Kamis, 24 September 20

Persoalan Ketahanan Pangan di Indonesia: Sebuah Solusi Islami (Bagian VI – Selesai)

Persoalan Ketahanan Pangan di Indonesia: Sebuah Solusi Islami (Bagian VI – Selesai)
* Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Prof. Dr. U. Maman Kh., S.S., M. Si,  Guru Besar Sosial Ekonomi Pertanian Program Magister Agribisnis FST UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Umar bin Khaththab memelihara sustainabilitas Khaibar sebagai sentra pangan dan mempertahankannya sebagai lahan milik negara.

Umar menolak permintaan Ali bin Abi Thalib agar lahan peninggalan Yahudi itu diwariskan kepada keturunan Nabi SAW.

Demikian model penyediaan pangan yang dicontohkan Rasulullah SAW  di tanah Khaibar. Lalu negara juga akan mengontrol penyediaan pangan yang berasal dari tanah milik negara. Umar menolak membagikan lahan pertanian subur as-sawad, bahkan dia menarik kembali bagian dari lahan tersebut yang pernah diberikan kepada keluarga al-Bahili dengan memberikan konvensasi sebanyak 80 dinar. Negara mengelola tanah milik negara, salah satunya untuk menyediakan sentra pangan.

 

Baca juga:

Persoalan Ketahanan Pangan di Indonesia: Sebuah Solusi Islami (Bagian V)

Persoalan Ketahanan Pangan di Indonesia: Sebuah Solusi Islami (Bagian IV)

Persoalan Ketahanan Pangan di Indonesia: Sebuah Solusi Islami (Bagian III)

Persoalan Ketahanan Pangan di Indonesia: Sebuah Solusi Islami (Bagian II)

Persoalan Ketahanan Pangan di Indonesia: Sebuah Solusi Islami (Bagian I)

Keseimbangan antara pangan yang dihasilkan individu dan sentra pangan milik negara akan menimbulkan keseimbangan harga pangan, tanpa perlunya HPP. Sebaliknya dalam Islam terdapat larangan penetapan HPP (tas’ir) dan juga melarang penumpukan barang untuk mempermainkan harga (ihtikar), walaupun sesunngguhnya tidak mungkin terjadi ihtikar jika lalu lintas barang dan jasa terjadi secara normal.

Demikianlah, sistem Islam akan menancapkan fondasi yang kuat bagi kemandirian pangan. Secara praktis, setiap wilayah diharapkan akan membentuk sentra pangan yang berasal dari lahan milik negara sebagai bagian dari rencana peruntukan lahan, serta melengkapinya dengan kelembagaan untuk melakukan kerja sama dengan petani serta mendistribusikannya kepada masyarakat. Impor pangan sampai batas tertentu diperbolehkan, tapi hendaknya tidak mengakibatkan ketergantungan pada produk import dan tidak mengakibatkan hancurnya ekonomi dalam negeri.

Daftar Rujukan

Ajjaj al-Karmi, H.A., 2012. Al-Idaroh fi ishril Rasulillah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, Edisi Bahasa Indonesia, terjemahan Utsman Zahid as-Sidany, Bogor: Pustaka Thoriqul Izzah.

Al-Muafiri, Abu Muhammad Abu Al-Malik bin Hisyam, 2003. Siroh Nabawiyyah Ibnu Hisyam, Edisi Bahasa Indonesia, terjemahan Fadhli Bahri, Jakarta: Darul Falah.

Basri, Faisal Hasan, “Lampu Kuning Import-Pangan,” dalam https://faisalbasri.com/2020/05/25/ lampu-kuning-impor-pangan

BPS, 2020, Data Impor Beras 2000-2019 dalam https://www.bps.go.id/statictable/2014/09/08/1043/ impor-beras-menurut-negara-asal-utama-2000-2019.html

BPS. 2018. Hasil Survai Antar Sensus Pertanian 2018, BPS, Jakarta, Indonesia

Chalil, Zaki Fuad, 2009, Pemerataan Distrinusi Kekayaan dalam Ekonomi Islam, Jakarta, Penerbit Erlangga

The Economist, 2015, Global Food Security Index 2015: An assessment of food affordability, availability and quality: A report from the economist intelligence unit.

The Economist, 2016, Global Food Security Index 2016: An assessment of food affordability, availability and quality: A report from the economist intelligence unit

The Economist, 2017, Global Food Security Index 2017: Measuring Food Security and The Impact of Resource Risks. A Report from The Economist Intelligent Unit.

The Economist, 2018, Global Food Security Index 2018: Building Resilience in the Face Rising of Food Security Risk. A Report from The Economist Intelligent Unit

The Economist, 2019, Global Food Security Index 2019: Strengthening food systems and the environment through innovation and investment. A Report from The Economist Intelligent Unit

Dwipradnyana, I Made Mahadi. “The Factors Influenced Agricultural Land Conversion and Its Impact to the Farmer Welfare: Case Study of Subak Jadi, Sub-District Kediri, Tabanan,” Denpasar, Bali: Thesis of Agribusiness Magister Program, Udayana University, 2014.

FAO, IFAD and WFP. The State of Food Insecurity in the World: Strengthening the Enabling Environment for Food Security and Nutrition, Rome: FAO, 2014.

Garcia, Manual B., Sociology of Development: Perspective and Issues, Metro Manila, Philippines: National Book Store., 1985.

Handayanti, B., 2016. Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Minat Bertani di Kecamatan Warung Kondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jakarta: Skripsi FST UIN Jakarta)

Irawan, Bambang. “Wetland Conversion: The Impact Potential, Beneficiary Pattern, and Determinant Factor,” Agro-Economic Research Forum (Vol 23 No. 1, Juli 2005)

Krisnamurthi, Bayu. “Agricultural  Revitalization: The Consequence of History and The Future Requirement,” in Bayu Krisnamurthi et.al. (ed.), Agricultural Revitalization and Civilization Dialogue, Jakarta: Kompas, 2006.

Maman, Ujang, 2017, “Al-Musaqoh and Sharia Agribusiness System: An Alternative Way to Meet Food Self-Sufficiency in Contemporary Indonesia, Hunafa: Jurnal Studia Islamika Vo. 14(2)

Maman, Ujang, 2018, From Single to Dual System: Initiating the Model of Wet Rice Field

Management to Optimize Staple Food Availability, Journal of Engineering and Applied Sciences Vol. 13(21): 9259-9268

Muslim, Muallim, 2017, Pengaruh Persepsi Tentang Status Sosial Ekonomi dan Lingkungan Petani Terhadap Minat Berusaha Tani Padi: Kasus Pemuda Desa Ciwalen, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat (Jakarta: Skripsi FST UIN Jakarta)

PanganNews.Com, 5 Mei 2020

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.