Kamis, 24 Oktober 19

Pesan Orang Tua Yogi: Jangan Bawa Dendam di Tempat Umum

Pesan Orang Tua Yogi: Jangan Bawa Dendam di Tempat Umum
* Yulihari Utomo, orang tua Yogi Aryo anggota Sabhara, Polda Metrojaya yang menjadi korban bom Kampung Melayu (kanan).

Jakarta, Obsessionnews.com – Yulihari Utomo, orang tua Yogi Aryo anggota Sabhara, Polda Metrojaya yang menjadi korban bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur angkat bicara soal peristiwa yang menimpa anaknya.

Menurut Yulihari, bom bunuh diri yang diketahui dilakukan oleh kelompok teroris ini sebagai perbuatan keji. Karena korban pastilah orang yang salah sasaran, sebagaimana yang dialami oleh anaknya.

“Itu sangat tidak bertanggungjawab, karena nanti korbannya orang-orang yang gak berdosa,” ungkap Yulihari saat ditemui di Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jaktim, Kamis (25/5/2017).

Yogi Aryo merupakan korban terparah yang saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Premier Jatinegara bersama 3 (tiga) korban lainnya, yakni Agung Nugroho (warga), Ferri Nurcahya (polisi) dan Jihan Thalib (mahasiswi).

Luka terparah Yogi terdapat di bagian wajah dan mata kanan terdapat tiga serpihak masih menempel. Mata kanannya hanya berfungsi 75 persen sehingga perlu dijahit. Sedangkan jari kelingking putus setengah.

Orang tuanya meresa sedih atas musibah yang dialami Yogi. Bagaimana tidak Yogi meski sudah berusia 22 tahun ia masih terlihat lugu seperti anak-anak. Dalam kesehariannya saja, Yogi masih suka jajan gulali bersama adiknya yang masih kecil.

“Sebagai bapak, saya sangat sedih sekali. Yogi masih anak yang polos masih perlu bimbangan orang tuanya, sangat polos,” ujar Yulihari.

Yulihari seakan tidak percaya setelah mendapat kabar anaknya ikut menjadi korban. Anak pertamanya itu sempat mengabarinya melalui telepon genggam. Saat itu suara Yogi terdengar merintih kesakitan.

Setelah dibawah ke rumah sakit, temannya baru mengabarinya kembali. Ia langsung bergegas menuju rumah sakit. Walaupun saat itu kantor Imigrasi Depok tempat ia bekerja sedang melakukan operasi penangkapan terhadap warga negara asing.

“Saya lagi tugas malam di Imigrasi Depok sekitar 21.30 dapat info dari teman ada bom di kampung Melayu. Saya mulai rasa khawatir jangan-jangan terkait dengan tugas anak saya,” cerita dia.

Sore harinya sebelum ditugaskan oleh pimpinannya mengawal pawai Ramadhan oleh Front Pembela Islam (FPI), Yogi sempat mengabari orang tuanya bahwa ia akan bertugas di Kampung Melayu.

“Terus itu mau membalas dendam atau melakukan tindakan jangan sembarangan di tempat umum, itu sangat tidak bertanggungjawab,” pesan Yulihari kepada teroris lainnya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.