Rabu, 12 Agustus 20

Peradaban yang Bertahan

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengarang dan Pengemban Dakwah

 

Ada banyak cara penguasa mengendalikan rakyatnya. Ada yang melakukannya dengan rasa takut, atau dengan kesejahteraan, bisa juga karena visi dan ideology.

Tiap penguasa punya caranya masing-masing untuk membuat rakyatnya tunduk dan patuh pada penguasa, agar pemerintahan stabil dan memberi manfaat yang banyak.

Bagi penguasa yang hanya mementingkan dirinya dan kroninya, kekuasaan adalah alat untuk memperkaya diri, menipu rakyat hingga dia bisa merampok hak-hak rakyatnya.

Dalam sejarah Romawi, ada kaisar yang melakukannya dengan cara yang kasar, ada pula dengan cara yang culas. Misalnya Kaisar Nero, terkenal kasar dan otoriter.

Nero melakukan kezaliman luar biasa, berfoya-foya di atas penderitaan rakyat, gemar berjudi dan berpesta dari pajak dan kekayaan yang dia rampas dari rakyatnya.

Puncaknya saat terjadi kebakaran hebat selama 39 hari di tahun 64 M, Nero malah bernyanyi dan berpesta, padahal rakyatnya hancur lebur. Penguasa yang tak bisa merasa.

Ada pula cara lain, seperti Kaisar Vespasianus. Dia membangun amphitheater terbesar yang kita kenal Colloseum, yang selesai pada masa anaknya, Titus, pada 80 M.

Untuk apakah dibangun megaproyek ini? Melenakan rakyat atas kezaliman Nero, dengan hiburan demi hiburan, agar mereka menjadi buta terhadap ketidakadilan.

Sementara di masyarakat, kerusakan akhlak merajalela, perilaku seks menyimpang mewabah, ilmu dan cendekiawan ditinggal, degradasi peradaban terjadi menuju kehancuran.

Sayangnya saat ini ada penguasa-penguasa yang enggan belajar, bahwa peradaban yang baik bukan dibangun dengan pencitraan apalagi pendekatan kekasaran.

Bila megaproyek seperti Colloseum saja tak bisa selamatkan Romawi dari kehancuran, apalagi hanya model pencitraan seperti sekarang? Tentu lebih hancur lagi.

Harusnya penguasa belajar dari Rasulullah, dan peradaban yang beliau bangun, yang bertahan selama 1300 tahun lebih, dan akan berlanjut sebentar lagi.

Akarnya adalah akidah, batangnya adalah Al-Quran dan Hadits, rimbun kanopinya adalah jihad fii sabilillah. Dan buahnya ialah kebaikan di dunia dan juga di akhirat.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.