Rabu, 30 September 20

Persaingan Cari Kerja Mahasiswa Hong Kong vs China Makin Sengit!

Persaingan Cari Kerja Mahasiswa Hong Kong vs China Makin Sengit!
* situasi kota di Hong Kong (BBC)

Anak muda/mahasiswa di Hong Kong berjuang untuk menghadapi tiga tantangan besar perekonomian: upah yang tidak meningkat, pasar lowongan pekerjaan yang semakin kompetitif, dan harga properti yang semakin tinggi.

Persaingan untuk mendapat kursi di kampus-kampus ternama Hong Kong sangatlah ketat. Akan tetapi, meskipun berhasil mendapat tempat dan lulus, pekerjaan yang baik atau penghasilan yang stabil belum tentu didapat.

Selain itu, persaingan mahasiswa Hong Kong dengan mahasiswa Cina untuk mendapat pekerjaan pun semakin sengit.

Chan Wai Keung, dosen di Politeknik Hong Kong, mengatakan bahwa pada 1990-an, gaji awal bagi mahasiswa yang baru lulus berkisar di angka HK$25 ribu (Rp45 juta). Sekarang, angka itu mungkin ada di kisaran HK$28 ribu.

Chan menerbitkan sebuah laporan yang mengamati tingkat pertumbuhan upah dan biaya hidup bagi anak muda Hong Kong selama 30 tahun terakhir.

Ia menemukan bahwa sementara angka pertumbuhan upah stagnan, harga properti telah meningkat sepuluh kali lipat.

“Program pendidikan kita ketinggalan zaman,” ungkap Chan kepada saya. “Perekonomian kita didominasi oleh segelintir keluarga yang berkuasa, yang menghasilkan banyak uang dari pasar properti. Mereka enggan berinvestasi di industri teknologi tinggi atau ide-ide inovatif.

“Pemerintah kami hanya mengatakan bahwa mereka mendukung pengembangan industri teknologi tinggi. (Tetapi) bahkan jika anak-anak muda ingin mencemplungkan diri ke industri baru itu, tidak banyak kesempatan yang terbuka bagi mereka.”

Harga rumah kemahalan
Prospek pekerjaan yang suram itu berarti hal-hal seperti membeli rumah menjadi sesuatu yang sulit digapai orang Hong Kong, kecuali bagi sebagian kecil yang beruntung – seperti Karidie Chow.

Sebagai karyawan perusahaan teknologi internasional di kota tersebut, Karidie meminjam uang ibunya untuk membeli rumah susun bagi ia dan saudara laki-lakinya.

“Cukup sulit untuk punya rumah di Hong Kong dan harga apartemen pun (terus-menerus) meningkat selama beberapa tahun terakhir,” ujarnya kepada saya. “Itu sebabnya kami memilih untuk membeli rumah susun tahun ini, karena harganya akan terus naik.”

Rumah susun itu membuatnya mengeluarkan uang hingga AS$500 ribu (Rp7 miliar), dengan luasan sekitar 25 meter persegi.

Ia, adik laki-laki dan kekasihnya akan tinggal bersama – sesuatu yang lumrah dilakukan karena mahalnya harga properti di sana.

Hong Kong adalah salah satu tempat paling mahal di dunia untuk membeli rumah, menurut Indeks Gelembung Real Estat UBS.

Berbagai harga berlipat ganda sejak tahun 2008, dan menurut departemen Sensus dan Statistik Hong Kong, hanya kurang dari separuh rumah tangga di Hong Kong yang memiliki hunian mereka sendiri di tahun 2017, terendah dalam 20 tahun terakhir.

Kompleks hunian publik seharusnya menjadi solusi, akan tetapi keberadaannya tidak mencukupi.

Sebagian masalahnya yaitu karena pengembang properti yang memegang lahan tak terpakai tidak diberi insentif untuk membangun hunian publik.

Jika mereka mengembangkan (lahan itu) menjadi kompleks hunian swasta, mereka akan menjualnya dengan harga sepuluh kali lipat,” ujar Stanley Wong, mantan pemimpin Satuan Tugas Penyediaan Lahan Hong Kong, kepada saya.

“Untuk penyewaan hunian publik – mereka akan menurunkan keuntungan mereka hingga lima kali lipat. Penyediaan lahan di negara mana pun merupakan tanggung jawab pemerintah.

“Saya harus mengatakan bahwa selama 10-15 tahun terakhir, pemerintah tidak cukup tegas untuk memastikan bahwa kami akan memenuhi ketersediaan lahan untuk jangka menengah.” (*/BBC Magazine)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.