Senin, 27 Juni 22

Pilpres Lancar Beri Sinyal Positif Ekonomi, Akankan Terus Berlanjut?

Pilpres Lancar Beri Sinyal Positif Ekonomi, Akankan Terus Berlanjut?

Jakarta – Jalannya Pilpres Rabu, 9 Juli 2014 kemarin yang berlangsung aman dan lancar, meskipun belum diketahui siapa pemenangnya, telah memberikan sinyal positif di bidang perekonomian. Akankah tren positif ini, terus berlanjut hingga pengumuman dari KPU, 22 Juli? Bahkan terus menguat hingga terbentuknya kabinet presiden terpilih nanti? Semoga saja.

Menguatnya sinyal positif, terbukti, dari lantai bursa. Pada perdagangan, Kamis (10/7), IHSG ditutup melompat 73,298 poin (1,46%) ke level 5.098,010. Sementara Indeks unggulan LQ45 ditutup melesat 16,347 poin (1,89%) ke level 875,659. Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) cukup besar yaitu mencapai Rp 4 triliun di pasar reguler dan negosiasi.

Tercatat perdagangan siang hari ini berjalan sangat ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 375.314 kali dengan volume 9,369 miliar lembar saham senilai Rp 15,591 triliun. Sebanyak 183 saham naik, 133 turun, dan 75 saham stagnan. Bursa-bursa regional rata-rata siang ini masih bisa menguat. Hanya bursa saham Jepang yang bergerak di zona merah sejak pagi tadi.

Begitu juga dari pasar uang. Terbukti, rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia hari ini atau sehari setelah pemilihan presiden (Pilpres) 2014 memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan alias BI Rate sebesar 7,5%, dengan suku bunga lending facility dan suku bunga deposit facility masing-masing tetap pada level 7,50% dan 5,75%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengungkapkan kebijakan tersebut masih konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014 dan 4±1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.

“BI akan berkoodinasi dengan pemerintah, untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang lebih berkesinambungan,” ungkapnya, Kamis (10/7/2014).

Sebelumnya, kalangan bankir mengharapkan agar Bank Indonesia tetap mempertahankan BI Ratedi level 7,5%. BI Rate diharapkan tetap, agar biaya dana yang cenderung tinggi tidak menekan bisnis bank.

Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan nilai tukar rupiah akan kembali stabil setelah penyelenggaraan pemilu berakhir, karena volatilitas (bergejolaknya) rupiah dalam beberapa bulan terakhir lebih disebabkan karena kompetisi politik yang ketat.

“Rupiah dari 11.900 menjadi 11.600–11.700 dalam waktu satu dua hari berarti confidencenya baik. Dari faktor kepercayaan, pemilu itu temporer, setelah pilpres rupiahnya kembali,” katanya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah Perekonomian Indonesia diyakini akan tumbuh semakin kuat dengan berjalan lancarnya Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014. “Ketika Pilpres berjalan secara aman, demokratis dan tertib maka dipastikan ekonomi setelah Pilpres akan semakin meningkat,” katanya.

Ia menyebutkan hadirnya presiden dan kabinet baru dinilai akan meningkatkan ekspektasi masyarakat dan dunia usaha.

“Presiden dan kabinet baru dipastikan mengusung tema perubahan dan perbaikan dari periode sebelumnya. Selain itu juga, presiden dan kabinet baru akan berusaha sekuat tenaga mewujudkan janji-janji politik semasa kampanye Pilpres,” jelasnya.

Terjaganya situasi aman dan tertib juga diyakini akan semakin meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Menurutnya, investor, baik di pasar modal maupun sektor riil sangat sensitif terhadap stabilitas politik, karena dapat mengganggu perencanaan dan imbal balik investasi mereka. Terlebih investasi di sektor riil dan infrastruktur yang bersifat jangka panjang.

Terjaganya situasi aman dan tenang selama Pilpres, akan semakin menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara tujuan investasi penting di Asia-Pasifik.

Selain itu, seiring dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia, kebijakan industrialisasi dan hilirisasi, pembangunan infrastruktur serta strategi pengelolaan inflasi yang terpadu akan mendorong perekonomian, baik dari sisi permintaan maupun pasokan.

Capital-inflow, baik untuk pasar modal maupun investasi juga diprediksi akan semakin meningkat. Hal ini juga diperkuat dengan komitmen yang tinggi dari Pemerintah untuk terus menjaga fundamental perekonomian nasional.

Oleh karena itu siapapun presiden terpilih kelak, harus didukung bersama karena dihasilkan dari proses yang demokratis. Hal ini mengingat, stabilitas pasca-Pilpres akan menentukan kesuksesan pembangunan ekonomi nasional. Stabilitas pasca-Pilpres penting bagi suksesnya pembangunan ekonomi nasional 2014-2019.

Semoga saja, harapan dari Chatib Basri dan Firmanzah bisa terwujud. Sehingga, perekomian Indonesia bisa semakin bergerak positif. Yang dampaknya, dunia usaha bisa menyerap sebanyak mungkin angkatan kerja, dan pendapatan pajak bagi negara juga semakin meningkat. Sehingga, akhirnya, kesejahteraan rakyat dan pemerataan bisa semakin ditingkatkan. Amin.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.