Selasa, 14 Juli 20

Peran Humas Pengaruhi Citra dan Reputasi Bangsa

Peran Humas Pengaruhi Citra dan Reputasi Bangsa

Jakarta – Persaingan global akan menekan peran public relation (PR) untuk berkontribusi lebih jika ingin membangun citra Indonesia ke pentas Global. “Terutama dalam era kepemimpinan nasional saat ini perlu satu suara guna mentranformasikan model komunikasi yang perlu diyakini masyarakat,” ungkap Guru besar UI Prof. Hikmahanto Juwana dalam forum diskusi seminar nasional, Selasa (16/12), di Hotel Le Merdien, Jakarta.

Dalam seminar yang bertema Peran Humas dalam Membangun Citra dan Reputasi Bangsa di Indonesia di Pentas Global dalam Era Transformasi Kepemimpinan Nasional ini, Hikmahanto menegakan, prespektif tersebut lebih ditekankan pada bela diri dengan poin harus positif dan sebaliknya jika bela diri negatif maka hasilnya akan negatif juga. “Maka peran Humas harus memberikan yang terbaik untuk Indonesia di mata dunia,” tandasnya.

Dalam dunia internasional, menurutnya, masyarakat internasional melihat suatu negara dari citra dan reputasinya maka perlu diketahui bahwa begitu pentingnya citra dan reputasi bangsa. “Reputasi positif itu perlu dibangun melalui kepercayaan pihak usaha membangun dalam berinvestasi, kepercayaan terhadap kualitas barang dan jasa serta kepercayaan agar negara berperan dalam berbagai masalah internasional,” bebernya.

Hikmahanto menyatakan pula pengakuannya terhadap pencitraan SBY selama memerintah. “Saya harus akui bahwa pencitraan SBY selama memimpin berdampak positif pada negara, namun malah peluang ini tidak dimanfaatkan sehingga banyak hal-hal yang positif yang bisa dilakukan di era SBY malah berlalu begitu saja,” tuturnya.

Oleh karena itu, lanjut Hikmahanto, dalam kondisi Indonesia saat ini yang dimana baru melewati transisi kepemimpinan secara demokrasi dan baru memulai roda pemerintahannya jadi akan banyak hal baru yang perlu dikomunikasikan ke negara luar. Peran Humas melalui perhumas ini harus mengkomunikasikan sisi positif dari transisi dan transformasi kepemimpinan.

Isu transisi Indoneaia saat ini, Hikmahanto menjabarkan diantaranya pertama, pelaksanaan kepemimpinan secara demokratis. Kedua, kedewasaan industri semakin menunjukan kedewasaanya, dan ketiga Indonesia telah memiliki mekanisme hukum yang dapat dipercaya ketika terjadi sengketa-sengketa yang tidak diselesaikan dengan baik.

Isu tranformasi kepemimpinan saat ini Hikmahanto memandang lebih pada menekankan orientasi kerja, mendahulukan kepentingan rakyat kelas menengah ke bawah, blusukan sebagai metode memastikan berjalannya kebijakan ditataran yang paling bahwa.

“Saya pikir seorang pemimpin harus memastikan kebijakan itu sampai ke bawah, makanya Jokowi turun ke level bawah itu tujuannya, dimana selama ini banyak kebijakan yang tidak sampai kelevel lapisan masyarakat bawah”, paparnya.

Kemudian isu transformasi kepemimpinan saat ini mengenai komitmen pemerintah Jokowi di kanca internasional untuk mempermudah perizinan tanah bagi investasi. Komitmen terhadap penegakan hukum dan pemberantasan korupsi serta perubahan tafsir politik luar negeri bebas aktif.

“Dalam membangun citra kita kedepan karena Indonesia menganut paham demokrasi maka saya berharap media di Indonesia mengambil peran tidak hanya memuat yang berita kontrovesi saja tapi harus ada berita yang mengedukasi dimana bisa membangun inisiatif masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara”,tegasnya. (Asm)

Related posts