Kamis, 21 Oktober 21

Perum Jasa Tirta II Air untuk Menghidupi Negeri

Perum Jasa Tirta II Air untuk Menghidupi Negeri
* Dirut PJT II memberi sambutan di depan masyarakat peternak sapi Kampung Padamukti Tarum Hulu Timur pada kegiatan proyek biogas

Naskah: Giattri F.P., Foto: Dok. Humas PJT II

 

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya air, kehadiran Perum Jasa Tirta II (PJT II), tentu memiliki pengaruh yang besar menyukseskan kebijakan pemerintah termasuk dalam mengelola air untuk menghidupi negeri. Perusahaan yang berdiri sejak 1967 itu pun tak henti berinovasi dan menargetkan menjadi perusahaan terkemuka di ASEAN pada 2018.

 

Tagline kami adalah ‘Water for Wellness’ jadi bagaimana kami mengelola sumber daya air untuk menghidupi negeri ini. Secara tidak langsung itu adalah bagian daripada program NAWACITA yang dicanangkan pemerintahan Pak Joko Widodo. Kami adalah agent of development,” ungkap Direktur Utama PJT II Djoko Saputro.

 

PJT II memiliki tugas utama melakukan pengelolaan sumber daya air yang meliputi kegiatan operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana irigasi, konservasi, monitoring dan evaluasi, penyediaan air untuk irigasi di wilayah Sungai Citarum dan sebagian Sungai Ciliwung Cisadane dengan prinsip pengelolaan perusahaan, yang bertujuan menunjang ketahanan pangan.

 

Wilayah kerja PJT II mencakup 74 Sungai dan Anak Sungai yang menjadi Kesatuan Hidrologis di Jawa Barat. Cakupan wilayah ini meliputi sungai Citarum dan sebagian sungai Ciliwung- Cisadane seluas ± 12.000 Km2 dan wilayah pelayanan berada di Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta (sebagian Jakarta Timur, Kota/Kab. Bekasi, Kab. Karawang, Kab. Subang, sebagian Kab. Indramayu, sebagian Kab. Sumedang, Kota/Kab. Bandung Barat, Kota Cimahi, sebagian Kab. Cianjur, dan sebagian Kab. Bogor).

 

Sepanjang 2016, PJT II berhasil menorehkan capaian yang positif. “PJT II dapat predikat AAA dan akan terus kami pertahankan. Kami melakukan pengelolaan air di mana 90 persen bersifat sosial dan sisanya 10 persen barulah kami kelola untuk usaha,” ujar Djoko.

 

Djoko menegaskan, 90 persen pengelolaan air yang sifatnya sosial itu akhirnya mampu mendukung ketahanan pangan, yakni dengan menjadi penyedia air baku untuk irigasi pertanian di sebagian wilayah Jawa Barat. Air irigasi ini diberikan secara gratis kepada petani melalui saluran-saluran irigasi yang dikelola PJT II. “Sebesar 6,8 miliar meter kubik per tahun air kami alokasikan untuk sekitar 300 ribu hektar lahan pertanian di wilayah kerja. Bila diasumsikan produksi rata- rata padi 5,5 Ton/Ha/Musim, maka PJT II mendukung produksi padi sebanyak 3,3 juta Ton/Tahun atau senilai dengan Rp 13,86 triliun,” jelas Djoko.

 

Dalam menjalankan usahanya, PJT II telah bekerjasama dengan perusahaan air minum PAM Jaya dan PDAM Kabupaten/kota, serta industri dalam penyediaan air baku. Sebanyak 80 persen dipasok untuk kebutuhan air baku Jakarta, sedangkan 3,5 persennya untuk domestik dan industri.

 

Saat MoU antara PJT II dengan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri KKP Susi Pudjiastuti (15-9-2017)

 

Usaha lain PJT II adalah menjalankan unit usaha pembangkit listrik tenaga air yakni PLTA Jatiluhur dengan kapasitas terpasang 187,5 MW. PLTA ini selain memasok untuk PT PLN, sambung Djoko, energi listriknya pun disuplai untuk para pelaku industri di sekitar daerah Purwakarta. Mereka mendapatkan harga listrik industri yang lebih murah 80 persen dibanding harga listrik dari PLN. “Ini bisa semacam bentuk subsidi bagi industri,” ucap Djoko.

 

Ia menuturkan, di tahun 2016 kemarin, produksi listrik PJT II berhasil mencapai 1,2 miliar KWH. Ini tertinggi sejak perum tersebut berdiri 50 tahun lalu.

 

Dengan keberhasilan ini, PJT II mampu menunjukkan kinerja keuangan yang meningkat pesat. Pada 2016, pendapatan mencapai Rp743,81 milliar dengan laba Rp170,65 milliar. Capaian tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya dengan pendapatan sebesar Rp 631,29 dan laba Rp 54,60 milliar.

 

“Untuk target 2017, kami usahakan bisa meraih pendapatan di atas Rp1 triliun dan laba Rp250 miliar,” tandas Djoko.

 

Kini PJT II tengah giat berekspansi dengan memanfaatkan potensi sumber daya air yang ada di wilayah kerjanya. Misalnya di bidang Air Minum, akan melakukan 3 proyek pembangunan Sistem Pengadaan Air Minum (SPAM) yakni Karian, Jatiluhur I, dan Jatiluhur 2 yang konstruksinya maksimal paling lambat 2018 dan ditargetkan selesai pada 2020.

 

Sementara di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT), PJT II akan melakukan pembangunan PUMP Storage Power Plant dengan memanfaatkan Bendungan Kaskade yang berada di Wilayah Sungai Citarum. Nantinya akan mendukung kebutuhan Beban Puncak Jawa-Bali dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di area perairan Waduk Jatiluhur serta perluasan wilayah kerja ke beberapa wilayah sungai lain yang belum ada perusahaan pengelolanya.

 

Lebih lanjut Djoko menuturkan, dalam menjaga kualitas air di Waduk Jatiluhur yang merupakan objek vital, pihaknya telah bekerjasama dengan unsur Muspida Purwakarta melakukan penataan Keramba Jaring Apung (KJA). “Pada April 2017 lalu, jumlah KJA sekitar 33ribu. Hingga akhir 2017 kami targetkan 15ribu KJA sudah ditertibkan dan di akhir 2018 menjadi zero,” terang Djoko.

 

Djoko mengaku pihaknya intensif melakukan sosialisasi mengenai penataan tersebut kepada masyarakat sekitar. “Ke depan kami akan lebih fokus kepada petani KJA asli Purwakarta,” ujarnya. Agar petani KJA asli ini masih memiliki sumber penghasilan, PJT II bekerjasama dengan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam Pengembangan Riset Perikanan Tangkap Berbasis Budidaya (Cultured Base Fisheries – CBF) di perairan Waduk Jatiluhur.

 

“Ini merupakan wujud nyata dalam mendukung percepatan pembangunan industri perikanan nasional dan perikanan terpadu di pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan,” imbuh Djoko.

 

Komitmen terhadap kelestarian alam dan membantu masyarakat juga ditunjukan PJT II dengan menggandeng Yayasan Rumah Energi dalam membangun project biogas di Kampung Padamukti, Tarum Hulu Timur yang penduduknya mayoritas peternak sapi.

 

“20 reaktor biogas dengan berbagai ukuran dibangun, yang mengolah limbah hewan menjadi bermanfaat. Ini kan dari sesuatu yang tak ternilai. Sungai jadi bersih, masyarakat pun senang. Jadi mereka tidak membuang kotoran hewan langsung ke sungai,” pungkas Djoko.  []

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.