Selasa, 19 Oktober 21

Pertamina Dituntut Konsisten Kelola Blok Mahakam 100%

Pertamina Dituntut Konsisten Kelola Blok Mahakam 100%

Jakarta, Obsessionnews – Wilayah Kerja eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi (migas) Blok Mahakam di Kalimantan Timur, merupakan bagian kekayaan alam yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai amanat UUD 1945. Kemudian dituntut konsistensi Pertamina dalam mengelola sekaligus menjadi operator Blok Mahakam 100%, pasca berakhirnya kontrak kerja sama (KKS) dengan Total E&P Indonesie asal Perancis dan Inpex Corporation Limited asal Jepang.

Ketua Umum Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (SPKP) Binsar Effendi Hutabarat menuntut Pertamina untuk konsisten mengelola Blok Mahakam secara punuh. “Pasalnya, semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menolak Pertamina untuk mengelola Blok Mahakam sejak 2008. Padahal, Total E&P telah menawarkan Pertamina turut serta mengelola Blok Mahakam dan memulai masa transisi pasca berakhir kontrak. Total E&P juga telah menawarkan kepada pemerintah Presiden SBY agar masa transisi pengelolaan Blok Mahakam bisa berjalan. Sebab Total E&P sendiri telah melakukan kalkulasi bisnis atas berakhirnya kontrak Blok Mahakam,” ungkapnya, Jumat (13/3/2015).

Jika skenario kerja sama bisa berjalan waktu itu, lanjut Binsar, pemerintahan Presiden Jokowi tidak akan mengalami kesulitan dalam menyerahkan pengelolaan Blok Mahakam ke Pertamina. Sebab, dipastikan Pertamina bisa menjamin stabilitas produksi pasca berakhirnya kontrak Total E&P di Blok Mahakam.

“Kalau sudah ada periode transisi itu, pasti nanti menjadi smooth seperti Pertamina ambil ONWJ (Offshore North West Java) dan WMO (West Madura Offshore). Kalau sekarang dapat dikatakan terlambat, sebab masa transisi di Blok Mahakam idealnya berjalan selama lima tahun. Ini dilakukan agar Pertamina bisa mengambil alih teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM), sekaligus mempelajari karakteristik Blok Mahakam,” tandas Komandan Gerakan Nasionalisasi Migas (GNM) ini.

Binsar memaparkan, dalam perkembangannya saat Rapat Koordinasi bersama Menteri ESDM dengan Menteri BUMN, Kepala SKK Migas, Dirut Pertamina, yang juga dihadiri Menko Perekonomian dan Menko Maritim pada 7 Maret 2015 di Kementerian BUMN, Blok Mahakam itu sudah diputuskan untuk diserahkan 100% kepada Pertamina. Selanjutnya, terserah Pertamina apakah mau dikelola sendiri atau mengajak mitra. Pemerintah, kata Ketua Umum eSPeKape, telah menegaskan tidak akan ikut campur atas pembagian saham di Blok Mahakam.

“Keputusan tersebut diambil lantaran Pertamina sudah sampaikan proposal, dan dalam presentasi di rakor itu menyatakan sanggup untuk mengelola blok tersebut, sehingga Pemerintah berkeyakinan Pertamina sanggup mengelola Blok Mahakam pasca-2017,” bebernya.

Nantinya, lanjut Binsar, keputusan tersebut akan segera diresmikan melalui surat oleh Menteri ESDM yang akan mengeluarkan dua surat ke Pertamina dan Total. “Kepada Pertamina, berisi penyerahan pengelolaan Blok Mahakam setelah 2017. Sementara ke Total akan dinyatakan, tidak memperpanjang kontrak Mahakam. Bahkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla seusai menerima Pimpinan Inpex Corporation di Tokyo, Jepang pada Jumat siang ini (13/3), Jusuf Kalla katakan sudah memutuskan Pertamina untuk jadi pemegang saham mayoritas di Blok Mahakam”, ujar Binsar yang juga Ketua FKB KAPPI Angkatan 1966.

Ia pun mengatakan jika produksi minyak di Blok Mahakam mencapai 30.000 barel per hari (bph), dan untuk cadangan gasnya mencapai 1,5 trilyun kaki kubik. “Kalau dikalkulasikan besarannya, maka produksi Blok Mahakam sama dengan seperempat target lifting migas tahun 2015. Untuk itu Pertamina harus segera masuk dan bersikap konsisten guna mengelola blok migas yang saat ini masih dikelola oleh Total E&P. Tujuannya tiada lain, untuk meminimalisir penurunan produksi pasca beralihnya operator agar produksi Blok Mahakam jangan sampai anjlok,” terangnya.

Sementara itu, lanjut Binsar, dengan diputuskannya posisi Pertamina sebagai pengelola Blok Mahakam 100%, harus lebih cepat dipersiapkan. “Karena gas bumi di Blok Mahakam sebagian besar sudah terikat kontrak jual-beli dengan periode tertentu, maka kontrak jual-beli wajib dipenuhi. Dalam konteks ini, ada kewajiban Pemerintah memenuhi kontrak-kontrak. Ada buat ekspor, ada buat domestik. Jadi Pertamina tidak boleh main-main, buktikan kesanggupan dan kemampuannya secara tegas dan jelas,” tandasnya.

Adapun soal transfer teknologi yang diusulkan pihak Total E&P, imbuh Binsar Effendi tidak perlu dirisaukan. “Pasalnya jumlah karyawan Total E&P di Blok Mahakam sekitar 3.700-3.800 orang. Karyawan asingnya cuma 150 orang, selebihnya adalah karyawan bangsa sendiri. Sementara Pertamina sudah memiliki scheme untuk mereka berada dibawah manajemen Pertamina selaku National Oil Company Indonesia, dan konon tidak masalah,” ungkap dia.

Ketua Komisi VII DPR Kardaya Warnika sempat menuturkan agar Pertamina sebagai perusahaan pelat merah yang telah lama bergerak di bidang migas, dan sudah memiliki pengalaman. Sehingga berbicara soal kestabilan produksi pasca ditinggal oleh Total, menurut Kardaya, itu sulit terjadi, seperti apakah kinerja akan seperti Total E&P. Maka penuturan Ketua Komisi VII DPR itu, kata Binsar Effendi, perlu menjadi perhatian Pertamina secara serius.

“Apalagi Menteri ESDM sudah resmi memberikan pengelolaan secara mayoritas Blok Mahakam kepada Pertamina. Meski besaran hak partisipasi masih belum diputuskan, tapi Pemerintah masih memberi waktu kepastian kepada Pertamina untuk dapat menyusun program kerja masa transisi antara 2015 sampai 2017, yang komprehensif dan realistis. Sehingga mampu mempertahankan dan meningkatkan produksi migas Blok Mahakam dalam rangka menjaga ketahanan energi dan mendukung terbentuknya kedaulatan energi nasional. Ini yang pensiunan Pertamina tuntut. Dan sangat mungkin, dituntut pula oleh rakyat Indonesia. Demi bangsa dan negara, khususnya eksistensi Pertamina. Dirut Pertamina Dwi Soetjipto wajib melaksanakannya,” pungkasnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.