Kamis, 21 Oktober 21

Percobaan Kudeta Sayap Kanan di Venezuela Harus Dikutuk

Percobaan Kudeta Sayap Kanan di Venezuela Harus Dikutuk

Percobaan Kudeta Sayap Kanan di Venezuela Harus Dikutuk
Oleh: Gede Sandra *)

Republik Bolivarian Venezuela baru saja melalui momen-momen yang genting. Pada 12 Februari 2015, telah terjadi percobaan kudeta yang dilakukan oleh kelompok oposisi sayap kanan terhadap pemerintahan kerakyatan yang dipimpin oleh Presiden Nicolas Maduro. Beruntung akhirnya percobaan kudeta yang dilakukan oleh kelompok oposisi sayap kanan (yang dicap Fasis oleh pemerintah Venezuela) yang didukung oleh oligarki bisnis dan media itu, berhasil digagalkan oleh otoritas berwenang setempat. Percobaan kudeta ini bersamaan waktunya dengan terjadinya resesi ekonomi di Negara kaya minyak asal Amerika Latin tersebut, yang terutama diakibatkan oleh jatuhnya harga minyak mentah di pasar dunia dalam tiga bulan terakhir.

Seperti diberitakan di Telesur TV, saluran televisi internasional yang berbasis di Caracas (Ibukota Venezuela), kelompok oposisi sayap kanan sebenarnya merayakan setahun perjuangan mereka menentang pemerintahan Maduro yang dimulai sejak 12 Februari 2014 lalu dengan aksi turun ke jalan. Sayangnya aksi yang dilakukan kelompok ini ternyata menggunakan kampanye kekerasan, pembunuhan massal, sampai pengeboman lokasi-lokasi strategis di Caracas. Beberapa lokasi yang menjadi sasaran pengeboman tersebut adalah: Istana Miraflores (kantor Presiden), kantor pusat Telesur TV, kantor pusat Intelejen Militer, plaza Venezuela, kantor Kementerian Pertahanan, Kantor Kejaksaan, Kantor Kehakiman, Kantor Dewan Nasional Penyelenggara Pemilu, dan lain-lain.

Perlu diketahui bahwa aksi-aksi kekerasan yang bermotif politik ini sudah dimulai sejak setahun yang lalu di Venezuela, yang telah mengkibatkan: jatuhnya korban jiwa dari masyarakat setempat; terbakarnya fasilitas publik seperti universitas dan alat transportasi massal; terbakarnya kantor pusat PSUV (Partai Persatuan Sosialis Venezuela, yang merupakan partai penguasa); diserangnya kantor pusat Venezolana de Television (stasiun televisi milik pemerintah); terblokirnya jalan-jalan umum oleh batang-batang pohon yang terbakar; dan sebagainya. Percobaan kudeta di Venezuela harus dikutuk oleh dunia internasional karena tidak beradab dan sarat intervensi asing.

“Kelompok oposisi sayap kanan di Venezuela sudah melewati batas karena kabarnya membuat suatu plot untuk membunuh Presiden Maduro dan pejabat-pejabat pemerintahannya jika akhirnya kudeta berhasil. Kita yang masih beradab tentu tidak ingin tragedi kemanusiaan yang menimpa pemimpin Libya Muammar Khadafi beberapa tahun lalu, saat terjadinya Arab Spring, berulang. Kelompok oposisi di Venezuela seharusnya menggunakan saluran demokrasi rakyat –seperti pemilihan umum- yang sudah tersedia dan diakui oleh konstitusi Venezuela, yang tentu akan jauh lebih beradab dibandingkan dengan aksi-aksi vandalisme yang mendatangkan korban jiwa masyarakat tidak berdosa dan rusaknya fasilitas-fasilitas publik yang berharga.”

Hal ini sangat kental tercium aroma intervensi asing, terutama dari Amerika Serikat (AS), pada apa yang terjadi di Venezuela. Karena seperti dilansir oleh teleSUR TV, Ketua Majelis Nasional Venezuela, Diosdado Cabello, beberapa saat setelah kudeta berhasil digagalkan (13/2), menyatakan bahwa gerakan kudeta oleh oposisi sayap kanan ini didanai oleh AS. Cabello juga memastikan bahwa otoritas berwajib Venezuela telah berhasil mengamankan granat-granat, seragam-seragam militer dan Sebin (intelejen), video berdurasi 8 menit yang berisikan deklarasi oleh para perancang kudeta, dan senapan-senapan jenis AR-15. Senapan jenis AR-15 ini tersedia luas secara komersil di AS, yang memang awalnya dikembangkan oleh militer AS.  AR-15 juga telah digunakan dalam berbagai tragedi penembakan massal yang terjadi di AS sendiri, termasuk penembakan Aurora yang menewaskan 12 orang di Colorado pada tahun 2012. Bukti lain dari intervensi AS adalah foto yang menunjukkan kunjungan seorang pejabat AS yang datang mengobservasi persidangan Leopolde Lopez, tokoh oposisi yang didakwa pengadilan Venezuela karena telah mengakibatkan korban jiwa sebanyak 43 orang dalam suatu aksi politik yang menjurus kekerasan tahun lalu.

“Bagaimanapun Washington memang sudah belasan tahun menjadi “musuh” dari Caracas, yang sejak Presiden George W. Bush selalu menentang berbagai program ekonomi-politik anti-neoliberal yang diterapkan Venezuela sejak masa mendiang Presiden Hugo Chavez. Pada tahun 2002 sebenarnya juga pernah terjadi kudeta oleh sayap kanan yang mewakili oligarki bisnis dan media Venezuela -yang sangat pro Washington- terhadap Presiden Chavez. Saat itu Presiden Chavez bahkan sudah berhasil diculik dan dilarikan ke sebuah pulau oleh militer sayap kanan, hanya saja berkat kekuatan rakyat lah yang bahu membahu dengan militer yang pro terhadap Chavez akhirnya mantan Kolonel yang dikenal dekat dengan Fidel Castro ini berhasil dipulangkan dan ditempatkan kembali ke Istana Miraflores. Dan pemimpin kudeta sekaligus presiden sementara paska Chavez diculik, yang juga merupakan taipan media setempat, Pedro Carmona, akhirnya melarikan diri dengan pesawat pribadinya ke AS. Rekaman kejadian yang dramatis ini dapat disaksikan selengkapnya pada film dokumenter ‘Revolution Will Not Be Televised’ (2003) karya Kim Bartley dan Donnacha O’Brian.” [#]

*) Gede Sandra – Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (ITB), mantan Aktivis ITB yang tamat Sarjana Teknik ITB dan Master Ekonomi UI, serta Dosen Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta.

Related posts