Selasa, 9 Maret 21

Persaingan Rezim, Dampak Gugatan Supersemar

Persaingan Rezim, Dampak Gugatan Supersemar
* FOTO: ist

Semarang, Obsessionnews – Gugatan pemerintah kepada Yayasan Supersemar milik mantan Presiden Soeharto yang telah diputus Mahkamah Agung beberapa waktu lalu menuai kecaman pihak keluarga. Salah satu yang gencar mengkritik, anak lelaki dari presiden rezim Orde Baru, Hutomo Mandala Putra.

Dalam akun facebook-nya, Tommy sapaan akrab putra sulung presiden Soeharto, malah mengaitkan permasalahan tersebut dengan persaingan rezim sebelumnya. Tentu yang dimaksud adalah era Soekarno yang sekarang sang anak, Megawati Soekarnoputri memegang kunci pemerintahan.

“Ternyata tuntut warisan, hemm, bagaimana dengan warisan Orde Lama tentang paham yang salah..? Tentang ttd kontrak dengan pemerintah AS?.. Keluarga kami tidak pernah mengungkit masalah Rezim sebelumnya, ajaib nya justru orang Rezim sebelumnya yang berusaha menghembuskan konflik,” terang dia dalam laman resmi akun Tommy.

Tommy-1

Pangeran Cendana ini bahkan sempat menyindir, kegagalan MA dalam penulisan nominal gugatan senilai Rp 4.389 triliun. “Sekelas MA berdalih salah ketik, sebenarnya yang duduk di bangku MA itu orang2 paham baca tulis atau tidak, semakin kocak saja :),” ungkapnya.

Perang rezim semakin terasa saat kicauan Tommy mengarah pada sindiran presiden Soekarno yang pernah mendaulat diri sebagai presiden seumur hidup. “Beasiswa Supersemar itu untuk membiayai putra putri tanah air, bukan membiayai komunis, apa itu yang membuat keberatan?” tutur pencetus Parsindo itu.

Kasus Yayasan Supersemar bermula pada Juli 2007 saat Kejaksaan Agung mencium dugaan penyelewengan dana atas pemberian pinjaman untuk mendapatkan keuntungan. Pengalihan dana yayasan ke pihak lain tersebut dinilai melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1976 yang mengatur tentang Badan Usaha Milik Negara menyisihkan lima persen dari laba bersih untuk Yayasan Supersemar.

Tommy-2

Kejagung menilai pengalihan tersebut sebagai perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Soeharto pun digugat karena dirinya sebagai Pembina Yayasan Supersemar beserta yayasan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam gugatan, Soeharto dan Yayasan Supersemar dituduh menyelewengkan uang Yayasan sebesar US$ 420 juta dan Rp 185 miliar plus ganti rugi imateriil sebesar Rp10 triliun.

Hingga kemudian pada 19 Februari 2009, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memutus Yayasan Supersemar wajib membayar kerugian negara senilai US$105.000.727,66 dan Rp46.479.512.226,187. (Yusuf IH)

Tommy-3

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.