Rabu, 25 November 20

Peran Intelijen dalam Mitigasi Ancaman Wabah Penyakit

Peran Intelijen dalam Mitigasi Ancaman Wabah Penyakit
* Isroil Samihardjo. (ist)

Konferensi HLS (Homelend Security) yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Polri (Densus 88, Gegana Polri, Detasemen Kimia Biologi Radiologi Brimob), Kemenkumham, Ditjen Imigrasi, BNPT, BNN, dan Kajian Stratejik UI menampilkan para pakar teroris dari dalam negeri juga diikuti oleh pakar keamanan dan teror dari State Louisiana University, US State Department of Justice serta beberapa pakar dari Slovakia, Inggris dan Singapura.

Paralel dengan HLS juga diselenggarakan Konferensi Nubika yang dimotori oleh Majalah Nubika CBRNe World dari Inggris. Ada hal yang menarik dari Konferensi HLS (Homeland Security) yang diselenggarakan dua tahunan di Balai Sidang (JCC) Jakarta 4 – 6 Maret 2020.

Pada sesi terakhir, Jumat (6/3), ditampilkan presentasi yang cukup menarik dengan judul “The Role of Intelligence on Mitigating Threat of Outbreak of Disease” (Peran Intelijen dalam Mitigasi Ancaman Wabah Penyakit) yang disampaikan oleh Isroil Samihardjo, Dosen Tetap STIN (Sekolah Tinggi Intelijen Negara 2017 – sekarang), yang juga alumni Fakultas Bioliogi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto angkatan 1979, ungkap Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein, M.Hum.

Berikut bincang-bincang Einstein dengan alumni Master of Defence Studies, Australian Defence Force Academy, Canbera Australia Drs.Isroil Samihardjo,M.Def.Stud, yang sehari-harinya akrab dipanggil dengan Isro. Saat ini Isro sedang menyelesaikan Program Doktor Ilmu Manajemen SDM UNJ.

Dari penelusuran dijital, ternyata Isro pernah menjadi salah satu direktur yang khusus menangani Nubika (Nuklir, Biologi, dan Kimia) di BIN pada 2006 – 2013. Pada tahun 2008, bersama Menteri Kesehatan kala itu (Siti Fadilah), Isro menyatakan bahwa Virus Flu Burung adalah merupakan salah satu senjata biologi.

Menurut Isro, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah penyakit Covid-19 ini juga merupakan senjata biologi? Isro tidak pernah menyatakan bahwa Covid-19 adalah senjata biologi. Isro hanya mempertanyakan apakah penyakit Covid ini merupakan wabah alami atau bukan.

Isro menjelaskan bahwa menurut WHO sendiri wabah penyakit selain digolongkan sebagai wabah alami (natural occurrence), dapat pula disebabkan oleh karena lolosnya pathogen (organisme berbahaya) dari laboratotium (accidental release), atau karena adanya kesengajaan oleh pihak-pihak tertentu (deliberate use of biological agent).

Mantan Wakil Ketua STIN (2013 – 2017) Isro menjelaskan bahwa saat ini intelijen telah dibekali dengan UU 17/2011 tentang Intelijen Negara yang secara eksplisit menyatakan bahwa peran intelijen adalah “melakukan upaya, pekerjaan, kegiatan, dan tindakan (UPKT) untuk deteksi dini dan peringatan dini dalam rangka pencegahan, penangkalan, dan penanggulangan terhadap setiap hakikat ancaman yang mungkin timbul dan mengancam kepentingan dan keamanan nasional”.

Lebih lanjut, menurut Isro bahwa UU tersebut, ancaman adalah setiap UPKT, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang dinilai dan/atau dibuktikan dapat membahayakan keselamatan bangsa, keamanan, kedaulatan, keutuhan wilayah, dan kepentingan nasional di berbagai aspek, baik ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pertahanan dan keamanan.

Isro memaparkan, BIN telah melakukan upaya dengan sangat baik dengan melakukan fungsi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan secara aktif. Upaya tersebut memang tidak sepenuhnya nampak karena bukan hanya dilakukan secara terbuka namun juga secara tertutup dan berjenjang.

Mantan peneliti Biodefence di Kemenhan (1985 – 2006) ini menganggap koordinasi penanganan Covid-19 di Indonesia telah berjalan sangat efektif terutama dalam membangun jaringan dengan seluruh pihak yang terkait, karena isu utama dari Covid-19 adalah bukan virusnya tetapi pola epidemiologinya dengan melacak penyebarannya.

Epidemiologi merupakan landasan kesehatan masyarakat yang meliputi kajian dan analisis tentang pola penyebaran (siapa, kapan dan dimana) serta kondisi populasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kajian dan analisis ini tidak bisa dilakukan hanya oleh satu institusi saja namun harus melibatkan semua pemangku kepentingan termasuk intelijen, kata Isro yang saat ini sebagai Ketua Komisi-1 Dewan Riset Pemprov DKI Jakarta. (Red)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.