Senin, 18 Oktober 21

Petani Bawang: Untung Tak Dapat, Rugi Iya

Petani Bawang: Untung Tak Dapat, Rugi Iya
* Ilustrasi petani bawang (Foto : instagram salahuddin_alan_ji)

Indramayu, Obsessionnews.com – Nasib para petani di Indonesia umumnya memang masih jauh dari kata sejahtera. Banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Selain karena Ketidakstabilan harga, meluapnya barang impor, dan juga karena faktor alam. Seperti petani bawang merah di Kabupaten Indramayu.

Para petani bawang di Indramayu mengeluh karena di musim panen, mereka bukan mendapat keuntungan, malah merugi. “Jangankan untung, modal pun tak balik seluruhnya. Ini sangat menyakitkan petani bawang merah,” ujar Mardi seorang petani bawang merah di Kecamatan Suka, Indramayu, Jumat (21/9/2018).

Mardi menyebutkan, bawang merah kualitas super yang siungnya besar-besar saat ini hanya dihargai Rp 7.000 per kg. Sedangkan bawang merah dengan ukuran kecil, hanya dihargai Rp 4.000 per kg. Padahal, idealnya harga bawang merah di atas Rp 10 ribu per kg.

Menurut Mardi, anjloknya harga bawang merah itu disebabkan oleh masuknya masa panen raya dengan produksi melimpah di berbagai daerah. Kondisi itu diperparah dengan serapan pasar yang cenderung rendah.

Bahkan, kiriman bawang merah dari petani Indramayu ke Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur sempat ditolak. Sebab, pedagang di sana sudah kelebihan barang dari berbagai daerah.

Menurut Mardi, petani tak punya pilihan lain kecuali menjual bawang merahnya meski dengan harga rendah. Walau rugi, kerugian mereka akan lebih besar jika membawa pulang kembali bawangnya. Karena bawang tidak akan terpakai dan bisa membusuk.

“Untung tak dapat, rugi iya. Tapi mau bagaimana lagi,” keluh Mardi.

Mardi menyebutkan, selama masa tanam, dirinya telah mengeluarkan modal besar hingga Rp 50 juta per bau. Sedangkan hasil panen yang diterimanya hanya berkisar setengah dari modal yang telah dikeluarkan.

Menurut Mardi, besarnya modal itu karena mahalnya harga bibit, obat-obatan pertanian maupun upah buruh tani. Belum lagi sewa truk dan biaya transportasi saat membawa bawang merah ke pasar induk.

Kerugian serupa juga dialami seorang petani bawang merah asal Desa Limpas, Kecamatan Patrol, Tato. Tak hanya anjloknya harga bawang, hama ulat yang menyeran tanaman bawang merah di desanya juga telah membuat kerugiannya menjadi lebih besar.

“Kalau harganya anjlok tapi produksinya tinggi bisa ketutup. Ini sudahlah harganya anjlok, hasil panen pun rendah karena serangan ulat,” tutur Tato. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.