto: Tempo.co)

Maka teori penyangkalan (denial) pun digunakan sebagai senjata pamungkas. Penyangkalan ini digunakan sebagai mekanisme pertahanan psikologis yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, di mana seseorang dihadapkan dengan fakta yang terlalu tidak nyaman untuk menerima dan menolak, sebagai gantinya, bersikeras bahwa itu tidak benar.

Teori penyangkalan pertama kali diteliti secara serius oleh Anna Freud. Dia mengklasifikasikan penyangkalan sebagai mekanisme dari pikiran yang belum dewasa, karena bertentangan dengan kemampuan untuk belajar dari dan mengatasi realitas. Dalam kasus penyangkalan terjadi dalam pikiran yang matang, hal ini paling sering dikaitkan dengan kematian, sekarat dan pemerkosaan. Penelitian yang lebih baru secara signifikan telah memperluas ruang lingkup dan utilitas dari konsep.

Thucydides mengatakan “Dalam demokrasi, seseorang yang gagal berkuasa dapat selalu menghibur dirinya dengan pemikiran akan adanya tidakadilan.” Sebagai seorang sejarawan Yunani Kuno, Thucydides yang mendapat julukan sebagai “Bapak Sejarah Ilmiah” dikenal sebagai orang yang anti-demokrasi akibat pandangan-pandangan realistisnya. Penulis buku History of the Peloponnesian War ini juga sosok yang lebih percaya pada kekuatan, dibanding kebenaran.

Meski begitu, perkataan saksi mata Perang Sparta yang bersejarah di atas, faktanya masih tetap lekang selama berabad-abad. Sebab hampir di setiap kontestasi politik di berbagai negara, pasti akan ada pihak-pihak yang tidak dapat bersikap sportif menerima kekalahannya, tak terkecuali di tanah air.

Sangat wajar bila Prabowo mulai berpikir seperti yang dikatakan Thucydides sebelumnya, yaitu melakukan penyangkalan dengan menuding adanya kecurangan yang dilakukan oleh KPU. Penyangkalan, menurut Pakar Psikoanalisis Sigmund Freud, wajar terjadi saat menghadapi kenyataan yang menyakitkan.

Dalam politik, penyangkalan ini dikenal sebagai politics of denial dan sangat umum dilakukan di dalam negeri maupun seluruh dunia. Kenyataan ini didukung oleh Michael A. Milburn dan Sheree D. Conrad dalam buku Politics of Denial. Menurutnya, kehidupan politik suatu negara sering menunjukkan penolakan atas kenyataan yang menyakitkan.

Capres 02, Prabowo Subianto menggebrak podium. (Foto: merdeka.com)

Sementara menurut William Benoit, dalam buku Accounts, Excuse, An Apologies: A Theory of Image Restoration Strategies, penyangkalan juga kerap dilakukan untuk mempertahankan citra baik suatu partai sebab elemen ‘wajah parpol’ sama pentingnya dengan citra diri ‘sang pemimpin’.

Menurut Benoit, mempertahankan citra sebagai paslon yang kuat dan bersih dari kecurangan umumnya memang merupakan tujuan utama dari komunikasi politik yang dilakukan selama kontestasi politik. Oleh karena itu, untuk memulihkan citra dari label paslon yang kalah, Prabowo mau tak mau harus proaktif menggunakan metode pemulihan citra.

Pythagoras mengatakan “Pilih olehmu menjadi pihak yang kalah tapi benar. Dan janganlah sekali-sekali engkau menjadi pemenang tetapi zalim.” Selain dikenal sebagai “Bapak Bilangan”, Pythagoras dari Samos juga dikenang sebagai salah satu filsuf Yunani. Walau keahliannya di bidang matematika, pada suatu masa, ia juga sempat tertarik pada dunia politik. Saat itu, ia yakin kalau politik akan membantunya menyalurkan pemikiran tentang kebaikan, keadilan, dan kebijaksanaan.

Hanya saja, setelah mengikuti pertemuan dan perdebatan politik, Pythagoras memutuskan keluar – seiring dengan banyaknya filsuf yang dihukum mati akibat keterlibatannya di politik. Terlebih prinsip Pythagoras untuk menerima kekalahan selama berada di pihak yang benar, akan sulit dilakukan oleh para politikus.

Bahkan hingga sekarang pun, prinsip ideal dari Pakar Matematika tersebut masih banyak yang tidak mampu melakukannya. Terkait dengan masalah ini, tentu akan sulit bagi Prabowo untuk legowo dengan kekalahannya di pilpres, sebab tahun ini merupakan pertarungan terakhir Prabowo untuk menjadi presiden Republik Indonesia.  

Aristoteles mengatakan “Tetap dikatakan demokratis, ketika kekuatan masyarakat dipersatukan; dan sebagai oligarki saat terpilih dalam Pemilu.” Pernyataan salah satu “Bapak Demokrasi” tersebut, diambil dari bukunya The Politics of Aristotle VI yang di dalamnya terangkum pemikiran-pemikirannya mengenai bagaimana demokrasi harus mampu melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Salah satu bentuk partisipasi itu, tentu saja melalui pemilihan umum.

Sebagai sebuah ajang kontestasi demokrasi, tentu harus ada yang menang dan juga kalah. Sayangnya dalam pilpres 2019, Prabowo menunjukkan sikap tidak siap kalah. Sikap Prabowo ini akhirnya menciptakan polarisasi besar antara pendukung Prabowo dan Jokowi, bahkan hingga kini. Jadi, apakah sikap tidak menerima kekalahannya kali ini, juga merupakan upaya mempertahankan persepsi para pendukung?

Sebagai tokoh oposisi, sangat penting bagi Prabowo untuk membangun citra partainya yang kuat untuk menghadapi pertarungan-pertarungan politik pada periode berikutnya. Oleh karena itu, citra sebagai partai yang bersih dan ditakuti pemerintah sangat penting dipertahankan untuk menciptakan keyakinan yang sama bagi para pemilihnya. 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.