Kamis, 11 Agustus 22

Permainan Catur Cerdik Megawati di Pilkada DKI Jakarta

Permainan Catur Cerdik Megawati di Pilkada DKI Jakarta

Oleh: Sansulung Darsum

Mengapa Megawati tak kunjung mengambil keputusan tentang cagub pilihannya untuk pilkada DKI Jakarta 2017? Tampaknya berita seksi di media massa beberapa minggu ke depan masih seputar Ahok dan Megawati.

Megawati dan Ahok.
Megawati dan Ahok.

Ahok sedang menunggu hasil uji ketentuan cuti petahana yang diajukannya kepada Mahkamah Konstitusi (MK) karena dia tidak mau kampanye dalam waktu yang begitu lama. Demikian pula Megawati, juga menunggu hasil pengujian tersebut, selain menunggu kepastian pasangan yang akan diusung oleh Gerindra.

Tujuan Ahok jelas kita ketahui. Tapi, mengapa Megawati harus menunggu hasil sidang MK tersebut juga?

Dalam pengamatan saya (penulis), ada satu pokok penting yang luput dari analisa para peneliti. Hal tersebut adalah faktor pemegang tampuk kepemimpinan Pemerintahan Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta jika Ahok harus cuti selama empat bulan menjelang hari pencoblosan, ditambah dua bulan lagi jika dua putaran.

Tampaknya hal itulah yang menjadi pertimbangan Megawati sebelum mengambil keputusan tentang pilihan cagubnya. Ikut mengusung Ahok atau mengajukan kader potensialnya, yakni Risma?

Faktor Saefullah

Para pengamat sudah mengetahui ke pihak mana “afiliasi politik” Saefullah. Walaupun menjadi pegawai negeri sipil dan Sekretaris Daerah, kita sudah mahfum kedekatannya dengan partai tertentu.

Mari kita petakan. Jika Megawati memutuskan PDI Perjuangan mengusung Ahok dan Djarot, dan jika keputusan MK tetap mengharuskan petahana untuk cuti, maka mereka berdua harus cuti. Siapakah yang memegang tampuk kepemimpinan pemprov sekira setengah tahun tersebut? Saefullah!

Tampaknya Megawati sudah memperhitungkan hal tersebut. Bisa jadi Megawatilah yang mengatur agar Cak Imin melalui PKB DKI Jakarta menyodorkan Saefullah kepada Gerindra. Atau, setidaknya membiarkannya.

Namun, Gerindra juga lihai. Kunjungan Sandiaga Uno ke Balai Kota Pemprov DKI Jakarta beberapa waktu lalu, bisa kita baca sebagai pancingan kepada Megawati agar segera mendeklarasikan Ahok-Djarot. Bisa saja setelah itu, Sandi tidak berpasangan dengan Saefullah, namun membiarkan Saefullah tetap di pemprov. Jika demikian, siapa yang akan diuntungkan?

Jadi, Megawati menunggu hasil uji ketentuan cuti petahana di MK, selain menunggu kepastian pasangan yang akan diajukan oleh Gerindra. Minimal dua hal tersebut patut diperhitungkan oleh Megawati sebelum mengambil keputusan.

Main Dua Kaki

Lalu, bagaimana jika Sandi tidak berpasangan dengan Saefullah, tetapi misalnya dengan Yusril atau Suyoto? Kemungkinan besar Mega akan mengusung Risma-Boy, sehingga tampuk kepemimpinan pemprov bisa dipegang oleh Djarot. Sedangkan, Ahok tetap berpasangan dengan Heru.

Jika hal itu yang terjadi, maka Mega sekaligus bermain 2 kaki. Siapa pun yang menang, Ahok atau Risma, tetaplah Mega menang. Bukankah Ahok sering bilang bahwa dirinya adalah orangnya Mega?

Jika demikian langkah catur yang sedang dijalankan oleh Megawati, maka sebaiknya kader-kader PDI Perjuangan jangan bertindak di luar kehendak Mega sehingga kontraproduktif, seperti ujaran “kambing dibedakin”, koor “Ahok tumbang”, skenario Ahok menjadi cawagub, dan lain-lain.

Sungguh permainan yang cerdik dari catur politik seorang Megawati, yang sudah belajar politik sejak usia remaja dari ayahandanya, Bung Karno.

*) Penulis adalah fasilitator Koalisi Indonesia Hoki (Koinhoki), dan penulis buku “Awaking The Excellent Habit” (Gradien Books, 2006)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.