Rabu, 17 Agustus 22

Perbedaan Upah Harian Buruh Zaman Kolonial dan Hari ini Hanya 1 Kg Beras

Perbedaan Upah Harian Buruh Zaman Kolonial dan Hari ini Hanya 1 Kg Beras
* Pidato Jumhur pada Musda III Federasi Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan KSPSI di Padang. (Ist)

Jakarta, Obsessionnewd.com – Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Moh Jumhur Hidayat menyatakan perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh tidak boleh mengendur karena kesejahteraan pekerja masih jauh dari harapan.

Hal itu disampaikan Jumhur saat memberi sambutan pada Musyawarah Daerah III Federasi Serikat Pekerja Pertanian dan Perkebunan KSPSI di Padang, Sumatera Barat, pada Sabtu (12/3/2022).

Sebagai contoh ia menjelaskan bahwa saat Pidato Pembelaan di Depan Pengadilan Landraad di Bandung tahun 1930, Bung Karno menyatakan prihatin karena upah buruh harian saat itu hanya sekitar 45 Sen Gulden padahal harga beras saat itu 7 Sen. Ini artinya upah buruh hanya bisa membeli sekitar 6 kg beras.

“Di Sumatera Barat ini dengan UMP sekitar Rp2,5 juta per bulan artinya hanya dapat membeli 7 kg beras per harinya. Ini lebih baik bila dibanding dengan UMP di Jawa yang bahkan masih sama dengan upah jaman kolonial,” ungkap Jumhur.

“Saat ini upah pekerja yang dibayar dengan UMP di kebanyak wilayah di Indonesia hanya mampu membeli sekitar 7-8 kg beras saja,” tambahnya.

Fakta ini, lanjut Jumhur, tentu menyedihkan. Karena itu Jumhur menghimbau para pengusaha agar jangan serta merta menggunakan alasan aturan baru Omnibuslaw sehingga mengurangi kesejahteraan buruh.

“Perjanjian Kerja Bersama yang sudah bagus jangan diturunkan standar kesejahteraannya dengan alasan dibolehkan oleh UU Omnibuslaw,” tegas Jumhur disambut antusias oleh peserta Musda.

Ketua Umum serikat pekerja terbesar se-Indonesia ini juga menyatakan bahwa instrumen redistribusi yang paling efektif bagi bangsa ada dengan tidak memberi upah rendah pada buruh.

“Buruh kalau dapat upah layak kan tidak disimpan di Singapura, tapi dibelanjakan untuk keperluan sehari-hari sehingga kegiatan produksi di tanah air juga akan tumbuh,” ungkapnya bersemangat.

Dalam kesempatan itu pula Jumhur menjelaskan bahwa pemimpin buruh harus terus bersuara menyampaikan aspirasi anggotanya yaitu menolak UU Omnibuslaw Cipta Kerja yang sudah dinyatakan Inkonstitisional oleh Mahkamah Konstitusi tersebut.

Untuk menyemangati gerakan buruh di Sumatera Barat ini Jumhur mengutip Bung Hatta mengatakan  “Hari siang bukan karena ayam berkokok, akan tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang. Begitu juga dengan pergerakan rakyat. Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan,” tandas Jumhur, mantan Aktivis ITB yang pernah dipenjara rezim orba di LP Nusakambangan. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.