Sabtu, 22 Januari 22

Petani Garut Buang 20 Ton Tomat dari Kebunnya

Petani Garut Buang 20 Ton Tomat dari Kebunnya
* Tomat-tomat yang dibiarkan membusuk di lahan pertanian Dedi Hermawan. (BBC)

Garut – Seorang petani di Garut memutuskan untuk tidak memanen tomat di kebunnya karena harga jual terlalu rendah dan tidak sebanding dengan ongkos angkut.

Dedi Hermawan, 40, mengatakan harga jual tomat saat ini sedang jatuh, hanya sekitar Rp300 per kilogram. Sedangkan ongkos angkut dari kebun ke tengkulak atau bandar – yang harus ditanggung petani- adalah sekitar Rp500 per kilogram.

“Itu ongkos angkut saja, padahal untuk menanam itu kalau dihitung-hitung sudah habis Rp3.000 per pohon,” ungkapnya seperti dilansir BBC, Jumat (14/8/2015).

Dari pada menanggung lebih banyak rugi, Dedi memutuskan untuk membuang tomat-tomatnya yang sudah matang.

“Ada sekitar 20 ton, dibuang, tidak dipanen sudah saja ditinggal di kebun. Nanti kalau olah lahan, ya tanamannya dicangkul lagi.”

“Kalau petani sih risiko, paling punya utang ke kios, dia sih udah maklum. Kalau enggak tanam lagi mau kerja di mana?”

Foto yang diambil oleh Kristianto Hengki ini diunggah oleh kenalannya Fikka Selfiana di Facebook. (BBC)
Foto yang diambil oleh Kristianto Hengki ini diunggah oleh kenalannya Fikka Selfiana di Facebook. (BBC)

Buang di Selokan
Tomat-tomat di Garut menjadi bahan perbincangan setelah para tengkulak membuang banyak tomat di selokan di daerah Cikajang, Garut.

Sebuah foto di Facebook yang diunggah oleh Fikka Selfiana -yang memperlihatkan banyaknya tomat merah yang dibuang- telah dibagikan lebih dari 24.000 kali.

Kristianto Hengki yang mengambil foto tersebut mengatakan dia merasa prihatin dan kasihan kepada petani yang merugi karena panennya sia-sia.

“Itu memang daerah yang sering saya lalui sehari-hari. Cuaca panas sehingga tomat jadi cepat rusak. Tomat-tomat di selokan itu tidak busuk sebetulnya, tetapi sudah sangat merah dan jelek. Kalau dijual di pasar pasti tidak laku,” jelasnya.

“Harga beli dari petani Rp200 per kilogram, petani rugi karena harus bayar buruh lagi (untuk angkut hasil panen). Padahal kalau di pasar, harga tomat satu kilogram Rp2.500.”

Walau prihatin, Hengki mengatakan aksi buang-buang hasil panen sudah biasa terjadi karena ‘petani jengkel’.

Harga berbagai macam sayur – yang selalu ditentukan oleh bandar atau tengkulak – tidak bisa diprediksi sehingga petani harus pasrah jika harga jual anjlok.

Dedi Hermawan yang juga menanam kentang dan kubis di lahannya berharap ke depannya, harga beli dari petani bisa stabil sehingga mereka tidak merugi. (BBC Indonesia)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.