Sabtu, 29 Januari 22

Perjuangan Presiden di Tengah Sistem yang Korup

Perjuangan Presiden di Tengah Sistem yang Korup

Jakarta, Obsessionnews – Seorang pria asal Minang memenangkan pemilihan presiden, karena dicintai rakyat. Rakyat menaruh harapan besar pada presiden baru untuk membawa negeri ini lebih maju.

Namun, rupanya persoalan di dunia politik tidak sesederhana yang ia sangka, karena ia dikelilingi bermacam kepentingan. Para staf kabinet, para menteri, dan birokrat yang ada di sekitarnya, ternyata membawa kepentingannya masing-masing.

Suatu ketika Presiden pulang ke kampong halamannya, karena ingin bertemu ibunya. Ia disambut meriah oleh warga. Semua bangga. Tetapi, ibunya menyambut dengan biasa dan sederhana.

“Saya sudah jadi Presiden, Mak” katanya.

“Ah, jadi sekarang gelarmu Presiden? Mestinya kalau gelar itu ya mesti panjang, jangan cuma Presiden. Apa hebatnya kalau cuman bergelar Presiden, mestinya kau bergelar Datuk Bagindo Presiden,” kata ibunya.

Dan sejak itulah ia dikenal dengan gelar Datuk Bagindo Presiden.

Saat pulang kampung itulah, Datuk Bagindo Presiden mulai melihat banyak kenyataan pahit. Kampungnya yang masih terbelakang, kemiskinan dan banyak persoalan sosial. Ternyata, selama ini program-program yang dijalankan tidak pernah berhasil karena selalu diselewengkan oleh bawahannya. Maka Presiden pun tak sekedar blusukan, tapi menyamar seperti dulu yang dilakukan Khalifah Umar Bin Khatab: datang langsung ke rakyatnya, menanyakan persoalan hidup mereka, lalu menyelesaikannya. Semua itu dilakukan dengan menyamar.

Apa yang dilakukan Datuk Bagindo Presiden mencemaskan orang-orang di sekelilingnya yang korup. Mereka pun berusaha menghentikan kegiatan menyamar itu, melakukan banyak intrik, agar kegiatan menyamar itu tidak berhasil membantu rakyat.

Mampukah seorang yang jujur dan punya niat tulus seperti Datuk Bagindo Presiden berada di tengah-tengah lingkungan yang korup?

Itulah pertanyaan dasar dari pertunjukan teater dengan lakon Datuk Bagindo Presiden ini, yang mencoba memotret perjuangan moral di tengah sistem dan lingkungan yang telah sedemikian korup.

Pementasan Datuk Bagindo Presiden akan digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat – Sabtu, 28-29 Agustus 2015, mulai pukul 20.00 WIB.

Para pemainnya adalah Lukman Sardi, Nirina Zubir, Ian Antono, Jajang C. Noer, Cak Lontong, Akbar, Trio GAM, Buset, M. Fadhli Wayoik, Titis Silvia, Tomy Bollin, Rancak Voice, Sa’andiko. Sedangkan tim kreatifnya terdiri dari Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Bro Redana. Yaser Arafat dipercaya sebagai penata musik, dan Alfyanto Wajiwa sebagai penata tari. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.