Selasa, 24 November 20

Pilpres AS Kian Panas, Presiden Trump Tak Mau Diusir dari Istana

Pilpres AS Kian Panas, Presiden Trump Tak Mau Diusir dari Istana
* Joe Biden dan Donald Trump. (Foto: ParsToday)

Satu pekan setelah pemilu presiden (Pilpres) di Amerika Serikat (AS), kini perebutan kekuasaan antara presiden petahana dan presiden terpilih semakin intens. Situasi semakin memanas akibat sikap Presiden AS Donald Trump bakal ngotot bertahan di Istana (Gedung Putih) dan tidak mau diusir meski dinyatakan kalah dari Joe Biden.

Presiden Trump, yang dalam perhitungan perolehan suara kalah pada pemilihan 3 November, tapi malah telah menginstruksikan agen federal AS untuk menahan diri dari bekerja sama dengan tim transfer presiden yang terpilih.

Namun, Presiden terpilih AS Joe Biden telah mengaktifkan kantornya untuk mengalihkan kekuasaan ke pemerintahannya dan telah menjalin kontak internasional dengan para pemimpin di bagian lain dunia.

Untuk saat ini, kedua belah pihak melihat diri mereka sebagai pemenang pemilu. Mengandalkan lebih dari 270 suara elektoral dalam pemilihan presiden, Biden telah menyatakan kemenangannya dan berupaya memasuki Gedung Putih pada 20 Januari 2021.

Sebaliknya, Trump meyakini bahwa terjadi kecurangan di pemilu presiden dan suara dicuri oleh rivalnya. Ia juga berencana tetap bercokol di Gedung Putih mulai Januari 2021.

Sekarang terserah pengadilan untuk memutuskan presiden Amerika Serikat berikutnya. Trump mengklaim memiliki banyak bukti untuk membuktikan kecurangan dalam pemilihan presiden yang dapat mengubah hasil pemilu.

Biden, bagaimanapun, menolak semua tuduhan ini sebagai tidak berdasar dan bersikeras mempertahankan kesimpulan saat ini; sementara saat ini penghitungan suara belum selesai di banyak negara bagian AS.

Trump berharap akhirnya memenangkan kursi kepresidenan dengan menggunakan kehadiran hakim konservatif di pengadilan, terutama di Mahkamah Agung Federal. Biden, sementara itu, mengincar keunggulan numeriknya dalam penghitungan suara, dan berharap hasil yang sama pada akhirnya akan dipertahankan setelah persidangan.

Tentu saja, untuk tetap berkuasa, Trump tidak hanya mengandalkan kekuasaan kepresidenan dan kehakiman, tetapi juga dukungan dari para pendukungnya yang marah. Itulah mengapa tim kampanyenya meminta pendukung Trump untuk berkumpul di ibu kota AS, Washington, pada hari Sabtu, kota mayoritas Demokrat dan selama beberapa hari terakhir telah menyaksikan para pendukung Biden merayakan kemenangan kandidat mereka.

Kehadiran pendukung calon yang kalah di kota yang mendukung calon pemenang meningkatkan kemungkinan bentrokan kekerasan antar partai. Terutama karena Amerika Serikat telah terlibat dalam ketegangan jalanan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena masalah diskriminasi rasial selama berbulan-bulan, dan setiap insiden kecil dapat menyebabkan konflik yang meluas di seluruh Amerika Serikat.

Sementara itu, di puncak perebutan kekuasaan atas Gedung Putih, Donald Trump malah dilaporkan memecat Menteri Pertahanan Mark Esper. Adapun Esper sendiri saat menjelaskan keputusan ini mengatakan, karena dirinya tidak taat, maka ia dipecat. Statemen ini dapat menunjukkan indikasi bahwa ditakutkan Trump akan menggunakan sarana terakhirnya yakni militer untuk tetap berkuasa di Gedung Putih.

Oleh karena itu, bukan hal yang tak berdasar jika Esper diwawancaranya dengan Koran Military Times mengatakan, “Jika pengganti Saya di Pentagon adalah sosok yang taat dan selalu mengatakan “ya pak” maka semoga Tuhan menolong kita.” (ParsToday/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.