Kamis, 13 Agustus 20

Perempuan Diperkosa Tentara, Bocah Dijual untuk Prostitusi

Perempuan Diperkosa Tentara, Bocah Dijual untuk Prostitusi
* Etnis minortas muslim Rohingya.

Harusnya penduduk mayoritas suatu negara memberi hak hidup dan perlindungan terhadap warga minoritas. Namun, di Myanmar sebagai negara mayoritas penduduk Budha justru rezim militernya plus ekstrimis Budha melakukan penyiksaan terhadap etnis minortas muslim Rohingya di negara pimpinan Aung San Suu Kyi itu. Bahkan, dilakukan pembunuhan memusnahkan etnis (genosida) muslim Rohingya.

Keterlauan dan biadab! Hingga kini, militer Myanmar masih melakukan serangannya terhadap Muslim Rohingya, meski jauh hari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sudah memberi peringatan terhadap rezim ‘kanibal’ tersebut. AFP melaporkan, pemerintah Myanmar Senin (7/1/2018) menyatakan, militer negara ini memulai operasi militer untuk menumpas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.
Sejak 25 Agustus 2017, terjadi gelombang kekerasan dan serangan baru militer dan ekstremis Budha Myanmar terhadap etnis Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine selama satu setengah tahun lalu telah menewaskan lebih dari 6.000 Muslim Rohingya dan menciderai 8.000 lainnya serta memaksa satu juta lainnya mengungsi.

Perempuan Rohingya diikat ke pohon dan diperkosa, anak-anak dipaksa masuk ke rumah yang dibakar’. Laporan lengkap penyelidikan PBB tentang pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar mendokumentasikan kesaksian adanya “tindak perkosaan yang dilakukan tentara Myanmar terhadap perempuan-perempuan Rohingya”.

 

 

Laporan lengkap -setebal 444 halaman dan dikatakan sebagai laporan terpanjang dalam sejarah PBB- diserahkan ke Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, pada 18 September tahun lalu. Ringkasan laporan tim independen yang dibentuk PBB tersebut diumumkan Agustus. Laporan lengkap PBB mencantumkan kesaksian perempuan-perempuan yang diikat ke pohon dan kemudian diperkosa anggota militer Myanmar.

Para penyelidik PBB mengatakan kasus-kasus perkosaan oleh militer Myanmar, dikenal dengan sebutan Tatmadaw, terjadi sejak 2011 dan meningkat sejak 2016 dan 2017 ketika militer menggelar operasi besar-besaran untuk membalas serangan oleh milisi Rohingya di negara bagian Rakhine pada Agustus 2017.

“Perkosaan dan bentuk-bentuk lain kekerasan seksual dilakukan dalam skala yang masif. Ratusan perempuan dan remaja diperkosa, kadang secara beramai-ramai. Pekosaan beramai-ramai, melibatkan pelaku dan korban dalam jumlah banyak dalam satu insiden, jelas menjadi pola,” kata laporan PBB seperti dilansir BBC, 19 September 2018.

Sejak 700.000 pengungsi minoritas Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar tahun lalu, muncul sejumlah laporan tentang penyerangan seksual yang dilakukan pihak militer Myanmar. Para tentara menangkap para perempuan muslim Rohingya yang melarikan diri. Perempuan-perempuan muslim disekap selama berhari-hari dan diperkosa berkali-kali serta dipukuli oleh tentara Myanmar. Ribuan perempuan Rohingya diserang secara seksual.

Bahkan kelakukan binatang rezim Myanmar tersebut berlanjut, dengan memperdagangkan bocah-bocah perempuan berusia pra-remaja (bawah umur) di beberapa kamp pengungsian Rohingya untuk bisnis prostitusi. Orang-orang asing yang ingin berhubungan seks dapat dengan mudah menemui anak-anak yang melarikan dari konflik di Myanmar.

Sekitar 80% insiden perkosaan yang ditemukan oleh tim penyelidik termasuk perkosaan beramai-ramai. Delapan puluh dua persen dari kasus-kasus perkosaan beramai-ramai tersebut, pelakunya adalah tentara Myanmar. “Ini terjadi setidaknya di 10 desa antara 25 Agustus hingga pertengahan September 2017.” Perempuan dan gadis Rohingya diperkosa, kadang dengan pelaku hingga 10 tentara.

 

Muslim Rohingya

Tim penyelidik PBB mengatakan pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Rohingya dilakukan secara brutal, sering diikuti dengan penyiksaan, baik fisik dan mental. “Sungguh tak bisa dipahami tingkat kebrutalan operasi yang dilakukan Tatmadaw, mereka tak menghormati sama sekali nyawa warga sipil,” kata Marzuki Darusman, mantan jaksa agung Indonesia yang ditunjuk menjadi ketua tim penyelidik PBB.

Marzuki mengatakan skala kekejaman dan kekeasan seksual sistematis tidak diragukan lagi sengaja dilakukan sebagai taktik perang. Tim yang ia pimpin menyimpulkan tindakan militer Myanmar sudah bisa digolongkan sebagai genosida. Selain perkosaan atau perkosaan beramai-ramai tim PBB juga menemukan bentuk-bentuk kekejaman lain yang dilakukan tentara Myanmar, antara lain memaksa anak-anak Rohingya masuk kembali ke rumah yang dibakar.

Anehnya, Pemerintah Myanmar, yang dipimpin peraih hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi (kini dicabut), tidak mengizinkan tim PBB untuk masuk ke Myanmar. Tim PBB mewawancarai setidaknya 875 orang yang menyelamatkan diri dari negara tersebut. Tim menyelidiki tindak kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia oleh militer dan kelompok-kelompok lain di Rakhine dan di beberapa negara lain di Myanmar.

 

 

24.000 Muslim Rohingya Dibunuh
Temuan baru yang dirilis oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario menyebutkan bahwa lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar sejak Agustus 2017. Lebih dari 34.000 Muslim Rohingya dilemparkan ke dalam api dan lebih dari 114.000 lainnya dipukuli. Demikian dilaporkan Farsnews, Ahad (19/8/2018), seperti dilansir ParsToday.

Badan Pembangunan Internasional Ontario juga menyatakan bahwa tentara Myanmar telah memperkosa 17.718 wanita dan gadis Rohingya, dan polisi secara sistematis menargetkan kelompok yang paling teraniaya di dunia ini. Lebih dari 115.000 rumah-rumah Muslim Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dihancurkan. Temuan ini telah menyingkap tingkat brutalitas tentara Myanmar dan perlakuan tidak manusiawi mereka terhadap minoritas Rohingya.

Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 Muslim Rohingya – sebagian besar anak-anak dan perempuan – melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap mereka. PBB telah mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh tentara Myanmar.

 

 

Sekretaris jenderal PBB menyebutkan, militer Myanmar menggunakan kekerasan seksual sebagai alat untuk mengusir umat Muslim Rohingya. Surat kabar The Guardian menulis, Sekjen PBB Antonio Guterres dalam sebuah laporan mengatakan bahwa hampir semua perempuan dan wanita pengungsi Rohingya menanggung beban psikologis akibat kekerasan seksual yang dilakukan tentara Myanmar.

Menurutnya, sejumlah banyak dari 700.000 warga Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar pernah mengalami kekerasan seksual oleh pasukan negara ini di rentang waktu antara Oktober 2016-Agustus 2017. Menurut Guterres, ancaman luas dan penggunaan kekerasan seksual terhadap perempuan Muslim Rohingya merupakan salah satu strategi militer Myanmar untuk menakut-nakuti dan mengusir mereka.

Ia mengatakan, militer Myanmar menggunakan kekerasan seksual sebagai alat untuk memaksa Muslim Rohingya meninggalkan tempat kelahiran mereka dan mencegah mereka untuk pulang. Laporan Sekjen PBB dirilis pasca kembalinya keluarga pertama dari pengungsi Rohingya ke Myanmar pada 14 April 2018.

rumah muslim Rohingya dibakar rezim Myanmar

Organisasi-organisasi HAM dalam berbagai laporannya mengakui terjadinya pemerkosaan dan genosida terhadap Muslim Rohingya, termasuk bayi dan anak-anak, dan menyebutnya sebagai kejahatan kemanusiaan. Sejak 25 Agustus 2017, terjadi gelombang kekerasan dan serangan baru militer dan ekstremis Budha Myanmar terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine. Lebih dari 6.000 orang tewas dan 8.000 lainnya terluka dalam insiden ini. Sementara itu, ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi ke Bangladesh.

Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, aparat keamanan Myanmar sejak Oktober 2016 melakukan pembantaian massal dan penyerangan terhadap Muslim Rohingya. Aparat keamanan Myanmar membantai bayi, anak-anak, perempuan dan manula serta menembaki orang-orang yang melarikan diri.

Di laporan ini disebutkan, aparat keamanan Myanmar juga membakar desa dan melakukan penangkapan besar-besaran, pelecehan serta kekerasan terorganisir. Selain itu, militer Myanmar juga dengan sengaja memusnahkan makanan. Zeid Ra’ad al-Hussein, Komisasris Tinggi PBB untuk HAM di statemennya menjelaskan, kezaliman dan perusakan yang mempengaruhi anak-anak Rohingnya tidak dapat dibayangkan.

Mayat-mayat muslim Rohingya setelah mereka diduga dibunuh. (BBC)

Bakar Mayat Rohingya
Militer Myanmar dan kelompok Budha ekstrim, untuk mengelabui masyarakat internasional, membakar mayat-mayat Muslimin Rohingya guna menghilangkan bukti-bukti kejahatan mereka dalam melakukan pembunuhan massal terhadap Muslimin Rohingya.

Surat kabar Inggris, The Independent, Selasa (5/9) melaporkan, militer dan kelompok Budha ekstrem di Myanmar mengumpulkan mayat-mayat Muslimin dan membakarnya. Mereka berusaha menutupi kejahatan genosidanya terhadap Muslimin Rohingya di negara bagian Rakhine, barat Myanmar dari pengawasan dunia internasional.

Sebelumnya, publikasi sebuah video rekaman baru di negara bagian Rakhine, barat Myanmar, menunjukkan berlanjutnya penjarahan dan perusakan desa-desa Muslim Rohingya di negara bagian itu oleh aparat keamanan Myanmar. IRNA, Rabu (28/3/2018) melaporkan, video rekaman baru yang dipublikasikan menunjukkan, wilayah Maungdaw, Rakhine menjadi sasaran serangan militer Myanmar. Aparat keamanan Myanmar dalam video itu tampak menjarah dan membakar rumah-rumah Muslim Rohingya.

Pemerintah Myanmar melarang para wartawan masuk ke Rakhine untuk meliput perkembangan terkini di wilayah tersebut, namun pembuat video terbaru mengatakan, setelah membayar sejumlah uang yang cukup besar kepada militer Myanmar, secara sembunyi-sembunyi kami berhasil masuk Rakhine dan menyiapkan laporan kejahatan militer Myanmar. Sejumlah organisasi kemanusiaan dunia, beberapa kali mempublikasikan citra satelit yang menunjukkan pembakaran ratusan desa dan rumah Muslim Rohingya oleh militer Myanmar.

Meski dapat peringatan PBB, militer Myanmar masih melanjutkan kejahatannya terhadap Muslim Rohingya dan tetap membakar rumah-rumah etnis tertindas ini. Kantor Berita AFP melaporkan, militer Myanmar Jumat (22/9) membakar rumah Muslim Rohingya dan memaksa sejumlah besar warga Muslim meninggalkan rumah mereka.
Dalam hal ini, kantor penerangan partai berkuasa Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) mengkonfirmasikan ledakan bom di sebuah masjid di Provinsi Rakhine.

Salah satu staf lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) Muslim Rohingya (Arakan) mengatakan, militer Myanmar sejak 25 Agustus lalu menduduki masjid tersebut. Di Provinsi Rakhine Myanmar, ribuan masih menggelandang di jalan atau tinggal di hutan serta gunung di sekitar karena takut terhadap militer Myanmar. Mereka juga tidak memiliki penghasilan. Akibat rezim Myanmar gila, muslim Rohingya tersiksa. Kasihan nasib Muslim Rohinga. Dunia Islam diminta peduliannya! (Red)

Baca Juga:

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.