Kamis, 22 Oktober 20

Perbedaan Budaya, Jokowi Tolak Lockdown Seperti Dilakukan Negara Luar

Perbedaan Budaya, Jokowi Tolak Lockdown Seperti Dilakukan Negara Luar
* Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Foto: dok Istana Kepresidenan)

Jakarta, Obsessionnews.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan alasan mengapa pemerintah RI tidak memberlakukan kebijakan lockdown atau isolasi wilayah dalam menghadapi pandemi Covid-19, seperti yang diterapkan negara-negara lain di dunia. Salah satu alasan yang mendasar, menurut Jokowi karena masyarakat Indonesia memiliki karakter dan budaya yang berbeda dengan negara-negara luar.

“Perlu saya sampaikan bahwa setiap negara memiliki karakter yang berbeda-beda, memiliki budaya yang berbeda, memiliki kedisiplinan yang berbeda-beda. Oleh karena itu kita tidak memilih jalan itu (lockdown),” kata Jokowi saat rapat dengan gubernur seluruh Indonesia lewat video conference dari Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Jokowi mengaku sudah mempelajari hal ini matang-matang dengan melakukan analisis terhadap kebijakan semua negara yang terjangkit Covid-19. Bahkan Kepala Negara secara rutin menerima laporan terkait kebijakan tiap negara dalam menghadapi pandemi ini dari Kementerian Luar Negeri.

“Sehingga negara kita yang paling pas adalah physical distancing, menjaga jarak aman, itu yang paling penting. Kalau itu yang bisa kita lakukan saya yakin bahwa kita bisa mencegah penyebaran covid 19 ini,” kata Jokowi.

Oleh karena itu, Jokowi juga meminta pemda mengawal betul kebijakan physical distancing ini. Ia meminta pemda memastikan kesehatan masyarakat menjadi yang utama, namun sekaligus memastikan ekonomi tetap terjaga.

Seorang pakar darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, negara-negara di seluruh dunia tidak bisa begitu saja menerapkan lockdown menghalangi virus Corona. Pejabat WHO itu menambahkan, ada banyak langkah kesehatan masyarakat yang harus diterapkan untuk menghindari kebangkitan virus di kemudian hari.

“Yang harus kita fokuskan adalah menemukan pasien Covid-19, mereka yang memiliki virus dan mengisolasi mereka. Kemudian menemukan orang yang telah kontak dengan mereka (pasien positif Covid-19) dan mengisolasi mereka,” kata Mike Ryan dilansir Reuters, Minggu (22/3/2020).

“Bahayanya lockdown adalah, jika kita tidak menerapkan langkah kesehatan masyarakat yang kuat, ketika aturan pembatasan gerak dan lockdown dihentikan, maka bahaya penyakit akan muncul lagi,” imbuh dia.

Sebagian besar Eropa dan AS mengikuti China dan negara-negasa Asia lainnya melakukan lockdown untuk melawan virus corona baru.

Semua orang diminta bekerja dan belajar dari rumah. Semua sekolah, restoran, dan tempat hiburan ditutup

Ryan berkata, kasus di China, Singapura, dan Korea Selatan yang menggalakkan pengujian pada setiap kemungkinan pasien Covid-19 telah berhasil menekan angka pertumbuhan khusus. Kini justru Eropa yang menggantikan posisi Asia sebagai pusat pandemi.

“Setelah kami menekan transmisi, kami harus mencari virusnya. Kita harus berjuang melawan virus,” tegas Ryan.

Italia saat ini adalah negara yang paling parah terkena virus SARS-CoV-2 di seluruh dunia. Hingga Senin (23/3/2020) siang, jumlah terinfeksi di negara itu adalah 59.138 orang dan total kematian 5.476 orang.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah memperingatkan bahwa sistem kesehatan di Inggris bisa kewalahan menangani pasien Covid-19. Tugas tenaga medis dapat menjadi ringan jika kita menghindari interaksi sosial atau melakukan social distancing. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.