Selasa, 28 September 21

Peran Boy Sadikin dalam Kemenangan Anies-Sandi

Peran Boy Sadikin dalam Kemenangan Anies-Sandi

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute

 

Satu orang yang tak boleh dilupakan jasanya dalam kemenangan Anies-Sandi di Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua adalah Boy Sadikin. Ia putra mantan Gubernur DKI almarhum Ali Sadikin.

Kenapa Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang merupakan basis pendukung Ahok suaranya bisa beralih cukup fantastis ke Anies-Sandi? Jawabannya: Itu karena peran Boy Sadikin.

Boy Sadikin mengundurkan diri dari PDI-P sebenarnya ada pertimbangan yang cukup ideologis. Sebagai Ketua DPD PDI-P DKI dia menentang kebijakan Ketua Fraksi PDI-P DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi yang pro Ahok dalam soal reklamasi Teluk Jakarta.

Maka ketika dia mundur, setidaknya ada tiga DPC PDI-P yang tetap setia dan solid kepada Boy. Celakanya, tiga DPC itu adalah dari Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu. Tiga wilayah yang justru jadi basis pendukung Ahok.

Tanpa mengurangi sarana-sarana dukungan lain kepada Anies-Sandi, faktor Boy Sadikin pastilah ikut menentukan kemenangan Anies-Sandi di tiga wilayah Jakarta itu. Padahal semula timses Anies rada ketar-ketir juga bisa nggak meraup suara di daerah yang jelas-jelas basis Ahok.

Menyimak cerita tadi, saya jadi teringat kisah Perang Bharataydha dalam kitab Mahabarata.

Waktu itu, ketika perang Pandawa dan Kurawa tak bisa dihindarkan lagi. Basudewa Kresna, sepupu Pandawa maupun Kurawa, jadi sasaran perebutan untuk diseret menjadi sekutu dari salah satu kubu.

Kresna, yang sejatinya selain ahli strategi perang, juga punya pengetahuan spiritual yang cukup tinggi, merasa harus adil kepada kedua pihak. Meskipun secara batiniah dia lebih memihak Pandawa. Maka dia mengajukan dua pilihan kepada kedua kubu yang siap perang itu. Pilih salah satu: dirinya atau bala tentaranya.

Karena Kresna tahu karakteristik kedua kubu itu, maka dia sengaja meminta Kurawa dulu untuk memilih. Kurawa karena kecederungannya yang besar egonya dan mengukur segala sesuatu dari segi fisik, mereka memilih bala tentara Kresna.

Diam-diam Kresna senang dan senyum-senyum saja, karena dari pilihannya, takdir akhir perang sudah bisa ditebak sebenarnya. Karena Pandawa, terkesan tak punya pilihan lain kecuali memilih diri Kresna, karena bala tentaranya sudah diambil Kurawa.

Padahal justru faktor Kresnalah yang jadi kunci kemenangan Pandawa kelak. Karena dalam diri Kresna, Pandawa punya ahli strategi dan siasat perang. Sekaligus pandai membaca karakter dan kecenderungan pihak lawan. Termasuk tentunya dalam membaca titik lemah lawan baik secara ketentaraan maupun secara psikologis.

Kalau menelisik riwayat awal, Gerindra kan sebenarnya waktu itu berharap dapat dukungan PDI-P, dengan kesepakatan Sandi jadi wagub dari calon gubernur yang dijagokan PDI-P, tapi bukan Ahok.

Tapi PDI-P tetap bersikukuh mendukung Ahok, yang kemudian menciptakan konstalasi baru. Anies Baswedan masuk arena, bersekutu dengan Sandi dan Gerindra. Sedangkan Boy Sadikin mundur dari PDI-P, dan bergabung dalam timses Anies-Sandi.

Persis kayak kisah Bharataydha. Anies-Sandi yang didukung Gerindra dan PKS, gagal mendapat dukungan dari PDI-P. Tapi dapat dukungan dari Boy Sadikin.

Gagal didukung oleh PDI-P yang ibaratnya adalah bala tentara Kresna, eh malah didukung diri Kresna. Dan diri Kresna itulah yang ikut andil kemenangan Anies-Sandi. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.