Selasa, 25 Januari 22

Perjalanan Sang Pencerah: KH Ahmad Syafi’i Mufid

Perjalanan Sang Pencerah: KH Ahmad Syafi’i Mufid
* KH Ahmad Syafi'i Mufid. (Foto: Kemenag)

Wahai anak, cucu, isteri dan kerabatku semua! Aku sudah berjuang selama hidupku untuk kebahagiaan kalian. Aku sudah berikan pada kalian banyak hal. Sekarang aku akan pergi menuju Tuhanku. Apa yang bisa kalian berikan wahai keluargaku?”. Ternyata keluarga besar hanya menjawab, “Bapak, kami hanya bisa nengantarmu ke liang kubur saja”.

Demikian petikan dialog spiritual perjalanan hidup pak Syafi’i, yang tertuang dalam buku autobiografinya: ‘Dimulai dari Alif berakhir di Nun’ (halaman 72).

Buku yang terbit menjelang wafatnya beliau, telah menjadi warisan paling berharga bagi para anak, cucu, isteri dan kita semua. Karena dari bacaan setebal 360 halaman itu, disajikan pengalaman sejak masa kecil hingga dewasa dan dalam kondisi terkini. Merefleksikan pengalaman diri bukan pekerjaan mudah, karena tidak terlepas dari kekuatan subyektivitas.

Sebagai penulis ia sudah berupaya menjadi “orang lain” dengan menyebut “Syafi’i bilang, begini dan begitu”. Bagaimanapun itulah retorika beliau, yang tidak sekedar permainan bahasa, tapi merupakan relaksasi perjalanan panjang, dari tahapan terawal ( Alif) hingga yang sekarang (Nun), perjalanan hidup beliau seakan bermetamorfosis layaknya mengaji huruf-huruf hijaiyah agar bisa memahami kitab suci al-Qur’an yang bertuliskan huruf Arab.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.