Senin, 25 Oktober 21

Peran Bank BRI Sangat Signifikan Wujudkan ‘Nawa Cita’

Peran Bank BRI Sangat Signifikan Wujudkan ‘Nawa Cita’

Naskah: Iqbal Ramdhani, Foto: Istimewa

 

Sepanjang sejarah keberadaanya, Bank BRI berkomitmen pada maksud dan tujuan di awal berdirinya yakni sebagai bank milik pemerintah yang menjadi ujung  tombak perekonomian nasional serta pemerataan pembangunan. Selain itu, Bank BRI juga tanggap beradaptasi dan proaktif merespon perubahan, sehingga mampu bertahan sebagai salah satu bank terdepan di Indonesia sampai saat ini.

 

Era digital telah mengubah banyak hal mulai dari cara berinteraksi personal, menjalankan aktivitas sehari-hari, sampai cara melakukan bisnis. Perubahan-perubahan ini terjadi karena perkembangan teknologi yang terjadi tanpa henti. Bank BRI menyikapi dinamika era digital ini sebagai sebuah peluang untuk berinovasi untuk memberikan layanan yang lebih baik, lebih cepat dan lebih mudah.

 

Bank BRI juga berkomitmen mendukung pemerintah melalui pemberdayaan sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) maupun penyerapan tenaga kerja.

 

Sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bank BRI ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR merupakan inisiasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. KUR Bank BRI ini ditujukan pada sektor pertanian (on farm), perikanan, industri pengolahan, dan sektor perdagangan. Inilah sejatinya peran Bank BRI dalam mendukung program “Nawa Cita” yang menyejahterakan rakyat. Bahkan peran itu sangat signifikan. Betapa tidak, karena upaya untuk menyalurkan KUR menuai sukses.

 

Sekadar catatan, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) mencapai Rp 132,4 triliun. Realisasi tersebut diperoleh selama periode Agustus 2015 hingga Agustus 2017 dan telah disalurkan kepada lebih dari 7,4 juta debitur baru. Jumlah tersebut menjadikan Bank BRI sebagai bank penyalur KUR terbesar di Indonesia, maka dari itu Bank BRI dianggap berhasil dalam menjalankan program pemerintah karena bank ini memiliki jaringan yang sangat luas di penjuru Nusantara, dan bank ini sudah menjangkau masyarakat pedesaan, dimana pelaku KUR sendiri mayoritas adalah masyarakat menengah atau menengah ke bawah.

 

Kehadiran Bank BRI ini tidak hanya berfokus pada program KUR saja, perusahaan yang di naungi oleh BUMN ini juga menjadi penyalur program bantuan sosial non tunai sejak 2016. Bank BRI telah menyalurkan bansos Program Keluarga Harapan (PKH) kepada 166.653 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan nominal Rp 58,2 miliar di 14 kota di luar Pulau

Jawa. Selain bansos PKH, tahun 2017 ini, bank BRI juga akan menyalurkan bantun pangan non tunai, bantuan tersebut akan disalurkan kepada 391.704 KPM dengan nominal Rp 517 miliar di 10 kota di luar Pulau Jawa. Kedua jenis bantuan tersebut dapat dicairkan menggunakan kartu kombo dari Bank BRI yakni KKS-BRI. Selain mendukung Kementerian Sosial untuk penyaluran bantuan sosial, bank BRI juga meneruskan kerja sama serupa yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) menggunakan kartu. Adapun Kartu Indonesia Pintar (KIP) Bank BRI diperuntukkan bagi siswa SD dan SMP seluruh Indonesia penerima dana PIP.

 

 

KIP dalam satu kartu memiliki 3 fasilitas yang berbeda yakni sebagai kartu debit private label, wallet PIP dan Kartu ATM BRI. Sebagai kartu debit private label, KIP bisa digunakan siswa untuk berbelanja kelengkapan sekolah di merchant dan koperasi-koperasi sekolah yang menggunakan di EDC Bank BRI. Dana yang digunakan untuk belanja kelengkapan sekolah berasal dari saldo awal pada wallet PIP sesuai kuota dana PIP yang ditetapkan Kemendikbud.

 

Tidak hanya itu, untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang berada di wilayah kepulauan, Bank BRI membuka kantor layanan di atas kapal. Sistem operasi menggunakan kapal ini adalah bentuk kepedulian Bank BRI kepada masyarakat yang kini memiliki 3 kapal yaitu Teras BRI Kapal Bahetera Seva I yang beroperasi sejak 2015 di Kepulauan Seribu yang melayani enam pulau pada wilayah tersebut, lalu Bahtera Seva II di Laboan Bajo Nusa Tenggara Timur yang melayani sebelas pulau dan Bahtera Seva III beroperasi di Kepulauan Halmahera Selatan yang melayani di sembilan pulau.

 

Layanan di atas kapal ini ternyata tidak hanya sekedar mencari basis nasabah baru tapi ada unsur sosial yang ingin diberikan oleh masyarakat, karena itu di kapal Bahtera Seva III BRI memberikan layanan berupa rumah kreatif di atas kapal. Rumah kreatif ini melayani nasabah dari kalangan UKM.

 

Selain itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Bank BRI untuk mempermudah akses permodalan bagi nelayan, hal itu dimaksudkan sebagai dasar pemberian fasilitas layanan perbankan di bidang penangkapan ikan dalam rangka peningkatan usaha nelayan. Tujuannya untuk mewujudkan edukasi dan layanan perbankan dalam kegiatan penangkapan ikan serta meningkatkan produktivitas kegiatan usaha nelayan. Bank BRI bertanggung jawab untuk memberikan fasilitas layanan perbankan dalam kegiatan penangkapan ikan, diantaranya pembukaan rekening simpanan nelayan dan pemberian Kartu Jaring Nelayan

(KJN), pembukaan rekening simpanan pelaku usaha lainnya, pemberian kredit modal kerja dan investasi kepada nelayan melalui skema Kredit Khusus dan KUR, penyediaan infrastruktur Perbankan berupa Teras BRI Mobile dan Agen BRILINK di pelabuhan perikanan, pembukaan gerai konsultasi dan pelayanan kredit dan fasilitas layanan perbankan lainnya.

 

Tidak hanya itu, Bank BRI juga dinilai dekat dengan rakyat karena memiliki 11 ribu outlet yang tersebar di seluruh wilayah pesisir Indonesia dan telah berhasil dalam pelaksanaan program JARING (Program Jangkau, Sinergi, dan Guideline). Program ini dianggap tepat mengingat kebijakan pemerintah memberantas dalam Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing melalui moratorium perizinan usaha perikanan tangkap untuk kapal ikan eks asing, pelarangan transhipment, dan penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan telah menunjukkan dampak signifikan. Tangkapan nelayan Indonesia meningkat, sementara itu ekspor negara-negara hasil perikanan ke Amerika dan Uni Eropa merosot tajam. Hal ini merupakan peluang besar dan strategis untuk menumbuhkan investasi di sektor kelautan dan perikanan dan kemaritiman agar

Indonesia sebagai poros maritim dunia segera terwujud.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.